
Bel rumah berdenting. Lisa menghentikan aktifitas memasaknya dan menuju pintu.
"Pagi tante." Bian menyapa ketika Lisa membukakan pintu. "Pagi, Mencari Gea?" tanya Lisa.
Belum sempat Bian menjawab, seseorang berteriak di belakang Lisa.
"I'm coming!" Gea menuruni anak tangga. Ia menggunakan setelan kaos putih berukuran big size berwarna putih dengan jeans panjang dan rambut dikuncir dilengkapi poni depan lurus.
"Kalian mau pergi bersama?" Lisa bertanya. Gea mengangguk mengiyakan dan langsung berpamitan. "Mungkin Gea pulang agak sore an Ma, soalnya nanti sekalian ke festival. Gea pergi dulu ya Ma," kata Gea sembari menarik Bian menuju motornya yang terparkir di halaman.
"Kami pergi dulu, tante Lisa," pamit Bian dan dibalas senyum paksa oleh Lisa. "Hati-Hati," balasnya pelan.
Bian dan Gea pun berangkat dan setelah bayangan mereka tak terlihat, barulah Lisa mengambil ponsel dari saku celemeknya.
"Gio, kamu dimana?"
✒️✒️✒️
"Saya sedang ada meeting sebentar, Mama Lisa." Gio mengambil jarak agak jauh dari meja meeting untuk menjawab panggilan.
'Ah, maaf sudah mengganggumu. Tapi bisakah nanti sore kamu datang ke festival?'
Gio menarik senyum. "Tentu, kebetulan saya juga mau kesana."
'Baguslah,pastikan kamu datang karena Gea juga disana.'
"Tapi, bukankah Gea sedang ada janji dengan seseorang?"
'Itulah mengapa Mama ingin kamu kesana. Sekarang lanjutkan saja meetingmu. Good luck calon menantuku!'
Selepas mengatakannya, Lisa mengakhiri percakapan. Gio menatap ponselnya tak mengerti. Apa maksud dari perkataan Lisa yang terakhir?
✒️✒️✒️
Samuel berada di ruang depan dan duduk di sofa dengan ekspresi bosan. "Lama amat meetingnya," keluhnya. Pria itu berdiri kemudian berpesan pada salah satu bawahannya sambil menarik kunci mobil dari sakunya.
"Gio menyerahkan kuncinya padaku jadi aku akan meminjam mobilnya ssbentar. Sampaikan padanya."
Bawahannya mengangguk mengiyakan.
Samuel memakai kacamata hitam sebelum mengendarai mobil milik Gio Ferraldo. Pria itu menyetir pelan seraya melihat jalanan kota.
Hampir setengah jam berlalu, ia memutuskan pergi ke arah mall. Pria itu memarkirkan mobil dan keluar, memasuki mall.
Semua pandangan tertuju kepadanya. Mungkin karena penampilan Samuel yang berbeda dari orang-orang, membuat dirinya jadi tontonan. Bagaimana tidak? Rambut blonde, mata biru, anting di telinga dan kulit pucat cukup menyita perhatian. Dandanannya yang berbeda mengakibatkan banyak siswi yang menjerit padanya karena dikira seorang idol Korea.
Samuel tak memedulikannya dan terus berjalan hingga ia menuju spot makanan untuk membeli minum.
Seseorang menyenggolnya, membuat Samuel hampir berteriak marah namun setelah melihat wajah sang pelaku, dia terdiam.
"Ah, sorry," ucap pemuda dengan rambut hitam legam yang memiliki tinggi sekitar 177 cm, tidak jauh dari Samuel yang memiliki tinggi 180 cm.
'Sialan, masih bocah tapi cakep bener' batin Samuel mengumpat.
Seseorang menghampiri. Menarik lengan pemuda yang sempat menabrak Samuel tadi.
"Aku sudah menemukan tempat duduk," ucapnya.
Samuel memerhatikan. Wajah gadis berambut pendek itu tampak tidak asing.
"Baiklah kita kesana."
Sebelum pergi, Bian sempat memandang samuel lagi, dan meminta maaf padanya.
Samuel terkesima. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya pada mereka berdua.
Pesanan minumannya selesai. Samuel kebingungan mencari tempat duduk, pasalnya semua penuh. Belum lagi para siswi yang mengikuti dirinya dan mengambil gambar tanpa ijinnya.
"Oy!" seseorang memanggil. Pemuda itu mengode Samuel untuk kesana. "You can sit here," lanjutnya menepuk sebelah kursi yang kosong.
Samuel mendekat. Memandang datar pemuda yang ditemuinya. "Aku bisa berbahasa Indonesia," jelasnya.
"Oh, aku hanya mengetes kamu tadi. Maaf."
'Damn it! Bocah ini menyebalkan!'
Samuel duduk tanpa bicara. Seorang gadis berambut pendek memandangi Samuel dari atas hingga bawah. "Tampilanmu tidak biasa. Sepertinya kamu bukan orang sini ya?"
"Kalian masih bocah tapi berbicara padaku dengan tidak sopan. Umurku lebih tua dari kalian," kata Samuel seraya menyeruput minumannya.
"Memanggilmu secara sopan hanya akan membuat canggung. Lagipula kamu juga bukan kakek-kakek. Atau jangan-jangan kamu sudah menjadi seorang ayah ya? Makanya kamu tersinggung?" sang pemuda membalas dan Samuel langsung tersedak.
"E-Enak saja! Aku masih virgin!" jawab Samuel.
Merasa kalah, Samuel memijat keningnya. Gadis di hadapannya mengambil tisu dan mengusap dagu samuel yang ternoda ice Coffeenya.
