
Srreekk!!
Gea membuka gorden. Membiarkan cahaya masuk menerangi kamar dan membangunkan Gio yang masih terlelap dengan telanjang setengah badan.
Gea menengok. Salah satu tangannya senantiasa memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kamu tidak kerja?" Gea bertanya. Menghampiri Gio mulai merangkak ke dirinya dan merebahkan kepala di pangkuan Gea.
"Aku ingin istirahat sebentar. Kita tidak pernah punya banyak waktu berdua," keluhnya dan dibalas tawa ringan oleh Gea.
"Tingkahmu seperti anak kecil." Gea mengelus kepala Gio gemas.
Gio mendongak. Menatap dalam mata sang istri. "Mau jalan-jalan?"
"Tapi tugasku belum kelar."
"Nanti aku bantu nyelesaiin. Lagipula hari ini kuliahmu kan libur."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Tidak masalah. Tidak ada jadwal penting jadi kita jalan-jalan yuk?"
Mendengar permintaan Gio yang cenderung seperti memaksa membuat Gea tidak bisa menahan untuk tidak senyum karena saking senangnya. Dia pun mengiyakan ajakan Gio dan bersiap berangkat.
✒️✒️✒️
"Padahal ini momen membahagiakan malah macet begini." Gio menekuk bibir sedih. Sudah hampir dua jam mereka terjebak di jalan. Tidak ada celah sama sekali untuk lewat.
Gea berusaha menenangkan. "Bersabarlah, sekarang memang menjelang tahun baru jadi wajar kalau macet."
"Tapi gimana dengan liburannya? Aku sudah berencana berlibur denganmu seharian penuh tapi kalau terjebak macet begini.."
Gea terdiam. Wajah Gio begitu murung. Dan entah mengapa terlihat aneh. Tidak, Gea baru menyadari bahwa sikap Gio aneh dari semalam. Gerangan apa yang telah membuatnya seperti ini?
"Gio, kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan Gea mengundang keernyitan di dahi Gio. "Eh?"
"Sikapmu mencurigakan. Ada apa? Sejak semalam kuperhatikan rautmu seperti khawatir. Apa ada yang kamu pikirkan?"
Awalnya Gio tidak mau menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya. Menyorot sendu ke bawah. "Aku takut kamu diambil dariku," jawab Gio jujur pada akhirnya.
Gea terkejut. "Siapa yang bilang begitu?"
"Seseorang.."
Gio tidak menyebutkan lebih detail. Dia menoleh dengan senyum tipis. "Kamu tidak akan meninggalkanku kan?"
"Tentu tidak," jawab Gea tegas. Mencium bibir suaminya sesaat. "Aku sudah berjanji akan bersamamu hingga akhir hayatku."
Perkataan Gea sediiit membuat hati Gio lega. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pikirannya masih gelisah. Gio tidak tahu apakah ada badai yang menerjang mereka atau tidak.
✒️✒️✒️
"Maaf, padahal aku sudah berencana mengajakmu ke tempat yang indah," kata Gio lemah.
Gea memandang sekeliling. "Meski hanya makan malam, itu tidak masalah. Selama ada kamu semuanya terasa indah," ujar Gea tersenyum tipis.
Langit bertabur bintang diatas sana menghibur keduanya. Restoran yang dikunjungi cukup bagus dan pelayanannya juga baik. "Ini adalah tempat dimana papamu pernah menawarkan perjodohan antara aku denganmu," ungkap Gio.
"Sungguh?" Mata Gea melebar.
"Ya, dan ini juga tempat pertama kali aku bertemu dengan papamu sekaligus tau bahwa dia memiliki seorang putri yang selama ini kucari-cari."
"Harusnya aku mengajakmu kesini sejak awal," tambah Gio. "Ini salahku. Maafkan aku."
Alunan musik terdengar. Rupanya melodi merdu itu berasal dari seorang pelayang yang memainkan sebuah biola.
"Aku sering melihat ini di drama." Gio berdiri. Meminjam biola dari sang pelayan dan mencoba memainkannya.
Gea terdiam. Matanya tak sanggup beralih dari kelihaian jemari Gio yang memainkan biola seolah sudah profesional.
Melodi lembut dan dan melankolis itu menyentuh hati Gea yang terdalam. Keping demi keping ingatan berputar. Dimana Gio menjadi guru biologinya, menggoda Gea, hingga perjodohan mereka.
Gea bisa merasakan cinta amat besar yang diberikan Gio Ferraldo padanya. Orang yang tidak pernah sekalipun berniat menyerah mendapatkan hatinya.
Tepuk tangan meriah dari pengunjung restoran terdengar keras. Gio tersenyum malu. Dia mengembalikan biola pada sang pelayan dan kembali ke tempat duduk.
