Amour

Amour
Fourty Four



"Kamu sudah menambahkan gulanya?" Mary bertanya seraya tersenyum.




"Semuanya sudah tercampur dengan sempurna," kata Gea diikuti acungan jempol. Mary tertawa. "Baguslah, aku akan menyiapkan cetakannya dulu."




Sedari pagi, Gea pergi ke rumah orang tua Gio untuk membantu Mary membuat kue. Gea bukan gadis yang telaten. Dia bahkan tidak tahu berapa takaran yang harus ia gunakan untuk membuat satu kue. Beruntung, Mary adalah wanita yang sabar. Dia sudah menyiapkan mangkuk-mangkuk kecil sebagai wadah bahan sehingga Gea tinggal menuangkannya saja serta mencampurnya.





"Anda biasanya melakukannya sendiri?" Gea bertanya ketika mereka berdua sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan.




"Iya, kalau Gio ada waktu dia akan membantu, tapi kalau tidak, aku melakukannya sendiri."




"Dia pasti jago masak karena anda yang mengajarinya."




Mary tertawa. "Sejujurnya, Gio tidak pernah kuajari apapun. Hendry lah yang selalu mengajarinya mulai dari berjalan, berbicara, hingga membaca. Aku tidak pernah ikut campur," jelas Mary.




Alis Gea berkerut. "Tapi Gio jago sekali masak, kalau bukan anda yang mengajari, apakah Paman Hendry yang melakukannya?"




"Suamiku itu tidak bisa memasak. Dia hanya jago memegang pisau bedah, bukan pisau dapur." Mary terkikik geli. "Gio pandai masak karena internet. Dia belajar semuanya disana."




Sontak Gea terdiam. 'Orang yang otaknya encer memang beda ya,' batin Gea miris dengan dirinya sendiri.





"Sekarang tinggal dimasukkan saja di oven."




Mary menaruh cerakan ke dalam oven dan mengatur waktunya.




Ponsel Gea berdering. Gadis itu mengangkatnya, sedikit malas karena mengetahui yang menghubunginya tidak lain adalah Samuel.




"Ada apa?" cetus Gea begitu menerima panggilan.




'Kamu sedang sibuk?'




"Aku sedang membantu bibi Mary membuat kue. Kenapa?"




"Ah tidak.. Hanya bertanya saja, kalau begitu dahhh.."




Samuel mengakhiri panggilan membuat Gea terbengong-bengong akan kelakuannya. "Dasar tidak jelas!" ketus Gea mengesak ponselnya kembali.






✒️✒️✒️






Kue yang dibuat Mary dan Gea pun selesai. Gea nyengir menghirup aroma nya yang harum. "Ngomong-ngomong bi, bibi ada acara apa kok tumben masak banyak?" tanya Gea. Mengetahui Mary juga memasak makanan lainnya seperti sayur, ayam pedas manis dan masih banyak lagi. Seperti orang ada hajatan saja.




"Oh, emm.. Tidak ada. Bibi hanya punya banyak waktu luang. Dan setiap hari bibi memang selalu masak banyak."




"Apakah semua makanan bibi habis setiap hari. Orang normal saja, porsi makannya ga segini banyaknya," komentar Gea.




"Gea tidak tau sih, porsi makannya paman Hendry. Dia bisa menghabiskan satu panci nasi sekali makan." Mary mulai membual mencari alasan.




"Sungguh? Wah aku gak tau paman Hendry makannya seperti orang kuli." Gea merasa kagum, membuat Mary tidak enak mengatakannya.




"Sedang membicarakanku?"




Mary dan Gea menoleh. Pria tegap berkumis tipis memandang mereka berdua seraya melepas dasi.




"Eh, paman sudah pulang?"




"Hari ini aku ijin untuk pulang lebih awal," ceplos Hendry tidak sengaja. "A-Ada urusan. Dan jadwal operasinya juga sudah selesai." lanjut Hendry menghindari Gea memberikan pertanyaan untuknya.




"Wah, kalian masak apa ini?" Hendry mengalihkan topik lewat ekspresi datarnya yang sama sekali tampak aneh di mata Gea.




"Boleh aku cicipi?"




"Silahkan, tapi satu saja," sahut Mary.




"Iya, aku paham."





"Hmmm.. Mencurigakan..."




Perkataan Gea sontak menyebabkan Hendry langsung tersedak. "Uhuk uhuk!!"




Mary yang khawatir, bergegas mengambil air. "Pelan-pelan," ucapnya begitu Hendry meneguknya.




"G-Gea. Sebenarnya, paman ingin kamu ikut paman sebentar"




"Kemana?"




"Membeli kado untuk teman paman."




"Tapi paman kan baru saja pulang."




"Sudah, ayo ikut paman."




Hendry langsung pamit dan mengajak Gea pergi.










