
"Get away from me!" (Menjauh dariku!) Gio berteriak dan hendak pergi namun para wanita itu bukannya takut ataupun membiarkan Gio lari begitu saja.
"Do you want to play with us for a minute?" (Maukah kamu bermain dengan kami sebentar?)
"Sorry, but i dont have time to play." (Maaf, tapi aku tidak punya waktu untuk bermain).
Wanita bernama Shirly serta teman-temannya terkejut sesaat.
"My fiancee's waiting, so step aside." (Tunanganku sedang menunggu jadi menyingkirlah)
"Fiancee? You think i care if you have a fiancee or not. It's a free country. Dont be so holy, Ferraldo." (Tunangan? Kamu pikir aku peduli kamu punya tunangan atau tidak. Ini adalah negara bebas. Jangan terlalu suci, Ferraldo)
Gio menghembuskan nafas. "I'm still trying to be kind enough to forgive you for giving me alcohol, but if you still insist on making me angry, i could hurt you." (Aku masih mencoba berbaik hati dengan memaafkanmu yang memberikan minuman beralkohol padaku, tapi jika kamu masih bersikeras untuk membuatku marah, aku bisa menyakitimu)
Bukannya takut, Shirly justru tertawa. "You're alone and seven of us. You think you can win while getting drunk like that?" (Kamu sendiri dan kami bertujuh, kamu pikir kamu bisa menang dalam keadaan mulai mabuk begitu?)
"Stop it, Shirly!" (Hentikan, Shirly!)
Tiba-tiba seorang pria, Vincent berada di belakang Gio dan menatap Shirly tajam.
"Vincent, you better not have interfered!" (Vincent, lebih baik kamu tidak perlu ikut campur!)
"I cant let you do anything to my best friend." (Aku tidak bisa membiarkan kamu berbuat sesuatu pada sahabatku.)
Vinny dan Gea menyusul. Melihat situasi yang cukup tegang, Gea memegang tangan Gio.
Gio melihatnya. Mengulas senyum karena merasa tenang Gea di dekatnya.
"So, this ugly woman is your fiancee?" (Jadi wanita jelek inikah, tunanganmu?) Shirly mengejek. Tak habis pikir, selera Gio sangat rendah.
Gio hampir mengeluarkan sumpah serapah jika saja Gea tidak menghentikannya. "He's mine!" (Dia adalah milikku!)
Shirly berdecih. Dan detik itu juga Gea menarik kerah Gio lalu menciumnya.
Di pipi, karena Gea masih ingat jika mencium di bibir ditunda hingga mereka halal nanti.
Semua orang terkejut. Termasuk Shirly dan teman-temannya. Wanita itu mengumpat, lalu pergi meninggalkan mereka.
Vincent dan Vinny cukup syok. "WAaw!" Sepertinya Vincent cukup senang melihat keberanian Gea. Jujur saja, selama dia berteman dengan Gio, ia tidak pernah melihat Gio mau disentuh dengan wanita manapun dan sekarang ia bisa melihat Gio melakukan skinsip bersama lawan jenisnya. Entah mengapa, Vincent malah bangga.
Chris, Jefri, serta Yuna pun juga ada disana. Namun mereka tidak sempat melihat adegan yang Gea tunjukkan. Dan tentu mereka jadi bingung akan wajah Gea yang merah padam serta Vincent yang masih bertepuk tangan.
✒️✒️✒️
Jefri dan Yuna masih khawatir akan atasannya yang tampak setengah sadar. Entah karena apa, atasannya tersebut terlihat seperti orang mabuk.
Gea senantiasa menemani Gio di belakang sementara Jefri dan Yuna berada di kursi depan.
Gio mengusakkan kepalanya pada pundak Gea. "Panas sekali.." gumamnya.
Jefri dan Yuna yang mendengarnya segera mengecek AC mobil. "Maaf, apakah saya perlu menaikkan suhu AC nya, tuan Ferrald?" Jefri bertanya.
