Amour

Amour
Twenty Three



"Kamu yakin tidak ingin kuantar?" Gio bertanya dan dijawab gelengan oleh Gea. "Kamu baru saja sembuh, harus banyak istirahat. Obatnya jangan lupa kamu minum."




Gio mengukir senyum. "Tentu," ucapnya.




"Aku bisa mengantarmu nona." Jefri menawarkan diri namun Gea sekali lagi menolak. "Aku naik taksi saja."






Jefri dan Gio mengantar Gea sampai gadis tersebut mendapat taksi. Gea melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam.




Gio memerhatikan hingga bayangan taksi itu sudah tidak terlihat."Aku sempat berpikir nona Gea adalah gadis yang galak, ternyata tidak sepenuhnya dia begitu," kata Jefri.




"Dia memang galak kok," respon Gio. "Galak tapi ngangenin" tambahnya terkekeh geli.




Jefri menyenggol lengan Gio. "Ciye, tuan Ferrald berbunga-bunga nih. Sekarang mulai berani terang-terangan sama perasaannya sendiri."




"Ah, sudah. Aku akan pergi ke kantor sebentar. Kamu antar aku ya Jef?"




"Siap tuan!"






✒️✒️✒️






'Aku mencintaimu'



Gea menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk pipinya setelah otaknya tiba-tiba memutar ulang kejadian kemarin malam disaat Gio menyatakan perasaan padanya.




"Dia hanya kena mabuk karena demam Gea. Kamu tidak perlu menganggapnya serius," ucap Gea menenangkan diri.




Gadis itu beralih pada jendela mobil. 'Kalaupun Gio memang tidak serius, tidak mungkin dia mengatakan yang kedua kali.'




"Jadi dia sungguh menyukaiku?"




Gea menatap sendu layar ponselnya yang menunjukkan formulir pendaftaran di salah satu universitas favoritnya. 'Bicara sama Papa dan Mama juga tidak ada gunanya. Mereka pasti lebih memilih aku dijodohkan secepatnya,' pikirnya lagi.




"Tapi aku masih ingin melanjutkan pendidikan."




"Anda sedang bimbang ya non?"




Gea mendongak setelah sang supir taksi berbicara padanya. "Saya juga punya anak perempuan. Dia seumuran denganmu dan dia baru lulus tahun ini, kamu tau apa yang dia katakan?"




Pak supir melengkungkan senyum. "Dia bilang bahwa dia ingin bertunangan. Sejujurnya aku terkejut mendengar putriku bicara begitu. Namun dia bersungguh-sungguh. Putriku menunjukkan pria yang dia cintai dan ia ingin menikah muda hanya karena takut kekasihnya akan direbut orang."




"Tapi aku menanyakan padanya, mengapa ia tidak memilih lanjut ke universitas saja, dan dia bilang, dia akan ke universitas. Namun setelah dia selesai bertunangan dengan kekasihnya." Pak supir menatap Gea dari balik kaca spion.




"Anda tidak perlu memaksakan diri nona. Saya bicara begini bukan semata-mata untuk mengajak nona bertindak seperti apa yang putri saya lakukan. Saya hanya ingin nona mewujudkan keinginan nona. Orang yang memilih menikah muda itu sangatlah sulit, harus memikirkannya secara matang-matang. Tapi jika hubungan tersebut sudah didasari dengan niat, semua pasti mudah. Pendidikan tidak melihat umur, semua orang dari yang muda sampai tua tetap bisa menempuh pendidikan sebanyak yang mereka mau. Anda tidak perlu khawatir apabila anda lanjut ke universitas setelah menikah."




Gea semakin merenungkan perasaannya sendiri. Dia kembali memandang jalanan. Hingga kemudian seseorang mengalihlan mata Gea.




"Berhenti Pak!" Gea berteriak. Pak supir memandang bingung sementara Gea buru-buru membayar lalu keluar dari taksi. "Ambil saja kembaliannya, Pak!" seru Gea sebelum gadis tersebut jauh dari jangkauannya.




"Bian!" Gea berteriak. Dia tergesa-gesa ketika menyeberang jalan. Kerumunan orang disana sedang saling adu pukul dan salah satu diantaranya adalah orang yang sangat Gea kenali.




Orang-orang tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa dari mereka mencoba melerai tetapi tindakan para remaja itu cukup brutal hingga sulit menengahi.




Gea menerobos masuk dalam kerumunan. Dia menemukan Bian memukul para gangster yang bahkan badannya lebih besar darinya.




"Bian apa yang kamu lakukan!?"




