
"Namanya adalah Samuel" Dia yang akan menggantikan posisiku di perusahaan untuk sementara."
Semua orang menatap kagum akan penampilan Samuel yang tak biasa. Rambut blonde, mata biru serta anting di telinga hampir meragukan keyakinan para karyawan jika orang tersebut mampu diandalkan untuk perusahaan.
Belum lagi bawahan Samuel yang tampak seperti orang tegas dan serius. Mereka tidak habis pikir Gio memiliki sepupu yang luar biasa. Gen keluarga Gio memang tidak bisa diremehkan.
Jefri mendekat. Berbisik di telinga Gio. "Anda yakin menyerahkan perusahaan pada dia?"
Gio melengkungkan senyum. Dia menganggukkan kepala yang membuat semua karyawannya terkejut termasuk Yuna.
Wanita tersebut menatap tajam ke arah Samuel dan dibalas senyum manis olehnya.
"Akan kutunjukkan ruang kerjaku, Sam." Gio melangkah lebih dulu fan diikuti Samuel di belakang beserta para bawahannya.
"Aku tidak ingin berpikir buruk tapi aku tidak melihat ada wibawa sama sekali pada sepupu tuan Ferrald." komentar salah satu karyawan yang rupanya berpikir sama dengan Yuna saat ini.
Wanita cantik itu cemas keberadaan Samuel malah mendatangkan masalah. Tetapi dia tidak ingin dikuasai pikiran negatif. Jika atasannya begitu yakin menyerahkan perusahaan pada Samuel, itu artinya Yuna mau tidak mau harus membuang pikiran buruknya dan percaya pada pria berpenampilan nyentrik tersebut.
Jefri mengikuti kemana atasannya pergi dengan Samuel. Pria berambut blonde tersebut mencoba duduk di kursi putar milik Gio. "Apa aku sudah terlihat keren?" tanyanya.
Gio hanya mengulas senyum. "Sekarang kita pergi ke rumah. Ibu sudah menunggumu."
"Baiklah." Samuel pun berdiri. "Kalian semua tetaplah disini dan beristirahatlah di tempat yang sudah Gio tunjukkan tadi. Jangan lupa berbaur dengan karyawan Gio serta jangan buat ulah."
Para bawahan Samuel menundukkan kepala tanda mengerti akan perintah atasannya. Namun sebelum Gio mengajak Samuel pergi Jefri mencekal tangan Gio dan membuatnya terkejut. "Maaf, tapi tuan Ferrald, bisakah kita bicara sebentar?"
Samuel melotot tajam. Ia merasa tak suka tangan Gio dipegang oleh bawahan yang harusnya menghormati atasannya. "Kamu keterlaluan. Meski seorang sekretaris, tidak baik berperilaku kasar macam begitu!"
"Dia temanku. Kamu tidak perlu marah," kata Gio pada Samuel. "Kita bisa bicara nanti Jef. Untuk sekarang biar aku mengantar Samuel dulu."
Jefri pun melepas cengkeramannya perlahan. "Baiklah, maafkan saya tuan Ferrald."
"Tak apa." Gio memasang ekspresi ramah yang membuat Samuel jengkel. "Kamu terlalu baik pada semua orang. Itu bisa membuatmu mudah dipermainkan orang-orang," gerutu Samuel hingga memasuki mobil Gio.
"Orang yang bersikap baik akan dibalas dengan baik juga. Dan orang yang jahat tentu akan dibalas jahat. Itu adalah persepsiku. Aku tidak akan melanggarnya"
"Cih!" Samuel berdecih. "Aku jadi ingin memutar musik. Boleh kulihat kamu memiliki musik jenis apa disini?" tanpa menunggu jawaban dari Gio, Samuel langsung saja mengambil ponsel pria itu dan membuka lockscreen.
Matanya terkejut melihat wallpaper ponsel milik Gio. Seorang gadis yang tengah tertidur mengerutkan alis Samuel dengan batin bertanya-tanya. "Siapa?"
"Ah aku baru saja ingin mengenalkannya padamu. Dia adalah Gea." Gio tertawa kecil.
"Pacarmu?"
"Bukan. Untuk sekarang status kami masih belum jelas. Tapi kuharap aku bisa meminangnya suatu saat nanti."
Mendadak suasana hati Samuel buruk. Dia merasa marah namun tidak mengatakannya pada Gio. Mulutnya membentuk seringai, "Aku jadi penasaran seperti apa dirinya hingga membuatmu begitu menyukainya?"
✒️✒️✒️
"Besok?" Gea mengerutkan kening. Tangannya masih setia menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga. Bian tiba-tiba menelpon dan beruntung Gea masih belum bersiap untuk tidur malam.
"Iya besok. Ada festival yang berlangsung sore hari. Aku ingin mengajakmu kesana, sekalian ada yang mau aku bicarakan."
"Mengapa tidak sekarang? Kamu kan bisa mengatakannya"
"Besok saja oke? Nanti akan kujemput."