"Papa sama Mama kamu tidak ada dirumah?"




Gea mengangguk. "Pada dasarnya mereka juga jarang ada di rumah," jawab Gea jujur.




"Kamu pasti kesepian bukan?"




"Dulu engga, soalnya ada kak Mia, tapi sekarang kak Mia sudah ada kak Alvan."




Hendry mengangguk paham. Dia kembali fokus pada kemudi. "Ngomong-ngomong, Paman ingin tau sesuatu. Paman dengar kamu ingin sekali kuliah. Benarkah itu?"




"Emm, iya." Gea meremat kaosnya. "Maaf, jika aku tidak membicarakannya pada Paman dan Bibi."




"Tidak apa, itu adalah hak kamu. Paman ataupun Bibi tidak akan memaksa apabila pertunangan kalian ditunda. Gio sendiri juga akan melakukan hal yang sama."




Pembicaraan mereka terhenti beberapa detik sebelum akhirnya Gea berkata, "Aku menyukai Gio. Dan aku bersedia untuk menikah dengannya." Hendry terkejut sesaat. "Jika aku memilih keduanya. Untuk melanjutkan pendidikan dan menikah dengan Gio, apakah paman serta Bibi akan keberatan?"




Mendengar pertanyaan Gea, Hendry tersenyum. "Melanjutkan pendidikan itu bagus dan Paman mendukung hal itu. Jadi apa keputusanmu?"




"Aku akan mengambil dua-duanya."







✒️✒️✒️







"Wahhh... Cantiknyaa.." Gea berdecak kagum atas cincin perak berlapis permata dengan desain minimalis di hadapannya. "Kamu suka?" Hendry bertanya.




"Ini sangat indah. Tapi bukankah ini terlihat seperti cincin pernikahan. Terlebih ada dua pasang. Teman paman mau menikah ya?"




"Oh itu.. Ya, dia meminta paman memilihkan cincin yang cocok untuknya. Coba kamu kenakan."




"Tapi paman, ini untuk teman paman. Tidak baik kalau aku mencobanya."




"Tidak apa, paman hanya perlu melihat ukuran jemarimu, sebab tunangan teman paman semuran dan dan kecil sepertimu."




"Paman ih," Gea cemberut ketika Hendry meledeknya. Tapi dia bersedia memasukkan cincin tersebut ke dalam jemarinya. Dan ukurannya benar-benar pas di tangan Gea.




"Baiklah, paman akan ambil ini." Hendry melepas kembali cincin tersebut pada tangan Gea dan mengembalikannya ke pegawai toko. "Seperti yang saya bilang tadi," kata Hendry pada pegawai toko itu. "Saya mengerti," jawab sang pegawai seraya tersenyum malu.



Gea memandang bingung, hingga Hendry menggandeng tangannya dan keluar dari toko perhiasan. "Loh, paman.. Cincinnya tidak diambil?"




"Paman hanya membantu memilihkan saja. Nanti teman paman yang akan mengambilnya sendiri," sahut Hendry dan masuk ke dalam mobil.




"Selanjutnya kita pergi untuk hadiah utama ya?"




"Eh, jadi yang tadi itu bukan hadiah?"




"Hadiah, tapi bukan hadiah yang sebenarnya."




Entah mengapa perasaan Gea sekarang menjadi aneh. Hendry bukan tipe orang yang suka bercanda tapi rasanya Gea seperti dipermainkan olehnya.











Mobil mereka berhenti di salah satu toko busana ternama. Kali ini Gea dibuat terkejut lagi sebab Hendry mengajaknya ke arah toko gaun pernikahan.




Pria itu mengambil banyak sekali rentetan contoh gaun yang kemudian diberikan pada pegawai dan meminta Gea mencoba semua gaun tersebut.




"Paman yakin?" Gea tampak ragu karena gaun yang diambil oleh Hendry adalah gaun mahal semua.




Hendry mengangguk. "Paman tidak bisa membeli kado jika tidak tau ukuran tunangan teman paman. Beruntung paman mengajakmu bukan?"




Gea terdiam. Dia masih takut mencoba gaun-gaun mahal itu, tapi Hendry meyakinkannya dan menyuruhnya untuk segera mencoba.




Gaun demi gaun sudah Gea kenakan dan meminta pendapat di hadapan Hendry. Pria itu melihat sambil memegang ponsel tanpa tahu melakukan video call dengan mengarahkan kamera pada Gea.




"Yang ini bagus dan terlihat cocok," komentar Hendry setelah sekian gaun Gea coba kenakan. "Kita akan ambil yang ini," lanjutnya.




Sang pegawai pun segera membungkus gaun tersebut dan lagi-lagi Hendry berbisik pada sang pegawai lalu pergi tanpa membawa gaun yang tadi ia beli.




"Teman paman yang akan mengambilnya?" tanya Gea.




