
Warning! Rated 21+! Harap di skip bagian selanjutnya jika dirasa kurang nyaman untuk membaca 😁
Rasanya waktu berjalan sangat lambat. Malam itu, terasa begitu panjang seperti yang diharapkan. Gea menetapi janjinya. Memberikan Gio hadiah yang mungkin takndapat ia lupakan.
Ya, ini adalah malam pertama bagi mereka.
Meski sudah lama menikah, nyatanya Gea maupun Gio selalu melewati kesempatan untuk bermalam berdua. Dan hari ini perasaan itu tak dapat dibendung. Mereka ingin lebih dekat lagi satu sama lain. Dan entah mengapa Gea dua kali lipat lebih cantik dari yang Gio bayangkan.
"Aku mencintaimu.." Gio melirihkan kalimat ketika bibirnya tak kuasa menandai Gea sebagai miliknya. Mereka sama-sama berwajah merah. Tidak Gea sangka, Gio sangat ahli dalam hal seperti ini. Tak mau kalah, Gea juga ikut menyerang. Menandai Gio sebagai miliknya juga.
"Kamu benar-benar indah," puji Gea ketika kemeja Gio terbuka, memperlihatkan badan berotot dengan perut kotak yang membuat Gea tersipu untuk ke sekian kali.
Gea tidak pernah tahu Gio tampak sangat seksi di matanya. Ia kembali menanda Gio begitu pula sebaliknya. Jemari Gio perlahan menurunkan kain yang menghalanginya. Membuat Gea tak tertutup oleh sehelai apapun. Menjamah semua kepemilikan Gea dan sekali lagi mencium bibirnya.
"Sangat indah.."
✒️✒️✒️
Pagi hari..
Gio bangun lebih awal. Dia menyiapkan sarapan dan membereskan rumah. Pria itu tampak buru-buru ketika Jeffrey mendadak menelpon dan mengabari akan ada pertemuan dengan beberapa direktur perusahaan.
Jelas sekali Gio terlihat kurang bersemangat. Baru saja dia menikmati malam pertamanya dengan Gea dan dia tidak bisa melanjutkan tidur lebih lama. Nyawanya masih belum terisi penuh. Kantong hitam di matanya seolah menggambarkan sosoknya yang amat lusuh sekarang.
Gea masih tertidur nyenyak. Gio tidak ingin membangunkannya, jadi setelah dia membuat sarapan, dia mengecup kening Gea. "Aku berangkat dulu," bisiknya.
Pria itupun keluar dari apartemen. Bergegas menuju basemen dan segera pergi ke kantor.
Jeffrey menunggu di halaman. Ekspresinya terlihat cemas. Mungkin karena Gio datang sedikit telat dari waktu yang dijanjikan. "Apa aku membuat mereka menunggu sangat lama?" gio bertanya.
"Akan lebih baik anda langsung menemui mereka tuan," balas Jeffrey.
✒️✒️✒️
Gea membuka mata. Badannya terasa begitu letih dan sedikit sakit. Gadis itu memaksakan diri turun dari ranjang dan mencari Gio. Sepucuk note ditemukannya di meja nakas. Itu adalah pesan dari Gio yang mengatakan bahwa ada meeting mendadak pagi ini.
Gea mengulas senyum. Tertawa geli jika mengingat apa yang mereka sudah lakukan semalam. Gadis itupun menuju kamar mandi, mengganti pakaian dan memakan sarapan yang sudah dibuatkan oleh Gio.
Sejauh ini semuanya tampak baik sampai Gea berniat jalan-jalan keluar dan tak sengaja bertemu dengan Ryo.
Lelaki itu terkejut sesaat. Gea menyapanya canggung. "Oh, kau tinggal disini?" Tanya Ryo. Menatap bangunan apartemen megah di belakang Gea.
"Ehm, yah.. begitulah," jawab Gea kaku. "Mau mampir?"
Ryo menggeleng. "Aku harus ke rumah sakit segera."
"Ngomong-ngomong kau darimana?"
Ryo mengangkat barang belanjaannya. "Membeli cokelat."
"Pasti untuk pacarmu-"
"Ini untuk kakak," sela Ryo cepat. "Hadiah untuknya jika dia sudah sadar kembali."
