Amour

Amour
Three



"Bian?"





Gea mengikuti arah pandang Bian dan terkejut melihat gadis seumurannya di depan sana. "Chesi, kamu disini?" Gea berlari lalu memeluk Chesi erat.




"Sudah lama aku gak ketemu kamu."




Chesi membalas pelukan Gea, tapi matanya masih enggan berpaling pada Bian.





"Semenjak kamu diluar kota, aku jadi kesepian. Dan Bian selalu saja menjahiliku. Dia tidak pernah mentraktirku makan," adu Gea yang dipelototi Bian kesal.




"Hei, aku yang membayar pesananmu di rumah makan tadi!" teriak Bian dan dibalas juluran lidah oleh Gea.




Mereka melepas pelukan. Chesi mengumbar senyum hangat. Gea tidak pernah berubah. Rambut pendek sudah menjadi stylenya sejak dulu. "Aku sedang liburan, rencananya bakal main ke rumah kamu tapi gak disangka kita malah bertemu disini."




"Aku masih ujian dan kamu sudah liburan aja. Nggak adil." Gea memasang wajah cemberut, lalu merangkul lengan Chesi tanpa memedulikan Bian di belakang sana. "Kalau gitu tunggu apa lagi, kamu main ke rumah yuk. Banyak yang harus aku ceritain ke kamu."




"Tapi aku sedang menunggu kakak sepupuku membeli baju."




"Ayolah, kita sudah tidak lama bertemu dan banyak banget yang pengen aku curhatin ke kamu. Please.."




Melihat wajah Gea yang memelas dan lucu membuat Chesi tertawa kecil. Ia segera mengambil ponsel di tas nya lalu menempelkannya di telinga. "Kak, aku duluan ya. Aku sedang bersama temanku dan aku ingin ke rumahnya. Nanti kakak pulang sendiri tidak apa kan."




Chesi menunggu jawaban hingga akhirnya dia menutup telepon setelah berkata, "Baiklah, dah."





"Gimana?" Gea bertanya tak sabar. Chesi mengannguk. "Kita ke rumahmu sekarang."




"Yeay!"




Gea membalikkan badan memandang Bian dan melambaikan tangan. "Kamu pulang sendiri ya, sampai ketemu besok!" Setelahnya Gea menggaet tangan Chesi dan menuju eskalator untuk turun.




Bian berdecak lalu tersenyum. "Dasar!" Ia mendesah dan menatap kepergian Gea serta Chesi di bawah sana.





Sejujurnya dia masih terkejut bertemu dengan Chesi secara mendadak. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya terjadi. Dan Bian tidak mengerti mengapa dirinya menjadi kaku dan takut bertemu Chesi sampai saat ini.






"Padahal aku sedang membeli baju untuk hadiah ulang tahun mommy nya, malah ditinggal."




Bian menoleh setelah mendengar gerutuan seseorang.






"Loh, Bian."




"P-Pak Gio."






✒️✒️✒️






"Di jodohkan?"





Gea mengangkat jari telunjuk di depan bibir untuk mengisyaratkan Chesi agar tidak bicara terlalu keras.




Beberapa waktu lalu, mereka berdua memasuki kamar setelah Chesi menyapa keluarga Gea. Dan baru saja duduk di kasur, Gea langsung menyemprotinya dengan segala curahan hatinya. Chesi sampai kewalahan karena selain Gea berbicara dengan nada berbisik, gadis itu juga berkata tanpa henti. Hingga yang bisa ditangkap oleh indra pendengaran Chesi hanyalah, "Perjodohan? tapi sama siapa?"




"Guru ku di sekolah." Gea menyangga kepalanya dengan wajah menahan kesal. Mata Chesi melotot dan mulutnya terbuka. "Wow! Aku tidak percaya kisah seperti ini ada."




"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu menerima perjodohanannya?" tanya Chesi penasaran.




Gea menggendikkan bahu. "Entahlah, aku masih berpikir."




"Tapi aku tidak habis pikir orang tuamu akan menjodohkanmu."




Mendengar perkataan Chesi, Gea menegakkan posisi duduknya. "Nah kan. Aku juga berpikir gitu. Mereka menjodohin aku karena pertemanan Papa. Mama juga beralasan ingin segera menimang cucu dariku dan guruku nanti. Sungguh tak masuk akal! Padahal kakakku baru saja nikah tiga bulan lalu, dan saat kakak ipar pulang, Mama kan bisa minta cucu dari mereka sebanyak-banyaknya. Kakak saja tidak dijodohkan, mengapa aku dijodohkan? Ini tidak adil!"





Chesi mengusap punggung Gea dan memeluknya ketika melihat teman kecilnya tersebut mulai menangis. "Aku kesal Ches. Aku pengen marah ke mereka, tapi aku takut jadi anak durhaka."




"Kamu bisa bilang pada mereka baik-baik, aku yakin mereka akan mendengarkan. Sudah jangan menangis."






Gea juga memeluk Chesi sangat erat. Rasanya begitu lega bisa mengungkapkan isi hatinya pada Chesi, temannya. Sejujurnya, Gea ingin sekali mencurahkan semua namun dia merasa tidak enak hati pada kakaknya. Sementara jika di sekolah, tidak ada orang yang berteman sedekat ini dengannya. Bian? Jangan ditanya, Gea mana mungkin curhat pada Bian yang tak pernah bisa serius dengannya. Yang ada, lelaki itu malah menjahilinya dan mengejek dirinya.







Sementara diluar, Mia mendengar pembicaraan mereka. Wanita itu hendak mengantar minuman, namun terhenti saat mendengar Gea menyebut dirinya.






"Maaf Gea."