
8 tahun yang lalu.
"Minusnya masih belum seberapa parah. Beruntung kalian segera memeriksakannya." Seorang dokter mata tersenyum ramah.
"Aku tidak menyangka hal ini." Hendry tampak kesal. "Kamu pasti kebanyakan main game di komputer, sudah ayah bilang kamu harus belajar."
Gio tak mengatakan apapun, namun Mary segera melindunginya."Kamu lah yang membuatnya begini, kamu mendorongnya terlalu keras. Dan asal kamu tau, Gio tidak pernah main game seperti yang kamu katakan," bela Mary.
"Gio berumur 16 tahun, saya rasa ini adalah hal umum. Bahkan ada yang lebih muda dari Gio, sudah terkena rabun jauh." Dokter mata tersebut berusaha menenangkan.
"Tetap saja, ini memalukan!"
Mary mengerutkan alis. "Apa yang kamu maksud memalukan? Gio hanya terkena mata minus, dan kamu melebih-lebihkannya?"
Sang dokter tampak kebingungan. Sementara Gio mengehmbuskan nafas. Dia menenangkan kedua orang tuanya agar tidak bertengkar.
"Maaf, sudah membuatmu malu ayah. Sebagai gantinya aku akan membeli kacamata minusku sendiri."
"Bagus kalau begitu." Hendry berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.
Keesokan harinya adalah hari libur, namun Hendry mengatakan padanya untuk pergi ke sekolah. Mempelajari buku-buku rumit di perpustakaan terutama tentang kedokteran dan memberikan laporan pada Hendry setelah semuanya selesai.
Mary tidak terima dengan apa yang Hendry lakukan. Sudah cukup ia bersabar dan wanita itu tidak ingin putra satu-satunya tersiksa secara mental hanya karena Hendry tidak pernah mengijinkannya untuk beristirahat.
Gio tersenyum. Meyakinkan pada ibunya, ia baik-baik saja dan pergi menuju sekolah.
Bukan tanpa alasan, tapi keluarga Gio yang terpandang membuatnya bebas melakukan apapun. Itulah mengapa, Gio diberi kunci cadangan untuk membuka gerbang sekolah. Berjaga - jaga apabila pemuda tersebut membutuhkannya.
Gio memasuki ruang perpustakaan yang sepi. Mengambil beberapa buku yang dibutuhkannya dan segera membacanya. Jemarinya senantiasa mencatat hal-hal penting sebagai laporan kepada ayahnya.
Sudah setengah hari, Gio berdiam di tempatnya dan mencatat. Ia sudah menyelesaikan tiga buku tebal yang dibacanya. Lehernya kaku dan matanya semakin lelah. Ia melepas kacamatanya sebentar untuk memijat denyut di kepalanya.
Suara berisik, mengalihkan perhatiannya. Gio berdiri berniat untuk melihat sekaligus mengembalikan buku yang dipinjamnya ke dalam rak semula.
Teriakan anak - anak yang bermain bola disana terdengar heboh. Gio memandang dari arah jendela. Menyaksikan betapa serunya mereka bermain di tanah lapang. Tapi secara tidak sadar, sebuah bola menuju ke arahnya dan memecah kaca jendela. Karena syok, Gio tidak sempat menghindar, alhasil bola tersebut memukul kepalanya sangat keras hingga jatuh.
"Akh!" Gio meringis. Kepalanya terasa pening dan kacamatanya hilang entah kemana.
Gio meraba - raba lantai. Sesekali dia memegangi kepala. Sampai ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya.
"Ini milik kakak?"
"Iya, terima kasih." Gio memakai kacamatanya meski retak sebelah.
Ia memandang bingung anak kecil di depannya yang mulai bercucuran air mata. "Maaf, sudah merusak kacamata kakak," ucapnya.
Gio terperanjat. Dia mengusap kepala anak kecil tersebut dan tersenyum. "Sudah jangan menangis. Kakak baik-baik saja kok," sahutnya.
Anak kecil bernama Gea itu merasa malu. Dia mengusap noda kotor di sebelah mata Gio. "Pasti bolanya kena kepala kakak. Maafin aku ya kak. Kakak jadi kesakitan."
Gio terkesima. Dia tidak pernah melihat anak kecil semenggemaskan ini sebelumnya. Bahkan mengkhawatirkan Gio yang bukan siapa-siapa dirinya.
Itu adalah awal pertemuan mereka. Sebuah ikatan yang tidak pernah Gio bayangkan. Hanya karena rasa khawatir, dirinya terpesona. Gea masihlah kecil waktu itu. Dan dibanding anak cewek seusianya, dia malah lebih mirip laki - laki.
"Kakak mengapa ada di sekolah? Sekarang kan hari libur," tanya Gea setelah tangisnya mulai reda. Dia duduk dilantai sambil merangkul bola. Gio pun sama halnya. Dia tidak memedulikan kacamata barunya yang retak sehingga penghilatannya kurang jelas ataupun bajunya yang kotor karena ikut duduk di lantai bersama Gea.
"Kakak sedang belajar."
"Sendirian?"
Gio mengangguk.
"Tapi ini kan hari libur?"
"Hari libur bukan berarti tidak belajar. Kita bisa menggapai cita-cita jika kita mau berusaha dan belajar adalah jawabannya."
"Kakak punya cita-cita?" Gea bertanya.
"Tentu, Kakak ingin menjadi dokter."
"Benarkah? Semua temanku juga banyak yang memiliki keinginan seperti itu."
"Oh ya?"
Gea mengangguk. "Tapi menurutku itu tidak menyenangkan. Harus belajar ekstra keras untuk jadi seorang dokter karena berhubungan dengan nyawa. Itu pasti menyesakkan, apa kakak tidak merasa bosan dengan buku-buku tebal ataupun hafalan obat dan teori kedokteran yang harus kakak pelajari?"