Gea merasa tersentuh dengan sifat baik Ryo pada kakaknya. Dibalik wataknya yang dingin dan keras, dia tetap peduli pada keluarga. Tidak banyak orang di jaman sekarang berperilaku sama seperti nya. Gea mengukir senyum.
"Oh ya, apa aku boleh menengok kakakmu?"
✒️✒️✒️
Ruangan VVIP yang Gwen khusus kan untuk kakak Ryo seorang, benar-benar tidak biasa. Gwen bahkan menempatkan penjaga bayaran di depan pintu guna keamanan.
"Gwen memang menakjubkan," Gea memuji.
"Tapi ini berlebihan," Ryo menimpali.
Kakaknya masih tertidur dan Gea sedikit terpukau karena kakak Ryo sangat cantik.
Rambutnya berwarna cokelat dan tergerai panjang. Wajahnya pucat serta tubuh kurus itu tidak bisa diabaikan namun kecantikannya tidak berkurang sama sekali.
Dan Gea bisa melihat wajah Ryo sangat mirip dengan kakaknya.
"Siapa namanya?"
"Rose," jawab Ryo singkat. Matanya tampak bergetar seolah menyimpan kesedihan mendalam.
"Aku merindukannya," kata Ryo tiba-tiba.
Gea mendekat. Duduk di sebelah Ryo dan memegang kakak Ryo yang bernama Rose.
"Aku Gea, salam kenal," ucapnya mengumbar senyum.
"Kakak tidak perlu khawatir tentang Ryo. Aku akan memastikan dia tidak berbuat yang aneh-aneh," lanjutnya seolah mengajak Rose berbicara.
Gadis itu menunduk. Ryo baru saja terpana dengan apa yang dilakukannya.
"Jika kamu tidak keberatan. Kamu bisa bercerita padaku."
✒️✒️✒️
3 tahun yang lalu.....
"Kecelakaan mobil di kilometer 37 telah merenggut 2 nyawa sepasang suami istri. Diketahui bahwa kecelakaan terjadi pada pukul delapan malam. Saksi mata menyatakan kecelakaan ini terjadi ketika bus datang dengan sangat cepat dari arah selatan yang kemudian menabrak mobil tersebut ketika muncul di perempatan dari arah timur. Polisi-"
Siaran berita itu berhenti tepat ketika Rose mematikan televisi. Sebuah kabar duka menyelimuti hari itu. Dia baru saja mendapat informasi bahwa kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan.
Tangan Rose gemetaran. Sebelah tangan yang lainnya masih memegang ponsel. Gadis itu terduduk dan mengeluarkan isak tangis.
Ryo yang baru saja pulang dari tempat les, terkejut melihat sang kakak terduduk lemas diatas lantai. "Kak, ada apa? Mengapa kakak menangis?"
"Orang tua kita.. mereka..."
Pemakaman berlangsung keesokan harinya. Banyak orang menaruh pandangan kasihan dan sedih kepada Rose serta Ryo.
"Aku dengar putri anda berhubungan dengan Ryo. Bagaimana ini pak?"
Ryo menoleh. Menguping pembicaraan antara dua pria dewasa. Deon dari WK grup, ayah dari gadis yang Ryo sukai.
"Sayang sekali... Aku hendak menjalin bisnis dengannya. Tapi mengetahui dia meninggal mendadak seperti ini, aku tidak tau harus bagaimana."
"Ryo itu anak baik. Tapi karena dia yatim piatu sekarang, aku jadi khawatir akan masa depan putriku."
Rumah yang Rose dan Ryo tinggali telah dijual dan memilih tinggal di rumah sederhana. Tidak ada anggota keluarga yang mau membantu. Rose menghembuskan nafas. Dia mengukir senyum dan menepuk bahu Ryo.
"Mulai sekarang, kakak yang akan mencari nafkah. Kamu harus fokus ke sekolah dan les mu. Sebentar lagi kamu mendaftar ke universitas bukan?"
Ryo tidak menjawab apa-apa. Jauh di lubuk hatinya ingin hal yang bertolak belakang dengan kemauan Rose.
