
"Apa kamu menerima perasaanku?"
Gea masih belum merespon. Tatapan Bian terlihat bersungguh-sungguh yang artinya pemuda tersebut serius kepadanya.
"Maaf," jawab Gea pada akhirnya. "Aku terkejut kamu menyatakan perasaan padaku. Tapi jujur saja, saat ini aku masih belum menemukan sesuatu yang lebih dari pertemanan kita."
Bian mengukir senyum dia tertawa kemudian, "Astaga! Aku tidak tau mengapa? tapi perbincangan kita jadi canggung karena ini," ujarnya.
Gea bersemburat malu. "Lagipula, kamu yang mulai. Menyatakan perasaan tiba-tiba. Kamu tau sendiri kan aku belum punya pengalaman ditembak oleh cowok!"
"Itu berarti aku yang pertama? Senangnya.."
Gea terdiam. Bian tampak tersanjung karena berpikir dia adalah orang pertama yang mengungkapkan perasaan kepadanya. Seolah Bian adalah orang spesial namun berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Gea.
'Kamu bukanlah yang pertama, Bian.' Gadis itu menatap pemandangan luar hingga mereka turun dari biang lala.
'Aku tidak tau mengapa setelah Bian mengungkapkan perasaan padaku, Gio malah muncul diingatanku?' Gea berbicara dalam hati.
Bian pun masih sama seperti biasanya. Pemuda itu tak mengambil hati atas perkataan Gea tadi. "Tunggu disini, aku akan beli es krim."
Gea menurut. Bian berlari menuju kedai es krim di seberang sana sementara seorang pria diantara kerumunan orang menyita perhatiannya.
"Kacamataku.."
Gea mendekat. Mengetahui pria tersebut adalah Gio Ferraldo dan tampak kesusahan, membuatnya ingin menghampiri.
Desakan orang mengakibatkan dirinya sulit mengambil kacamatanya yang terjatuh.
Gea memungutnya dan memberikan kepada Gio meski ia merasa miris karena sebelah lensa kacamata milik Gio retak.
"Oh, Terima kasih." Gio segera memakainya dan melihat siapa yang membantu dirinya.
'Ini.. Tidak asing...' Gea tidak sekalipun mengalihkan netranya pada Gio. Apa yang ia lakukan barusan, mengingatkannya pada sesuatu yang tidak sengaja ia lupakan.
Flashback
Matahari meninggi. Namun cuaca panas tidak menghentikan semangat anak-anak yang bermain di tanah lapang.
"Bian! Oper padaku!" seru gadis kecil bernama Gea yang mengode Bian untuk mengoper bola ke arahnya.
Bian mengerti dan menuruti keinginan Gea. Anak-anak sekolah dasar itu terlihat antusias dan tak memedulikan bahwa mereka bermain di tanah lapang bukan milik sekolah mereka.
Gea membawa bola menuju gawang. Mata gadis itu menajam sementara teman laki-lakinya yang ada di gawang mulai bersiap menerima tendangannya.
Gea menarik kaki kanannya ke belakang dan mendorong ke depan untuk menendang bola sekuat tenaga.
Bola pun melambung, namun saking kuatnya tendangan Gea, bola itu melewati gawang lalu menuju bangunan yang ada di belakangnya.
Pyarrr!
Bola yang ditendang Gea melesat dan menabrak jendela sekolah SMA ternama.
"Astaga! Apa yang harus kita lakukan!?" teriak salah satu teman Gea kebingungan. Pasalnya, mereka sudah memakai lapangan sekolah tanpa ijin, mengingat SMA yang bersangkutan sedang libur atau tidak ada kegiatan mengajar. Tapi sekarang, mereka malah menambah masalah lagi.
Yaitu memecahkan kaca jendela.
"Tidak perlu dicemaskan. Kita ambil saja bolanya lalu pergi," Bian menyahut enteng.
"Itu tidak bertanggung jawab namanya!" Gea meninggikan suara yang membuat Bian dan temannya lain terbungkam.