Gio sedikit kagum. Anak berumur 10 tahun dapat berbicara sebanyak itu. Namun apa yang dikatakan gadis kecil di depannya ini mungkin benar.
"Mengapa kakak tidak coba jadi pengusaha saja?"
Gio menatap Gea lagi.
"Kalau jadi pengusaha kakak tidak perlu menjadi orang pintar." Gea memasang pose berpikir. "Tapi kalau cita-cita kakak adalah dokter, aku juga tidak bisa memaksa." selanjutnya, Gea tertawa.
"Aku juga punya cita-cita!" Gadis itu tersenyum lebar. Menatap Gio sangat antusias sementara Gio dipenuhi tanda tanya.
"Aku ingin jadi seorang ibu yang baik!" serunya.
Gio terkikik geli. Tak habis pikir dengan ucapan Gea. "Kamu ingin jadi ibu yang baik? Tapi menjadi ibu itu bukan cita-cita."
Gio terkejut mendengarnya. Dia mengukir senyuman. "Kamu mau nikah sama kakak?" tanyanya.
"Mengapa tidak? Apa kakak tidak menyukaiku?"
"Kakak suka. Kakak amat menyukaimu. Kakak bahkan bersedia jika nanti kamu mau menikah dengan kakak." Gio tertawa. Gadis kecil dihadapannya ini begitu lucu. "Siapa namamu?"
"Namaku.."
"Gea!" anak laki-laki lain memanggil dari belakang dengan nada berteriak. "Kamu lama sekali! Aku khawatir nih!" anak laki - laki tersebut datang sambil mengomelinya. Menarik lengan Gea untuk berdiri.
"Bian, kakak ini kena lemparan bola aku tadi," Gea bercerita.
"Kamu sih nendangnya kenceng banget! Maafin dia ya kak, dia udah mecahin kaca jendela sama melukai kakak," ucap Bian.
"Tidak apa, kalian tidak perlu takut. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini. Sekarang kalian pulanglah, ini sudah sore."
"Tapi kak, itu kan salahku."
"Kakak ini kan yang bertanggung jawab nanti. Jadi biarkan saja, sekarang ayo pulang, Gea." Bian menarik tangan Gea menjauh.
"Terima kasih kak!" seru mereka berdua. Sebelum benar-benar pergi, Gea sempat menoleh pada Gio sesaat kemudian menampilkan senyum manisnya.
'Aku harap ini tidak menjadi terakhir kalinya aku bertemu denganmu,' batin Gio penuh harapan.
✒️✒️✒️
Cahaya mentari menerobos, membangunkan Gio dari tidurnya. Pria itu memegangi kepalanya yang berat. Lalu menyibak selimut yang menutupi setengah tubuh telanjangnya dan bergegas pergi ke kamar mandi karena mendadak ia ingin muntah.
"Apa yang terjadi semalam?" gumamnya melihat tampilan dirinya di cermin.
Gio keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan ngantuk. Menatap kaget begitu melihat samar - samar seseorang yang duduk di sofa sambil bersendekap dada.
"Gea, kamu kah itu?" tanyanya sebab Gio tidak memakai kacamata.
"Memang siapa lagi?" cetus Gea tajam yang akhirnya menyadarkan Gio Ferraldo.
"Oh, astaga! Jangan mengagetkanku begitu!" Gio segera menutup dada dengan kedua tangannya. "Aku kan gak pake baju."
"Setidaknya kamu masih memakai celana," sahut Gea datar. "Apa kamu tidak ingat semalam hah?"
"Memang apa yang aku lakukan semalam?" Gio bertanya polos. "Aku tidak berbuat sesuatu padamu kan?"
Gea memijat pelipis. Mengayunkan tangan mengode Gio untuk mendekat.
Gio menghampiri. Mesejajarkan kepalanya di hadapan Gea dan gadis itu menyentil dahinya.
"Aw!" ringis Gio. "Mengapa kamu menyentil kepalaku?"
"Biar kamu bisa mengingatnya," jawab Gea.
Gio melihat semburat merah di kedua pipi Gea yang menandakan memang terjadi sesuatu kemarin malam.
"Jangan bilang...."
Gio menelan ludah. Ia juga tersipu malu sementara Gea masih menunggu kalimatnya.
"Aku menidurimu."
"Jangan memancingku untuk membunuhmu, Gio! Otakmu terlalu kotor!"
Gio sedikit merinding atas ancaman Gea. Pria utu berpikir kembali. "Kalau begitu... apakah.."
"Aku melamarmu?"
Detik itulah jantung keduanya berdegup semakin kencang. Seolah ingin meledak dan keluar dari raga. "Apa aku sungguh mengatakannya?" Gio masih ragu.
"Itu adalah alasan mengapa aku biasa saja melihatmu telanjang dada begitu. Mataku sudah terlanjur ternoda dan kamu harus bertanggung jawab," tuntut Gea yang mengernyitkan alis Gio.
"Kamu harus menepati janji untuk menikahiku, Gio."
Kalimat Gea membekukan Gio di tempat. "K-Kamu yakin?" tanya Gio terbata - bata.
"Kamu pikir aku sedang bercanda sekarang?"
Gio memeluk Gea erat. Tidak habis pikir betapa senangnya ia mendengar perkataan Gea barusan.
Gea membalas pelukannya. Tersenyum lembut dengan wajah merah padam.
"Aku mencintaimu"
"Ya, aku juga"
"Ngomong-ngomong, aku belum mandi."
"Sama."
"Mau mandi bersama?"
"Dalam mimpimu, Ferraldo!"