Gea yang cukup familiar dengan aroma Gio, merasa ada yang berbeda. "Gio apa kamu minum sesuatu tadi?"
"Shirly memberiku minuman, kukira air biasa ternyata bukan. Aku bodoh sekali percaya padanya," ungkap Gio.
"Mungkinkah.." Gea memandang Yuna dan Jefri.
"Mabuk? Jangan bercanda!" Gio tertawa sesaat. "Mana mungkin aku mabuk. Aku hanya minum sedikit tadi."
Tidak ada yang berani bicara lagi hingga tiba di gedung Hotel. Jefri mengangkat telepon dari Chris sambil keluar dari mobil.
Chris meminta maaf atas apa yang terjadi dan cemas akan keadaan Gio. Jefri mengatakan padanya jika atasannya baik-baik saja dan meyakinkan Chris agar tidak menerus khawatir.
Gea membawa Gio ke kamar. Jefri dan Yuna menunggu tapi Gea bilang pada mereka untuk beristirahat dan masalah Gio biar dia saja yang tangani.
Gea merebahkan Gio diatas kasur. Baru beberapa detik, Gio secara tidak sadar, membuka kancing kemejanya dan sontak mengagetkan Gea.
"A-APA YANG KAMU LAKUKAN CUPU!?" teriak Gea begitu Gio selesai membuka kancing kemejanya dan membuangnya ke sembarang tempat.
"OH TIDAK MATAKU!" Gea menutup mata. Tidak berani menatap Gio yang bertelanjang dada. Meski begitu, rasa penasaran, membuatnya melirik sekilas dan terkejut akan perut Gio yang berotot layaknya penuh sandwich.
"YA TUHAN, MAAFKAN AKU. AKU KHILAF!" Gea menutup matanya kembali.
Gio yang masih setengah sadar itu berdiri. Melepas kacamatanya dan memandang Gea dengan mata agak sipit. "Gea," panggilnya.
"Ya?" Gea menjawab tapi masih tidak ingin membuka mata.
Gio menepuk ranjangnya. "Ayo tidur."
"Yasudah tidur aja, ngapain ajak-ajak!" Gea berseru marah.
Gio mendekat. Menarik telapak tangan Gea yang menutupi wajah gadis itu. "Kamu kenapa?" tanyanya polos.
"Ini karena kamu bodoh! Pakai telanjang segala! Aku gak mau mataku ternodai sebelum menikah!" teriak Gea.
"Tapi kita kan pasti menikah."
"Iya kalau aku mau!"
"Kamu tidak mau menikah denganku?"
"Ya, bukan gitu maksudku!" Gea yang frustasi, tidak sengaja membuka mata dan melihat Gio di depannya.
Wajah Gea merah padam. Ia membeku di tempat karena melihat perut Gio yang terekspos begitu jelas.
"Kalau aku halalin kamu, kamu mau nggak?" Gio bertanya. Gea tidak mengerti pria itu masih mabuk atau tidak tapi Gea hampir mimisan karena tidak mampu melihat keindahan Gio Ferraldo.
"A-Aku tidak tau!" Gea terbata-bata. Berusaha menghindari pandangan.
"Aku mau halalin kamu Gea. Aku mau meminangmu," Gio berkata jujur.
Gea berpikir. Melihat Gio sekilas lalu dengan wajah merahnya, ia berkata, "Karena mataku sudah terlanjur ternodai, baiklah."
Gea mendongak. Menatap Gio sangat serius.
"Ayo kita menikah!"
Gio tertegun. Kemudian melengkungkan senyum. "Bagus, sekarang ayo kita tidur." Pria itu berusaha menarik Gea ke atas kasur.
"KITA BELUM RESMI MENIKAH, TIDAK BOLEH TIDUR BERSAMA!"
"Baiklah, ayo menikah sekarang."
"TIDAK SEMUDAH ITU TULUL!"