"Kulitmu bagus banget. Bian aja masih ada gradakannya."
Pemuda yang dimaksud menoleh dan memicing tajam. "Gea, bisa gak sih kamu gak ngomongin gradakan muka di depan orang asing?" protes Bian kesal.
"Loh, aku kan gak sengaja. Tadi itu keceplosan," sahut Gea sok polos.
"Dasar!" Bian menyubit pipi Gea. "Sakit Bian!" Gea meringis lalu membalas Bian dengan tamparan di pipi. Mereka pun saling bertengkar dan cakar-cakaran di depan Samuel.
'Mereka kenapa sih?' batin Samuel.
Namun detik itu dia sadar.
Barusan pemuda bernama Bian, memanggil gadis di sebelahnya dengan nama Gea.
Gea?
Bukankah Gea adalah gadis yang dijodohkan dengan Gio?
Samuel menggelengkan kepala. Mengingat nama Gea tidak mungkin hanya satu orang. Lagipula gadis di depannya ini biasa saja, dan menjadi pasangan hidup bagi Gio Ferraldo sangatlah kurang.
"Oh, ya namamu siapa?" tanya Gea. Samuel terperanjat. Mereka akhirnya selesai bertengkar dengan rambut Bian yang acak-acakkan sementara Gea masih sama seperti sebelumnya.
'Mungkin tenaga gadis ini lebih besar darinya,' pikir Samuel.
"Samuel Richard, panggil saja Samuel."
"Aku Gea dan si jelek ini namanya Bian. Kamu blasteran?"
"Ya. Ibuku warga negara Korea Selatan sementara Ayahku berasal dari Indonesia yang menetap di Thailand."
"Pantas kamu lancar berbahasa namun logatnya terdengar berbeda."
Samuel mengangguk. "Ya, kamu benar. Sudah lama aku tidak kemari jadi aku masih belum terbiasa dengan logat bahasa orang-orang disini."
"Gea, filmnya sudah mulai. Kita nonton sekarang." Bian berdiri dan diikuti Gea. "Kami pergi dulu. Kamu mau ikut nonton?" tanya Gea.
Samuel menggoyangkan tangan. "Tidak, aku ada urusan setelah ini. Kalian pergilah."
Bian dan Gea pun oamit menuju lantai atas. Mereka meninggalkan Samuel sendirian disana. Hingga kemudian seseorang menghampirinya dan menoel Samuel.
"Kamu gay ya?" bisik pria berkumis tipis dan mengagetkan Samuel. "Pria sejati tidak akan berdandan nyeleneh begini. Mau bermain denganku?"
Suasana yang ricuh mengakibatkan tidak banyak orang yang mendengar percakapan mereka. Mata Samuel menajam dan hendak pergi tanpa berkata tapi pria berbadan kekar itu mencekal tangannya.
"Jangan khawatir, aku juga sama sepertimu. Kita saling memahami."
"Lepas, bangsat!" seruan Samuel mengalihkan atensi semua orang. Pria berkumis itupun melepas cengkeramannya dan membiarkan Samuel pergi.
Jantung Samuel berdegup kencang karena syok dan takut. Dia berjalan cepat dan tampak linglung sampai tidak sadar menabrak orang. "M-Maaf"
"Sam." Samuel mengangkat kepala. Melihat gadis berambut pendek yang ditemuinya beberapa waktu lalu. "Gea?"
"Kamu kenapa?"
Samuel tidak menjawab. Dia memeluk Gea erat. "Takut.. Pria itu.. Dia menakutkan."
"Tidak apa, tadi aku sempat khawatir karena meninggalkanmu. Kamu seperti anak tersesat dan terlihat tidak tau apapun. Jadi aku datang untuk mengecekmu sebentar."
Samuel melepas pelukan. Memandang Gea dengan mata sedikit berkaca-kaca. "Kamu cemas padaku?" tanyanya.
"Emm.. Ya.. Abis aku gak ngerti mengapa aku khawatir. Jadi aku ngomong ke Bian untuk mengecekmu sebentar."
Mendengar kalimat Gea, Samuel merasa terharu. Tapi dia menyembunyikan dan memasang ekspresi sok tegar serta kuat di depannya. "Ehem, kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa menjaga diri dengan baik kok," katanya pede tingkat tinggi.
"Tapi bukannya tadi kamu ketakutan?" Gea bertanya.
"Oh, itu hanya akal-akalanku saja. Sejujurnya aku hanya sedikit takut karena pria itu menempeliku. Nanti kalau aku diculik gimana? Jadi aku sesegera mungkin kabur darinya."
"Itu namanya kamu memang takut bodoh!"
"Sedikit takut dan takut itu beda level. Mengerti?"
Gea memandang datar. Lalu menunjuk ke arah belakang Samuel. "Apa yang kamu maksud adalah pria di seberang sana?"
Sontak Samuel memajukan langkah dan bersembunyi tepat dibalik punggung Gea. "Mana? Apa dia mengikutiku?" Samuel bergidik ngeri.
Gea tidak sanggup menahan tawa. Samuel yang paham gadis itu mengerjainya, mulai marah dan merajuk. "Tidak lucu!" ketusnya.
Gea tersenyum kemudian berjinjit dan membenarkan posisi anting Samuel yang hampir copot. "Baiklah, maafkan aku. Antingmu mau lepas nih? Kamu pasti kurang rapat saat memasangnya."
Perlakuan Gea padanya membuat Samuel bersemu malu. Jantungnya memompa lebih cepat dan aroma Gea menguar di indera penciumannya.
Samuel menelan ludah. Gea selesai membenarkan posisi antingnya dan melihat wajah Samuel yang merah.
"Sam-"
"Gea, aku gay."