
Ujian.
Haruskah Gea katakan bahwa di ruangan ini adalah ujian bagi Gea seluruhnya?
Pertama, kertas soal yang Gea pegang dan kedua, pria berkacamata di depan sana.
Gio Ferraldo.
Untuk kesekian kalinya ia mengutuk dalam hati. Mengapa dari semua pria di dunia ini, orang tuanya harus menjodohkan Gea dengan gurunya sendiri?
"Waktu ujian tinggal 15 menit lagi."
Bagus sekali Gea. Hari ini kamu sedang ujian fisika dan kamu malah memikirkan pria culun di depan sana. Sadarlah! Kamu belum menjawab satu soal pun!
Gea bergegas meraih bolpoin dan melupakan Gio agar dirinya bisa berfokus pada ujian sekolah kali ini.
"Duh, yang ini aku lupa caranya." Gea menggerutu, tanpa sadar diawasi oleh seseorang di depannya.
"Merasa kesulitan?" Gio Ferraldo. Orang yang sedari tadi Gea pikirkan malah mengumbar senyum seolah mengejek Gea yang sedang kesusahan.
"Waktunya tinggal 10 menit lagi. Dan pastikan semua soal terjawab ya."
Bersabarlah dalam 10 menit Gea. Anggap pria di depanmu ini transparan. Jangan pikirkan dia dan fokus!
Setelahnya Gio kembali berjalan. Pria itu melihat sekeliling muridnya yang tampak stress mengerjakan soal ujian. Hingga bel berdentang keras menandakan waktu ujian sudah habis.
"Kumpulkan lembar kerja kalian di depan sekarang." Gio kembali ke mejanya diikuti para murid di belakang.
Gea berdiri. Ia menyerahkan lembar kerjanya dengan ditatap Gio teliti.
"Kamu belum sempat menjawab nomor terakhir ya?"
Gea melihat Gio mengukir seringai padanya. "Inilah mengapa kamu harus fokus pada ujianmu dari awal, bukan malah melamun tentang calon suamimu di masa depan."
Ingin rasanya Gea menonjok wajah Gio waktu itu juga. Persetan dengan status Guru di sekolahnya, Gea tak peduli bahkan jika dia akan diadili.
Pria bernama Gio ini sungguh menyebalkan dan Gea semakin membencinya apalagi teman-teman mulai menertawakannya. Semoga Tuhan memberi Gea jutaan kesabaran.
✒️✒️✒️
"Hei, mau pergi denganku setelah ini?" Bian merangkul pundak Gea yang saat itu tengah dalam perjalanan pulang.
"Ke tempat nongkrong kita biasanya. Nanti aku traktir."
Langkah Gea terhenti. Dia memandang Bian dengan wajah malas. "Lain kali saja ya? Hari ini aku sangat lelah."
"Apa kamu sakit?" tanya Bian.
"Tidak, hanya saja aku sedang dalam suasana yang buruk."
"Patah hati?"
Seketika itu Bian mendapat jitakan dari Gea. "Hei! Aku kan cuma menebak," kata Bian membela diri.
"Lagipula tebakanmu itu selalu saja berujung ke patah hati. Punya pasangan saja tidak."
Bian tertawa. Dia merangkul pundak Gea lagi. "Kalau begitu mengapa kamu tak mencari pasangan? Penyakit jomblomu itu udah kronis loh."
"Kamu sendiri bagaimana? Gak ngaca kalau dirinya juga jomblo kronis," ejek Gea tak mau kalah.
"Aku bukan jomblo ya, tapi aku sedang mencari orang yang tepat. Makanya aku masih menutup hati sampai orang yang Tuhan tentukan ada padaku."
"Terserah!"
Gea tak ambil pusing. Bian memang seperti itu orangnya dan dia adalah satu-satunya cowok yang dekat dengan Gea. Mungkin ini juga di karenakan Gea sudah berteman dengannya sejak Sekolah Dasar.
"Kamu yakin gak mau ikut aku? Jarang-jarang loh aku baik gini ngasih traktiran."
Awalnya Gea sempat berpikir tapi kemudian dia menganggguk menyetujui tawaran Bian kepadanya.
"Oke, kamu harus traktir aku sepuasnya ya. Awas kalau kamu bohong!"
"Iya, bawel."
Mereka berdua menuju halte untuk naik bus. Meski Bian sudah punya kartu SIM tapi dia masih takut berkendara karena statusnya yang masih anak SMA. Dan itu adalah salah satu poin yang Gea suka padanya.
Bian berbeda. Dia mungkin jahil dan nakal tapi masih memiliki aturan. Pikirannya begitu dewasa sejak Gea pertama kali bertemu dengannya. Tampan, sopan dan baik hati. Itulah mengapa Bian terpilih sebagai ketua kelas sejak sekolah dasar.
Tapi yang aneh dari Bian adalah dia tak sekalipun pernah berpacaran padahal banyak gadis diluar sana mengidam-idamkannya. Dia juga terkenal di sekolah. Ini membuat Gea khawatir akan dirinya.
Apa Bian punya kelainan?