Gea berusaha menarik Bian yang sedang dibutakan amarah. "Mereka yang mulai duluan!" seru Bian masih mencoba memukul gangster yang memiliki 3 anggota tersebut.




Gea tidak tahan, dia mengangkat salah satu kakinya dan memukul perut Bian menggunakan lututnya.




Bian meringis kesakitan. "Gea-"






Tamparan keras mendarat di wajah Bian. Semua orang terkejut begitu pula para gangster.




"Sudah cukup Bian!" Gea bersikap tegas pada Bian Michaelis. Matanya menajam. "Minta maaflah pada mereka!"




Bian berdiri. Wajahnya penuh memar dan sudut bibirnya berdarah. "Untuk apa aku minta maaf pada orang yang membuat ulah seperti mereka?" balas Bian tak peduli.




Gea baru pertama kali melihat wajah Bian yang begitu dingin. Ada dendam, kebencian, dan amarah yang Gea rasakan ketika melihat netra kelam milik Bian.





Bian hendak berbalik pergi namun Gea menahan pergelangan tangannya.




"Maaf atas segala kerusuhan yang terjadi dan maaf karena Bian sudah memukul kalian." Gea membungkukkan badan mewakili Bian untuk meminta maaf.




"Gea apa yang-"




"Dan kuharap, jangan mengganggu Bian lagi."




Kalimat terakhir Gea, membuat para gangster tersebut pergi meski mereka juga babak belur karena lelaki bernama Bian Michaelis. Tetapi para ganster itu tidak bertindak jauh dan memilih menyudahi, menganggap semua hanya angin lalu serta melupakan perbuatan yang Bian lakukan.




Kerumunan orang mulai bubar satu persatu. Gea masih setia menggenggam pergelangan tangan Bian. "Ikut aku!" katanya lalu membawa Bian ke suatu tempat tidak jauh darisana.




Mereka memilih duduk di teras sebuah rumah tua sekalian berteduh. Gea menatap Bian yang penuh luka. "Tunggulah disini, aku akan ke apotek sebentar."




Giliran Bian yang menarik tangan Gea kemudian menyandarkan kepala di pundaknya. "Bisakah.." nada Bian terdengar lemah dan sedih. "Kamu membawaku pergi, Gea?"






✒️✒️✒️






Mia memandang terkejut adiknya sedang membopong seorang lelaki ke rumah. "Gea, bukankah itu-"




"Iya, dia Bian, temanku. Maaf kak, tapi bisakah Gea minta tolong kakak untuk menyiapkan air es dan kotak P3K?"




"Ah, baiklah." Mia segera menuju kotak obat dan ke dapur untuk menyiapkan air es sementar Gea memapah tubuh Bian ke kamarnya.




"Hati-hati," kata Gea lalu mendudukkan Bian diatas ranjang. Mia masuk kedalam kamar lalu memberikan air es beserta kotak P3K.




"Apa yang terjadi?" Mia bertanya.




"Ceritanya panjang." Gea menoleh kearah Mia. "Maaf lagi kak, aku ingin bicara dengan Bian, jadi bisakah kakak tinggalkan kami sebentar? Dan terima kasih." Gea ******** senyum tipis.




Mia pun pergi dari kamar Gea dam menutup pintu. Membiarkan adiknya bersama Bian di dalam kamar.




"Jadi.." Gea mengambil handuk kecil berisi es dan ditempelkannya pada pipi Bian yang lebam secara hati-hati. "Kamu tidak ingin cerita padaku?" lanjutnya.




Bian memalingkan wajah. Gea menarik dagunya karena dia sulit mengompres luka lebam lelaki itu. "Diamlah," titahnya.




Bian menurut. Gea memberikan plester di sudut bibir Bian yang terluka. "Selesai," ucapnya tersenyum.




Bian memandang kosong. Selanjutnya kedua netra miliknya menitikkan air mata. Gea terkejut. Bian memalingkan wajah sekali lagi, karena malu Gea melihat titik lemah dirinya.




Bukannya mengejek, Gea justru menepuk punggung Bian. "Setidaknya jangan memendamnya sendiri," katanya dan detik itu juga, Bian memutar arah, memeluk Gea erat.




"Tidak apa, keluarkan saja," kata Gea mengelus lembut surai hitam Bian Michaelis.






Sementara dibalik pintu kamar, Mia merasa resah. Papa dan Mamanya tidak ada di rumah dan Alvan sedang dinas.




Wanita itu bingung dan mulai berpikir buruk apabila kedua orang tuanya akan tahu jika Gea sedang mengajak laki-laki selain Gio ke rumah.





"Apa yang harus kulakukan?"