
Grace dan Bian tiba di bandara. Wajah Bian tampak gelisah membuat Grace bertanya-tanya. "Ada apa?". Bian menggeleng, "Tidak ada."
Mereka menunggu sesaat sampai waktu penerbangan tiba. "Kamu tidak mengatakannya pada Gea?" Grace bertanya. Sekali lagi Bian menjawabnya dengan kata singkat. "Tidak."
Putranya itu terlihat tidak baik sejak kemarin malam. Grace rasa Bian sudah mengetahui bahwa Gea akan menikah. "Kamu masih dapat menemukan seseorang yang mencintaimu, Bian. Yang mau menunggumu, mau mendengar keluh kesahmu dan selalu disampingmu. Carilah gadis yang baik melebihi Mama agar rumah tanggamu juga akan berjalan dengan baik." perkataan Grace mengalihkan atensi Bian.
"Ma, jangan pikirin Bian. Mama harus cari orang yang mau mendampingi Mama dan lebih baik dari Papa. Agar saat Bian tidak ada, Mama tidak kesepian."
Tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini selain Bian bagi Grace. Permata berharganya itu amat disayangi sejak dia lahir ke dunia.
Suara pemberitahuan terdengar. Penerbangan mereka akan segera dilakukan dan saat hal itu terjadi, gadis berambut panjang berlari ke arah mereka.
"Bian, tunggu!"
Bian memandang kaget, "Chesi?"
Grace mengulas senyum. Dia berbisik ke telinga Bian. "Mama tunggu kamu di dalam. Manfaatkan waktu sebelum kita pergi, Bian," ucapnya.
Bian terdiam. Di depannya, Chesi berdiri dengan nafas tak beraturan. Membawa sebuah rajutan syal berwarna merah. "Aku mencari info jika di Kanada sebentar lagi musim dingin."
Daripada fokus ke arah syal, Bian justru menatap luka pada jemari Chesi. "Kamu membuatnya untukku?"
Rona merah menjalar. Chesi menutupi jemarinya yang terluka. Bian mengangkat kedua tangan Chesi agar memakaikan syal tersebut pada lehernya. "Aku tidak tau kamu pandai merajut. Pakaikan saja syal nya di leherku seperti ini."
Mata Chesi berair. Ia tidak kuasa menahan perasaannya waktu itu. "Hei,jangan menangis." Bian mengusap air mata Chesi dengan lembut. "Kamu begitu mengkhawatirkanku sampai tidak tidur semalam? Kantung matamu terlihat hitam tapi anehnya tidak mengurangi kecantikamu sama sekali."
Chesi tidak berkata apapun. Dia terlalu bahagia hingga tidak dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Aku pergi dulu, terima kasih sudah memberikanku barang yang indah." Bian membalikkan badan dan melangkah menjauh. Sebelum pertemuan mereka berakhir, Bian menoleh ke arah Chesi, tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
Tidak ada yang tahu pasti akan takdir mereka. Dan tanpa sepengetahuan Chesi, Bian berharap ia dapat bertemu dengan gadis itu lagi.
✒️✒️✒️
Beberapa minggu kemudian..
Gea terdiam di ruang tunggu. Memandang layar ponselnya sedih. Semenjak ia mengatakan bahwa dia akan menikah, Bian sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan saat Gea sudah dengar jika Bian telah pergi ke Jerman sungguh menyakitkan hatinya. Mereka bersahabat sedari kecil dan Bian tidak mengatakan apapun kalau dia akan pergi.
Mengapa?
Apakah karena Bian tidak ingin menemuinya lagi?
"Gea,ini waktunya." Bobby menjemput Gea untuk menuju altar. Gadis yang selesai dirias itu tampak sangat cantik dan anggun dengan gaun putih off shoulder.
Gea mengaitkan tangannya pada sang Papa. Berjalan sembari memegang bunga ke arah Gio Ferraldo. Mengalihkan semua arah pandangan pada dirinya seorang. Teman-temannya di SMA tampak tidak percaya akan pernikahan Gea dengan sosok Gio yang pernah menjadi guru biologi mereka. Begitu pula dengan para guru dan kepala sekolah. Mereka semua hadir kecuali aatu orang.
Satu orang yang selama ini ada disamping Gea.
"Harusnya kamu tidak buru-buru pergi ke Jerman." Chesi berkata pada seseorang di ponselnya sambil mengarahkan kamera ke Gea.
'Bahkan dalam jarak jauh seperti ini dia terlihat sangat cantik,' komentar Bian.
"Aku dengar kamu tidak menjawab pesannya satu pun. Mengapa kamu melakukan itu?"
'Aku tidak ingin mengganggunya dan aku tidak mau jadi beban pikirannya sampai pernikahannya selesai.'