"Ini salahku, aku akan mengambil bola kita dulu."
Gadis itu berlari menuju sekolah meninggalkan Bian dan teman-temannya.
Gea memcari ruangan tempat bolanya mendarat. Nafasnya mulai ngos-ngosan selepas memanjat pagar.
Salah satu ruangan terbuka. Gea melihat ke dalam. Ia menemukan bolanya yang rupanya berada di perpustakaan.
Gadis itu mendekat. Ia hendak mengambil bola, namun suara gemerisik mengalihkan perhatiannya.
Seorang laki-laki berkulit putih, bibir merah muda dan begitu bersinar bagai malaikat sedang kebingungan mencari suatu benda.
'Sekarang kan hari libur, mengapa kakak ini ada di sekolah ya?' pikir Gea.
Gea menemukan kacamata di dekat kakinya. Lensanya retak dan Gea merasa bahwa hal itu adalah perbuatannya. Belum lagi kemeja biru terang milik pemuda tersebut yang tampak kotor.
'Apa dia terkena bolaku?' tanya Gea dalam hati.
Gea mengambil kacamata di dekatnya dan menyerahkannya pada pemuda tersebut.
"Ini milik kakak?"
"Iya, terima kasih" pemuda itu memakai kacamatanya meski retak sebelah.
Ia memandang bingung Gea yang mulai bercucuran air mata. "Maaf, sudah merusak kacamata kakak," ucapnya.
Pemuda bernama Gio itu terperanjat. Dia mengusap kepala Gea dan tersenyum. "Sudah jangan menangis. Kakak baik-baik saja kok," sahutnya.
Gea merasa malu. Dia mengusap noda kotor di depan mata Gio. "Pasti bolanya kena kepala kakak. Maafin aku ya kak. Kakak jadi kesakitan."
Gio terkesima. Dia tidak pernah melihat anak kecil semenggemaskan ini sebelumnya. Bahkan mengkhawatirkan Gio yang bukan siapa-siapa dirinya.
"Kakak mengapa ada di sekolah? Sekarang kan hari libur" tanya Gea setelah tangisnya mulai reda. Dia duduk dilantai sambil merangkul bola. Gio pun sama halnya. Dia tidak memedulikan kacamatamya yang retak sehingga penghilatannya kurang jelas ataupun bajunya yang kotor karena ikut duduk di lantai bersama Gea.
"Kakak sedang belajar."
"Sendirian?"
Gio mengangguk.
"Hari libur bukan berarti tidak belajar. Kita bisa menggapai cita-cita jika kita mau berusaha dan belajar adalah jawabannya."
"Kakak punya cita-cita?" Gea bertanya.
"Tentu, Kakak ingin menjadi dokter."
"Benarkah? Semua temanku juga banyak yang memiliki keinginan seperti itu."
"Oh ya?"
Gea mengangguk. "Tapi menurutku itu tidak menyenangkan. Harus belajar ekstra keras untuk jadi seorang dokter karena berhubungan dengan nyawa. Itu pasti menyesakkan, apa kakak tidak merasa bosan dengan buku-buku tebal ataupun hafalan obat dan teori kedokteran yang harus kakak pelajari?"
Gio sedikit kagum. Anak berumur 10 tahun dapat berbicara sebanyak itu. Namun apa yang dikatakan gadis kecil di depannya ini mungkin benar.
"Mengapa kakak tidak coba jadi pengusaha saja?"
Gio menatap Gea lagi.
"Kalau jadi pengusaha kakak tidak perlu menjadi orang pintar." Gea memasang pose berpikir. "Tapi kalau cita-cita kakak adalah dokter, aku juga tidak bisa memaksa." selanjutnya, Gea tertawa.
"Aku juga punya cita-cita!" Gadis itu tersenyum lebar. Menatap Gio sangat antusias sementara Gio dipenuhi tanda tanya.
"Aku ingin jadi seorang ibu yang baik!" serunya.
