
Mentari muncul ke permukaan. Mata Gea terbuka perlahan ketika merasakan cahaya dari luar menyorot kedua matanya.
"Pagi," sapa Gio yang saat itu tengah membuka jendela. "Kamu tidur nyenyak sekali," tambahnya.
Gea mengucek mata dan bangun. Ingatannya masih samar-samar. Gadis itu memerhatikan pakaian Gio yang rapi dengan kemeja navy dan jas hitam pekat. Gea tidak pernah melihat tampilan Gio seperti itu.
Pakaian yang ia kenakan seperti tidak biasanya.
Tunggu...
Gio?
Gea menatap ranjang yang di dudukinya, piyama yang dipakainya, dan Gio di seberang sana.
Jadi semalaman dia ada di rumah Gio?
"AAAAAAAAA!!!"
Gio terperanjat. Dia menoleh pada Gea yang memasang tampang terkejut. "Mengapa kamu berteriak?"
"Mengapa aku disini?" Gea membalas dengan pertanyaan.
"Kamu sudah disini dari kemarin." Gio masih tidak memahami apa yang Gea maksudkan.
"Ya aku tau! Tapi mengapa kamu tidak mengantarku pulang?"
"Kan kamu tidur." Gio menjawab dengan tampang polos dan membuat Gea makin frustasi.
"Kamu kan bisa bangunin aku!" Gadis itu beranjak dari tempat tidur dan berdiri. "Semalaman aku di rumah kamu, dan kamu malah biarin itu? Kalau aku ketiduran, kamu bisa bangunin aku! Gimana pendapat orang-orang nanti? Seumur hidup, aku tidak pernah tidur di tempat tinggal seorang pria!"
"Gea, ini masih pagi. Tidak baik berteriak dan marah-marah seperti itu. Gak enak didengar tetangga." Gio mencoba menyahut perkataan Gea dengan nada lembut, namun gadis tersebut tetap tak bisa menahan emosi dan semakin meninggikan nada bicaranya.
"Ini semua gara-gara kamu tau gak! Kalau aja kamu langsung nganterin aku pulang kemarin, aku gabakal ketiduran di rumah kamu!"
Gea terduduk lemas. Matanya memanas dan gadis itu mulai menangis. Ia terisak-isak karena ini adalah pengalaman pertama yang ia alami. "Bagaimana jika kamu berbuat sesuatu padaku semalam? Aku sudah kotor!"
Pikiran buruk Gea sedikit menyakiti perasaan Gio. "Aku tidak melakukan apapun padamu, percayalah." Gio berusaha menenangkan Gea. Dia mendekati gadis itu sayangnya Gea segera menepis tangannya ketika Gio hendak menyentuhnya.
"Bagaimana aku bisa percaya? Aku tidur di ranjangmu, dan bisa jadi kita tidur berdua disini! Kamu pasti mengambil kesempatan saat aku lengah iyakan?"
Perkataan Gea kali ini benar-benar sadis. Gio tidak habis pikir, gadis itu sangat sarkasme terhadapnya. Gio ingin marah, tapi gadis di hadapannya sedang menangis karenanya dan Gio tidak tega.
"Gea, apa menurutmu aku pria seperti itu?" Mata Gio sendu. Pria itu kecewa dengan Gea yang tidak mempercayainya. Gadis itu tidak menjawab dan menutupi wajahnya sendiri lalu kembali menangis.
Kesabaran adalah kelebihan Gio. Pria itu bisa mengendalikan emosinya dengan baik meski Gea marah kepadanya. Tapi dirinya tidak punya keberanian ketika hati kecilnya ingin memeluk Gea sekarang.
"Maaf. Aku salah, aku hanya tidak mau mengganggu tidurmu. Kamu terlihat lelah saat itu. Dan kamu mungkin benar, tidak seharusnya aku membiarkan hal ini terjadi." Gio mundur beberapa langkah. Saat ini Gea sedang butuh waktu sendiri dan Gio tidak boleh merusaknya.
"Aku sungguh tak berbuat apa-apa padamu selain memindahkanmu diatas tempat tidur. Dan soal kita tidur berdua, itu tidak benar. Semalam aku tidur di sofa agar kamu bisa leluasa."
"Aku sudah membuatkan sarapan. Hari ini aku ada pekerjaan penting. Kamu makanlah terlebih dulu lalu nanti-" Perkataan Gio terhenti ketika dia merasakan seseorang menarik jasnya.
Gio berbalik. Di hadapannya Gea menunduk dengan mata sembab dan wajah yang merah. "Aku.. sudah berkata kasar padamu, maaf." Gadis itu merubah nada bicaranya. Gio tersenyum lalu memeluk dirinya.
Gea tidak menolak. Dia justru membalas pelukan Gio dengan erat. Sejujurnya,berada di posisi sekarang membuat Gea merasa hangat.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku akan menelpon temanku agar untuk mengantarmu nanti."
Gea melepas pelukan dan menggeleng. "Tidak apa, aku bisa pulang dengan naik taksi."
"Kamu yakin?"
Gea mengangguk.
"Baiklah, tapi sebelum kamu pulang sarapanlah lebih dulu. Aku berangkat ya." Gio mengambil tas nya dan ditatap Gea bingung.
"Apa ada tugas di sekolah?"
Pertanyaan Gea dibalas senyum oleh Gio. "Aku sedang tidak ke sekolah." Pria itu terburu-buru. Gea ingin bertanya lebih jauh namun sepertinya Gio tidak ada waktu.
"Gio."
Gea memanggil namanya. Gio menoleh. "Ya?"
"Apa kamu sungguh menyetujui perjodohan kita?"
Bukannya menjawab, Gio justru ikut bertanya. "Bagaimana denganmu?"
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Maaf Gea, tapi aku hampir telambat. Nanti saja kita lanjutkan bicaranya ya." Pria itu segera keluar lalu berpamitan sebelum menutup pintu.
Gea tidak bisa berkata apapun. Gio sudah pergi dari pandangannya. Pria itu berjalan dengan cepat sampai Gea tidak bisa menyusulnya.
"Dia benar-benar pergi," kata Gea putus asa.
✒️✒️✒️
Sementara di basemen, Gio menyandarkan kepalanya pada stir mobilnya. Wajahnya memerah karena kepikiran akan perkataan Gea.
'Apa kamu sungguh menyetujui perjodohan kita?'
"Tentu saja aku sangat menyetujuinya. Apa itu masih perlu dipertanyakan?" Gio berkata sendiri. Tertawa karena tak habis pikir. Jantungnya berdegup terlalu kencang. Sampai Gio sempat berpikir dia terkena stroke ringan.
"Astaga, aku sungguh tidak bisa membayangkan saat tiba waktu untuk menikahinya."