Sekolah?
Les?
Universitas?
Tidakkah semua itu perlu uang?
Dan sekarang kedua orang tuanya telah tiada. Dengan ijazah Rose yang hanya tamat sampai SMA apa itu mungkin?
"Aku tidak akan ikut turnamen."
Guru dan teman Ryo memandang terkejut. "Ryo, mengapa tiba-tiba?"
"Sejak awal aku tidak pernah mendapat dukungan untuk ikut latihan boxing. Mungkin ini adalah karma karena aku tidak menuruti kata-kata orang tuaku. Sekarang mereka sudah tiada dan aku tidak bisa meminta maaf."
"Tapi Ryo, kamu bisa mengumpulkan uang ketika menang turnamen. Kamu punya bakat yang luar biasa. Kamu bisa jadi atlet boxing nasional."
"Maaf guru, aku tidak mau kena karma lagi. Aku ingin menjaga kakakku. Dia lebih penting dari segalanya"
Di langit kelabu itu, seorang gadis berjalan ke arahnya. Ryo hendak menghindar tapi dia gagal. Gadis itu memasang wajah cemberut. Matanya menyipit kesal.
"Mengapa kamu tidak menjawab teleponku?" Teriaknya. "Kamu juga tidak balas chat ku. Ada apa denganmu?"
"Emm.. itu..." Ryo merapatkan bibir.
"Aku khawatir padamu!" Gwen mengeluarkan isak tangis. Gadis itu menutup wajahnya. Banyak orang berlalu palang memandang mereka. Dan pada saat itulah Ryo menghembuskan nafas.
"Gwen, aku ingin putus"
Tangis Gwen terhenti. Matanya membulat tak percaya dengan yang ia dengar dari mulut Ryo. Gadis itu mendongak terkejut.
"Jangan hubungi aku, jangan mencariku, dan jangan mendekat padaku."
Gwen masih terdiam. Ia tampak syok.
"Mulai sekarang, jika kamu bertemu denganku entah sengaja atau tidak, anggaplah kita tidak pernah kenal sebelumnya. Akupun akan melakukan hal yang sama"
Setelah mengatakan itu, Ryo berjalan melewatinya. Tidak peduli akan teriakan Gwen yang memanggilnya meminta penjelasan.
Ini adalah yang terbaik.
Mungkin Gwen memang bukan takdirnya.
Kenangan selama 2 tahun mereka pacaran akan menjadi serpihan yang menyakitkan diantara keduanya.
"Maaf Gwen.."
Waktu berlalu..
Rose berniat mengajak Ryo jalan-jalan di sore hari. Namun setelah melihat seorang pemuda yang asyik di kafe bersama seorang gadis, mereka terhenti.
Ryo ikut menatap terkejut. Pasalnya dia tau siapa pemuda yang ada di kafe itu.
Ego, kekasih Rose.
"Ryo tunggulah disini," Rose berkata.
"Tidak kak, biar aku saja yang menghajarnya!"
"Ryo, dengarkan kakak!" Rose memasang mata tajam. "Diam disini!" Titahnya.
Rose pun pergi masuk ke dalam kafe. Menampar Ego dan membuat keributan disana. Ryo tidak bisa mendengar jelas dan hanya bisa menyaksikan lewat jendela.
Sejak awal Ryo memang tidak suka dengan Ego. Dia laki-laki brengsek.
Ryo melihat kakaknya keluar dari kafe sambil menangis. Rose berlari cepat.
Ryo hendak menyusul tapi Ego lebih dulu mendahuluinya. Dan pada saat itu untuk kedua kali dalam hidupnya Ryo tidak ingin kehilangan.
Brakkk!!!
Suara tabrakan terdengar. Kaki Ryo yang berlari di belakang mendadak lambat.
Semua orang mulai berkerumun ke arah jalan. Jantung Ryo berdetak cepat. Dengan langkah lunglai dia menuju kerumunan. Mendekat ke arah korban yang berlumuran darah. Diatas pangkuan laki-laki jahat.
"Minggir brengsek!"
Ryo mendorong tubuh Ego menjauh dari sang kakak. Pemuda itu menatap sedih sosok Rose yang penuh warna merah.