"Justru karena kepergianmu lah, dia kepikiran. Gea tampak sedih akhir-akhir ini," Chesi mendengus.
'Ches, bolehkah aku minta tolong lagi padamu?'
✒️✒️✒️
Gio menyematkan cincin pada jari manis Gea, begitu pula sebaliknya. Janji suci telah diucapkan. Dan ketika Gea selesai memyematkan cincin di jari Gio, semua orang di auditorium bertepuk tangan. Mereka memberikan ikatan dengan berciuman di depan para hadirin. Membuat syok semua orang atas perlakuan mereka.
'Ini adalah pernikahanku dengan Gio, tidak baik jika aku bersedih karena Bian. Aku tidak ingin menyakiti hati Gio saat momen bahagia seperti ini,' batin Gea melanjutkan ciuman panas mereka.
Setelah puas, ciuman pun terlepas. Keduanya tertawa karena hampir kehabisan nafas. Gea memeluk Gio, merasa senang karena akhirnya hubungan mereka kini sah. "Aku mencintaimu. Sangat sangat.. mencintaimu," kata Gea.
"Aku juga mencintaimu. Mencintaimu sampai akhir hayatku."
Gea mengikuti Chesi dari belakang. Menuju ruangan sepi dan menunjukkan sesuatu padanya.
"Ada yang ingin bicara denganmu."
Chesi memberikan ponselnya ke Gea dan meninggalkan gadis tersebut untuk bicara berdua.
Mata Gea membulat menatap pemuda di layar ponsel Chesi. Seseorang yang sudah lama tidak ia dengar kabarnya.
'Hai.'
"Apanya yang hai? Beraninya kamu pergi tanpa bilang padaku, Bian!" Gea langsung menyemburnya dengan amarah. Matanya menitikkan air mata membuat Bian tidak tega.
'Maaf,' hanya sepatah kata yang bisa Bian ucapkan. 'Aku hanya tidak ingin mengganggumu,' lanjut Bian disertai senyum tipis.
Gea mengusap air matanya yang mengalir. Ia mendadak jadi cengeng hanya karena Bian. Pemuda itu masih menatap Gea tanpa jeda. 'Kamu sangat cantik,' ia memuji.
Gea mengalihkan perhatiannya. 'Kamu sangat cantik dengan gaun itu Gea. Membuatku merasa kesal karena hanya bisa melihatmu dari ponsel.'
"Bian?"
'Jika Gio melakukan sesuatu yang buruk padamu atau membuatmu menangis, kamu harus bilang padaku.'
Ucapan Bian mengejutkan Gea terlebih sahabatnya itu tidak lagi memanggil Gio secara formal seperti biasanya.
'Aku senang kamu bahagia meski aku berat hati melepasmu pada Gio Ferraldo,' ungkap Bian jujur. 'Tapi sekarang tak apa, aku akan mulai menerimanya secara perlahan. Jika takdirku bukan tertuju padamu maka setidaknya aku masih bisa melindungimu.'
"Bian..aku....minta maaf."
'Tidak Gea, akulah yang harus meminta maaf padamu. Aku terlalu terbawa perasaan padahal hubungan kita bukanlah hubungan yang spesial.'
Ada jeda yang diberikan Bian sebelum mengakhiri panggilan. 'Terima kasih. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Dan berbahagialah Gea. Selamat atas pernikahanmu.'
Di lain sisi, Gio mencari keberadaan Gea. Pria itu menemukan istrinya sedang bersama Chesi. "Kamu kemana saja, aku mencarimu," Gio berkata khawatir.
"Si cebol ngilangan mulu, heran." Samuel meledek membuat Gea reflek menginjak kakinya sebal.
"Aduh! Justin, lihat apa yang cebol ini lakukan!" Samuel mengadu pada sosok gadis berambut pendek berwarna pirang layaknya laki-laki, lengkap dengan pakaian tuxedonya. Jujur, waktu gadis ini datang, Gea pikir dia beneran seorang laki-laki.
"Jadilah dewasa Sam. Aku bukan ibumu yang bisa kamu buat untuk tempat mengadu," Jawab Justin sedikit terbata karena pengucapan bahasanya yang masih belum fasih.
Gea dan Chesi tertawa.
Inilah awal Gea memulai kehidupannya yang baru.
Bersama keluarga baru.
Serta suami tercintanya.
Gea yakin bahwa hanya Gio yang ia cintai dan pria itu tidak akan menyakitinya seperti yang Bian khawatirkan.
Namun, bertepatan dengan hari bahagianya, sebuah email masuk dan memberitahukan bahwa...
'Selamat atas Gea Emeralda, anda diterima di UI..'
✒️✒️✒️
Justina Althea
see you in next chap gaesss♥️