Hendry mengulas senyum penuh arti. "Iya," jawabnya singkat.




Ponsel Gea berdering, Samuel menelponnya lagi yang membuat Gea malas untuk mengangkatnya.




"Apa?" tanya Gea ketus.




'Gea, apa kamu tau dimana flashdiskku berada? Setelah kamar Gio dibersihkan aku jadi tidak tau dimana benda kecil itu. Kemarin kamu kan yang membersihkan semuanya.'




"Iya, tapi aku tidak melihat flashdisk dimanapun. Lagipula kamu meletakkannya sembarangan. Bisa jadi hilangnya tidak di kamar."




'Bagaimana ini.. Isinya file-file penting, termasuk file perusahaanku dan Gio..'




"Mengapa tidak kamu coba cari saja?"




'Sudah tapi aku tidak menemukannya dan sekarang aku sedang rapat. Jadi..'




"Apa?"




'.. Bisakah kamu mencarikannya?'




Sudah Gea duga, Samuel akan berkata demikian. Namun mengetahui flashdisk itu memuat file yang penting, Gea pun mau tidak mau harus membantunya. "Baiklah, akan kucoba cari."






"Kalau ada maunya saja baru dikasih hadiah" sindir Gea.




'Hehehe.. Maaf.. Kalau begitu semangat dan minta tolong ya..'




"Iya."




Panggilan mereka pun berakhir. Hendry menoleh. "Ada apa?"




"Flashdisk nya Samuel hilang, dan aku harus membantu mencarinya."




"Perlu kuantar?"




"Boleh?"




"Tentu"




Hendry pun segera pergi menuju apartemen Gio. Sesampainya disana tak lupa Gea mengucapkan terima kasih. "Paman ingin sekali membantumu, tapi barusan Mary mengirim pesan agar aku segera pulang. Sepertinya ada urusan mendadak."




"Tidak apa paman. Gea bisa melakukannya sendiri kok. Terima kasih sudah mengantar."




"Sama-sama."




Gea membalikkan badan dan masuk menuju apartemen. "Samuel memang menyebalkan," gerutu Gea hingga lift yang ia naiki berhenti di lantai kamar Gio.




Sesaat Gea menengok kamar sebelah dimana kakaknya tinggal. "Kak Mia bilang, dia lagi pergi liburan sama kak Alvan. Pasti seru banget."




Gea menekan tombol sandi dan membuka pintu.




Betapa terkejutnya kamar Gio yang semula sudah dia bersihkan dengan susah payah, kembali berantakan layaknya kapal pecah.






"SAMUELLL!!!"







✒️✒️✒️







3 jam kemudian..




"Awas saja kamu Sam! Aku tidak akan memaafkanmu!" kesal Gea yang merebahkan diri di kasur stelah berjam-jam membereskan kembali kerusakan yang telah Samuel perbuat.




Kini kamar Gio kembali bersih. Tapi yang membikin Gea pening adalah dia tetap tidak menemukan flashdisk dimanapun. "Sekarang aku harus bagaimana?"




Gea mencoba bangkit dan kembali mencari dibawah kolong yang mungkin belum sempat ia selidiki. Gadis itu menekuk bibirnya sedih. Sampai akhirnya ada seseorang yang memencet bel. Gea berjalan mendekat untuk membuka pintu.




"Siapa?"




Begitu pintu terbuka, sebuah benda kecil berbentuk persegi diletakkan diantara kumpulan bunga mawar dihadapkan tepat di depan matanya.




"Sedang mencari ini?"




Suara familiar yang sudah lama Gea tidak dengar itu entah mengapa membuat matanya terasa panas. Gadis itu mendongak perlahan melihat sosok tampan yang sudah beberapa hari ini tidak ia lihat.





"G-Gio." Gea tampak tidak percaya. Pria tegap itu semakin tampan dengan tampilannya kini yang tanpa memakai kacamata.




"Aku pulang."




Selepas perkataan Gio, Gea menghamburkan dirinya ke dalam pelukan. Membiarkan Gio menggendongnya seperti balita lagi. "Kenapa tidak bilang?" tanya Gea pelan.




"Aku kan ingin membuat kejutan" Gio tertawa dan mememluk Gea erat. Melepas rindu setelah beberapa hari hanya dapat bertemu lewat video call.




"Aku merindukanmu."




"Kamu pikir aku tidak? Aku hampir asma karena tidak melihatmu," sahut Gea yang mengundang gelak tawa Gio. "Maaf, sudah meninggalkanmu sendirian."




"Kamu harus membayarnya. Si Samuel itu menyusahkan sekali ketika kamu tidak ada."




"Baiklah, aku harus membayar dengan apa?"




Wajah Gea memerah. Ia merangkul leger Gio tanpa ingin turun dari gendongannya.




"Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat," jawab Gea pada akhirnya.