"T-Tapi Bian-"
"Aku tidak terima penolakan. Daahh"
Gea tersentak. Bian benar-benar memutus panggilan mereka. Gadis itu menghela nafas, padahal besok, Gio juga mengajaknya pergi. Sekarang Gea bingung harus menuruti perkataan siapa.
'Besok kamu ada waktu?'
'Mau jalan-jalan?'
Gea membaca ulang isi chat dari Gio. Gadis itu pun membalas.
'Maaf..'
'Besok aku sudah ada janji.'
Belum satu menit, ia pun mendapat balasan.
'Baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali..'
'Ngomong-ngomong, jika aku mengajakmu ke luar negeri, kamu mau?'
Teks kedua menaikkan kedua alis Gea.
'Tidak perlu. Aku yang akan memesankan tiket.'
Gea terdiam. Gio hanya guru tidak tetap di SMA dan bayarannya juga tidak sebesar karyawan kantoran. Gadis itu ragu Gio mampu membawanya jalan-jalan keluar negeri.
'Kamu sungguh memesankannya?'
'Ya, kamu mau ikut?'
'Entahlah, akan kupikirkan dulu'
'Baiklah, hubungi aku jika kamu mau ^_^'
Gea menaruh ponselnya diatas nakas. Merenung akan perasaannya yang merasa aneh. Sejauh ini bagi Gea, teman lebih penting daripada Gio. Apakah tindakannya salah?
✒️✒️✒️
"Apartemen?" Mia mengalihkan pandangan. Alvan tersenyum. "Ya, untuk sementara sampai rumah kita selesai dibangun."
"Dimana?"
"tidak jauh dari sini, dan kita masih bisa berkunjung kemari setiap waktu." Alvan menunjukkan dekorasi apartemen yang dipilihnya pada Mia. "Simple kan? Harga sewanya juga tidak terlalu mahal. Lagipula kita sudah menikah dan aku merasa tidak enak kalau masih tinggal di tempat orang tua."
Mia menatap haru kemudian merangkul Alvan senang. Wanita tersebut bertanya, "Kapan kita bisa pindah?"
"Mungkin minggu depan atau lebih cepat dari itu. Nanti aku akan ditelfon oleh pihak apartemennya jika kamar kita sudah siap."
"Aku mencintaimu, Alvan."
Perkataan Mia yang mendadak membuat Alvan meledakkan tawa. "Ya, aku juga mencintaimu, gendut."
"Hei! Aku sudah langsing ya sekarang," protes Mia tak terima dirinya diejek.
"Iya iya istriku yang manis," balas Alvan sambil mengecup ringan bibir Mia, lalu memeluknya erat.
✒️✒️✒️
Mary memasang ekspresi bahagia. Dia menyambut Samuel dengan pelukan hangat. "Astaga, Sammy sudah besar," katanya.
"Apa kabar Bibi Mary?"
"Baik, wajahku masih tampak masih muda bukan?"
"Oh tentu. Bibi, bahkan terlihat fresh dan semakin cantik." Samuel mengacungkan jempol dan dibalas tawa malu oleh Mary.
"Kamu sudah makan?" Mary bertanya.
"Belum.." Samuel memanyunkan bibir. "Ngomong-ngomong, aku rindu masakan Bibi," lanjutnya.
"Baiklah, kita makan malam dulu."
Mary pun mengajak Samuel serta Gio masuk ke ruang keluarga dan makan malam disana. Sikap Samuel yang ceria membuat Mary terus menerus menggelak tawa hanya karena tingkahnya. Sudah lama Gio tidak melihat ibunya tertawa lebar seperti ini.
"Paman Hendry dimana?" tanya Samuel sambil menyuap nasi.
"Masih kerja. Mungkin pulang malam."
"Ah begitu.."
Samuel pun mengunyah makanannya. Ia membiarkan nasi di mulutnya tertelan lebih dulu. "Gio bercerita padaku bahwa dia dijodohkan, apa itu benar Bi?"
Gio mengalihkan atensi karena Samuel tiba-tiba membahas perjodohannya. Mary terkejut sesaat, selanjutnya dia tersenyum malu. "Iya, aku baru saja ingin mengatakannya. Kamu ingin bertemu dengannya? Calon istri Gio sangat manis, kamu pasti akan menyukainya juga."
"Mungkin lain kali," sahut Samuel sedikit tak peduli.
"Oh ya, Sammy mau tidur dimana? Disini mau? Bibi kesepian karena suami dan putra Bibi yang sibuk bekerja. Sammy mau kan nemenin Bibi?"
Awalnya Samuel ingin menolak namun wajah Mary yang tampak memohon padanya membuatnya merasa tidak enak.
"Iya, kamu istirahat saja disini, sekalian temenin ibu. Besok saja kita jalan-jalan." Kata Gio menyahuti. Menambah beban pikiran Samuel dan pada akhirnya pria tersebut pun mengangguk.
"Baiklah, aku mau."
Mary pun kegirangan dan memeluk Samuel erat.
Samuel mungkin tersenyum dan terlihat bahagia tapi disisi lain ia merasa sedih.
'Padahal aku ingin berada di tempat tinggal Gio.'