"Astaga, aku lupa kalau banyak orang disini," katanya menutup wajahnya yang merah.
Gea tertawa. "Tapi permainanmu tadi bagus sekali," puji Gea.
"Oh ya? Kalau begitu kamu harus memberikan hadiah padaku."
Gio melebarkan senyum. Memandang Gea intens. "Hadiah... Hadiah.." pria itu mulai menggoda. Bertingkah menggemaskan di depan Gea.
"Jangan memancingku!" Gea berseru. Wajahnya merah padam lalu berdiri. "A-Aku mau ke toilet sebentar," elaknya dan pergi meninggalkan Gio yang tertawa menatapnya.
✒️✒️✒️
"Si Gio itu selalu saja membuatku begini." Gea menggerutu. Membasuh tangan di wastafel dan melihat dirinya di depan cermin.
"Selama dengannya aku jadi cantik," kata Gea pada dirinya sendiri. "Aku tidak pernah melihat diriku yang seperti ini sebelum bersama Gio." Gea merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan lipgloss yang kemudian ia oleskan pada bibirnya.
"Gea, kamu cantik sekali. Pantas Gio bucin kepadamu," lagi-lagi Gea berkata sendiri. Tidak ada orang selain dirinya di dalam toilet jadi Gea tidak khawatir. Rambutnya yang dulu sebahu mulai memanjang dan Gea biarkan terurai.
Gadis itu berjalan keluar dari toilet namun sosok pria mengagetkanya begitu Gea berada di ambang pintu.
"K-Kamu!" Gea membelalakkan mata bertemu dengan Ryo di situasi yang tidak terduga.
"K-kamu kerja disini?" Gea bertanya ketika melihat baju yang Ryo kenakan. Sama seperti pelayan di restoran yang ia kunjungi.
"Aku kerja paruh waktu disini."
"L-Lalu kenapa kamu ada di depan toilet perempuan? Mau mengintip ya?"
"Enak saja kalau bicara. Aku disuruh menemui Esla, dia sedang membersihkan kamar mandi."
"Esla? Siapa?
"Mencariku?" Seorang wanita tiba-tiba berjalan dari arah belakang Gea sambil membawa kain pel.
"Eh kok! J-Jadi daritadi ada orang!" Gea gelagapan. Merasa malu dengan sikapnya saat di kamar mandi. Pasti wanita hernama Esla ini sudah mendengar semuanya.
"Manager mencarimu." Jawab Ryo.
Esla menghembuskan nafas. Ia menyerahkan kain pel pada Ryo. "Kembalikan alat ini," suruhnya dan pergi.
Gio menurut saja. Toh, Esla lebih tua darinya jadi tidak baik dia membantah.
"Kenapa kamu masih berdiri disini?" Ryo bertanya. Gea masih kikuk. "Aku mendengar kericuhan di atap. Entah apa yang terjadi tapi sepertinya ada adegan romantis."
"Oh itu.." Gea mengalihkan pandangan mata. Seseorang menginterupsinya. Memandang dari kejauhan dengan muka datar.
"Gio."
"Kamu lama sekali, jadi aku berniat untuk menjemputmu. Makanan yang kita pesan sudah dihidangkan di meja."
Gio mengulas senyum tapi sesaat kemudian dia memandang pria yang bersama Gea. Gio menarik lengan istrinya untuk mendekat. "Ayo Gea," ajak Gio dan pergi meninggalkan tempat.
✒️✒️✒️
"Temanmu?" Entah mengapa dalam hitungan detik perkataan itu membuat suasana makan malam jadi mencekam.
Gea mengangguk ringan. Memotong steak di piringnya dengan tenang. "Aku kenal dia beberapa hari yang lalu."
"Sekelas?"
Kali ini Gea menggeleng.
"Kalian tidak sekelas tapi terlihat begitu akrab."
Sontak Gea menaruh garpu dan pisaunya di meja. "Apakah suamiku saat ini sedang cemburu?" Tanyanya menyeringai.
"Kamu menggodaku? Gea aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan orang tadi."
"Wah wah.. marah nih." Gea semakin menggodanya membuat Gio memerah karena malu dan kesal.
"Aku suamimu jadi aku berhak untuk itu"
"Berhak apa?"
Gio memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya. Mengunyah perlahan sementara garpu masih melekat di hibirnya.
"Berhak untuk cemburu.." pria itu bergumam tanpa melihat ke arah Gea, dan jangan lupakan wajahnya yang merah padam.
Gea cekikikan. Gio sangat menggemaskan. Gadis itu pun mencondongkan tubuhnya mendekat. Berkata dalam nada bisikan.
"Kamu akan mendapat hadiah karena ini."
Gio tak kuasa menahan senyum menantikan hadiah yang dijanjikan Gea untuknya.
Apakah ini akan menjadi malam yang panjang?