Gio terkikik geli. Tak habis pikir dengan ucapan Gea. "Kamu ingin jadi ibu yang baik? Tapi menjadi ibu itu bukan cita-cita."
"Kenapa bukan? Kalau aku menikah dengan kakak nanti, aku akan jadi ibu yang baik. Itu adalah cita-cita ku."
Gio terkejut mendengarnya. Dia mengukir senyuman. "Kamu mau nikah sama kakak?" tanyanya.
"Mengapa tidak? Apa kakak tidak menyukaiku?"
"Kakak suka. Kakak amat menyukaimu. Kakak bahkan bersedia jika nanti kamu mau menikah dengan kakak." Gio tertawa. Gadis kecil dihadapannya ini begitu lucu. "Siapa namamu?"
"Namaku.."
"Gea!" anak laki-laki lain memanggil dari belakang dengan nada berteriak. "Kamu lama sekali! Aku khawatir nih!" Bian datang sambil mengomelinya. Menarik lengan Gea untuk berdiri.
"Bian, kakak ini kena lemparan bola aku tadi," Gea bercerita.
"Kamu sih nendangnya kenceng banget! Maafin dia ya kak, dia udah mecahin kaca jendela sama melukai kakak," ucap Bian.
"Tidak apa, kalian tidak perlu takut. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini. Sekarang kalian pulanglah, ini sudah sore."
"Tapi kak, itu kan salahku."
"Kakak ini kan yang bertanggung jawab nanti. Jadi biarkan saja, sekarang ayo pulang, Gea." Bian menarik tangan Gea menjauh.
"Terima kasih kak!" seru mereka berdua. Sebelum benar-benar pergi, Gea sempat menoleh pada Gio sesaat kemudian menampilkan senyum manisnya.
'Aku akan selalu mengingat kakak.'
Flashback end
Gea mengeluarkan air mata. Ingatan yang selama ini terbendung membuatnya menyesal karena tidak menyadarinya sedari awal. "Aku.. Pernah mengatakan itu?.." gumamnya.
'Selama ini aku merasakan detakan yang berbeda tiap kali bertemu dengan Gio. Aku rasa itu hal yang wajar nanun ternyata aku tidak pernah menduga akan bertemu lagi dengannya dalam keadaan seperti ini' batin Gea.
Gio tampak kebingungan. Dia mendekati Gea karena melihat gadis yang dicintainya menangis secara tiba-tiba.
"Gea-"
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengingatmu, ternyata aku telah mengingkarinya selama ini."
Gio menatapnya tidak mengerti.
"Delapan tahun lalu, di perpustakaan, aku tidak sengaja melempar bola kepadamu. Aku juga yang membuat kacamatamu pecah dan rusak waktu itu."
"Gea, kamu.."
"Aku mengingatnya. Bahkan tentang apa yang aku katakan padamu dulu." Pipi Gea bersemu merah. Merasa malu dengan apa yang ingin diungkapkannya. "Aku selalu mencarimu, cupu."
Gio terkejut. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Gea benar-benar sudah mengingat dirinya dan itu merupakan hal yang paling bahagia untuk Gio Ferraldo.
"Syukurlah," Gio lega.
"Ada yang ingin kukatakan lagi," Gea menyela. Ia menggigit bibir mempersiapkan dirinya. Jantungnya semakin terpacu dengan cepat.
"Aku.."
Gio penasaran. Ia berdegup kencang terlebih melihat semburat merah di wajah Gea yang amat kentara.
Terima kasih buat semuanya yang mendukung cerita ini, maaf kalau terkadang aku tidak bisa membalas komentar😭 beribu maaf buat kalian🙏😭 untuk kedepannya aku akan lebih memerhatikan kalian para readers dan juga jalan cerita yang kubuat. Semoga tidak bosan dan tetap setia menunggu. Aku cinta kalian❤️❤️❤️
Ngomong-ngomong, kalian lebih suka sosok Bian sama Gea atau Gio sama Gea? Atau bian sama Gio nya dipasangin author saja? 😌 Balas di komentar ya gaes😂