Tingkah laku mereka mengundang tatapan orang yang berlalu lalang. Keduanya tidak memedulikan. Baik Gea maupun Gio masih sangat nyaman dengan posisi mereka. Banyak orang yang merasa iri akan hubungan mereka yang romantis, terlebih kebanyakan penghuni apartemen mengetahui sosok Gio Ferraldo. Pria tampan yang digandrungi banyak wanita namun tetap setia pada satu orang.





Dia adalah Gea.





Orang yang sedang tenggelam dalam pelukannya.





Gea mengambil buket bunga yang sedari tadi digenggam oleh Gio. Mengambil flashdisk yang sedari tadi ia cari-cari. "Apa kamu bersengkongkol dengan Samuel?" tanya Gea tajam. Gio terrawa kaku. "Emm itu.. Aku.."





"Aku kesusahan mencarinya tau!" sela Gea marah.




"Maaf ya."




Gea menggeleng. "Aku sudah melupakan semuanya karena kamu sudah disini."




"Ngomong-ngomong, aku belum ke rumah orang tuaku. Kamu mau kan ikut bersamaku?"




"Tentu."




"Tapi turun dulu, masa aku gendongin kamu begini sampai ke parkiran? Kamu gak malu?"




"Enggak. Lagian ini hukuman karena kamu ninggalin aku sendirian sama Sam kampret muel itu!"




Gio tertawa lagi. "Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat" Dia menuruti kemauan Gea untuk tetap di gendong sampai ke arah parkiran.




"Oh, ya.. Jefri mana?"




"Dia pergi lebih dulu."







✒️✒️✒️







Hari mulai petang ketika Gio dan Gea sudah sampai. Rumah orang tua Gio tampak sepi dan itu membuat alis Gea berkerut bingung. "Paman sama Bibi sepertinya sedang keluar," kata Gea.




"Kita tidak tau sebelum melihat ke dalam."




Gio berjalan lebih dulu dan memencet bel pintu. Tapi tidak ada jawaban. Satpam yang biasa menjaga rumah mereka juga tidak tampak di depan.






Gio membuka pintu perlahan, dan saat pintu terbuka sempurna, salah seorang berteriak, "Calon pengantin barunya sudah datang!"




Teriakan heboh itu sontak mengejytkan Gea. Kedua orang tuanya dan bahkan kak Mia serta kak Alvan juga ada disana. Chesi beserta keluarganya tak lupa ikut serta. Ada Samuel, Jefri, Yuna dan rekan kerja Gio yang lain.




Gea masih tidak mengerti dengan situasinya, dia memandang Gio yang menatapnya penuh arti.




"Sebentar lagi, kita akan menikah," Gio berkata seolah memang sudah merencanakan hal ini sejak awal.





"Oh, Gea.. Mama senang sekali akhirnya kamu menerima perjodohanmu. Ini suatu kabar baik, dan kamu tau kabar baik apa lagi hari ini? Kakakmu hamil."




"Apa?!" Gea melihat kakaknya yang terkekeh malu sambil memegang perutnya.





"Mama sayang sekali sama kamu!" Lisa mengecup pipi Gea untuk menggambarkan kebahagiaannya.




"Gea, selamat ya.." Chesi ikut memberi pelukan. "Kamu mendahuluiku rupanya" lanjutnya tertawa.




Jantung Gea berdegup tidak normal. Apa yang diperkirakannya memang terjadi. Gio melamarnya, dan hari ini keluarganya dengan Gio sedang berkumpul. Lalu, jangan bilang kalau tentang cincin dan gaun itu..





"Maaf paman sudah membohongimu."




"Itu artinya, semua hadiah yang paman pilih.."




"Untukmu," sela Hendry tersenyum lembut.




"Kamu siap untuk pernikahan kita kan Gea?" Gio bertanya.




"Tentu aku siap, bodoh! Aku sudah sangat siap sejak aku menyatakan perasaan kepadamu," ketus Gea hampir menangis. "Jantungku rasanya tidak normal, ini semua ulahmu," ucap Gea dan langsung dipeluk oleh Gio.




"Kamu merasakannya? Jantungku sama sepertimu. Berdetak tidak normal karena kita akan menikah. Aku mencintaimu.."




"Aku juga mencintaimu.."





"Baiklah, mulai sekarang kita semua adalah keluarga sungguhan!" Lisa bersorak.




Mereka semua pun mengadakan pesta hingga malam.








Semuanya merasa senang kecuali satu orang.








Satu orang yang tidak tahu tentang apapun.







Orang yang baru saja menerima sertifikat lulus kelas bahasa Jerman.







"Dengan ini, kamu bisa berangkat ke universitas yang kamu inginkan," guru les Bian memberi selamat.




"Terima kasih, Mrs. Diana."




Bian menerima dengan senang hati.







"Aku akan memberitahu Gea, setelah ini."