Sementara yang lain memanggil ambulan, Ryo terus menerus memeluk Rose. Berharap kakaknya selamat. Ia masih bisa mendengar detakan lemah dari jantungnya. Rose pun dibawa ke rumah sakit.
"Setelah mendorongku, apa sekarang kamu mengemis agar bisa meminjamkanmu uang untuk operasi Rose?"
Ego duduk dengan menyilangkan kaki. Memasang wajah sombongnya seolah senang dengan sikap Ryo yang memohon di kakinya.
Ego mendekat. Memegang kepala Ryo yang berjongkok di hadapannya. "Kamu pikir aku mau membantumu dengan mudah?"
Ego sedikit menjambak rambut belakang Ryo dam membuat mereka beradu tatap.
"Aku akan membantumu. Membiayai operasi serta perawatan kakakmu sampai sembuh tapi dengan satu syarat."
Ia berbisik di telinga Ryo dengan nada kemenangan. "Kamu harus jadi budakku, yang berarti patuh pada perintahku."
Ego menyeringai. "Senang sekali mendapat anjing peliharaan sepertimu," tambahnya menepuk-nepuk pipi Ryo gemas.
Pemuda itupun berdiri dan pergi.
Ryo mengepalkan tangan. Ia menahan amarah sampai air matanya ingin keluar. Jika bukan karena kakaknya, Ryo tidak akan sudi bertekuk lutut ke orang brengsek seperti Ego dalam hidupnya.
Dia tidak mungkin menghubungi Gwen. Mantan kekasihnya. Ia tidak mau Gwen terkena masalah dan repot karenanya.
✒️✒️✒️
"Aku sangat menyedihkan bukan?"
Ryo bertanya setelah bercerita panjang.
Gea memandang sesaat. Entah mengapa matanya tiba-tiba memanas. Tapi ia tidak mungkin menangis disamping Ryo.
Lalu hal mengejutkan lainnya terjadi.
Sebuah keajaiban muncul. Rose menggerakkan jemarinya dan digenggam oleh Ryo begitu melihatnya.
Gadis itu membuka mata perlahan. Melirik pemuda dan gadis yang tengah menatapnya.
"Ryo.." ia berkata lemah.
"Kakak!" Betapa gembiranya Ryo saat itu.
Rose menoleh ke arah Gea.
"Kekasihmu ya?"
✒️✒️✒️
Gea meletakkan bingkisan di meja. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak berpikir. Bingkisan cokelat yang awalnya ingin Ryo berikan pada kakaknya malah berakhir di tangan Gea.
"Ini adalah balasan atas terima kasihku padamu." Begitulah katanya.
Padahal Gea tidak melakukan apapun. Tapi Ryo seolah menganggapnya sebagai jimat keberuntungan karena kedatangannya, Rose sadar dari tidur panjangnya.
Pintu terbuka. "Mengapa kamu gelap-gelapan begini?" Tanya Gio menyalakan lampu.
Gea menoleh ke arahnya. Mengumbar senyum menyambut kepulangan Gio ke rumah. Pria itu membalas senyuman Gea sejenak, lalu matanya menangkap sesuatu di meja.
"Dari siapa?"
Mengetahui apa yang ditanyakan oleh Gio, Gea menjawab jujur. "Teman."
Jelas sekali ada raut kesal yang keluar dari wajah Gio meski samar. Suaminya itu melepas dasi dan kemejanya. Membiarkan asetnya terumbar di mata sang istri begitu saja.
"Mau mandi?" Atensi Gio teralih begitu Gea bertanya. Istrinya kini berdiri. Melepas pakaian yang dikenakan. Wajahnya bersemu merah.
"Kebetulan, aku juga ingin mandi," ucapnya.
"Mau mandi bersama?"
"Ya.."
**Maafkan saya yang hiatus lama. Maaf jiga jika imajinasi liar saya hanya sebatas ini 🙏
Bagaimana kabar kalian semua? Tetap stay healthy ya.. Dan semoga keadaan membaik dengan cepat. Amiin..
Tidak terasa saya sudah hiatus selama ini. Maafkan author ya 😢🙏**