
"Kamu yakin dia adalah tunangannya tuan Ferrald?" Yuna bertanya. Jefri yang tengah makan, berhenti sejenak. "Jadi kamu memanggilku keluar hanya untuk menanyakan tentang itu?"
"Ya, aku kan hanya penasaran. Selama ini tuan Ferrald selalu cuek mengenai asmara. Dan sekarang tiba-tiba dia sudah punya tunangan," Yuna berkata acuh tak acuh.
"Itu karena tuan Ferrald tidak mau mengumbar hubungannya ke orang lain. Lagipula, tuan Ferrald masih dalam tahap pendekatan dengan nona Gea. Semoga saja mereka bisa bersama hingga pelaminan."
"Jadi maksudmu, mereka ada ketidaksesuaian dengan hubungan mereka?"
"Bukan begitu. Ah, aku bingung menjelaskannya!" Jefri mengacak rambutnya frustasi.
Yuna terdiam. Wanita itu tampak berpikir sesaat. Jefri menatap kepadanya. Raut gelisah sungguh kentara pada ekspresi Yuna sekarang.
Jefri ingin bertanya. Meski terdengar konyol dan canggung, namun disaat seperti inilah dia ingin menghilangkan rasa penasarannya pada sosok Yuna ketika bersama atasan mereka.
"Yun, bolehlah kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur"
"Apa?"
"Kamu menaruh perasaan pada tuan Ferrald, ya?"
Detik itulah Jefri bisa melihat rona merah pada kedua pipi Yuna. Wanita itu tersipu malu. Dan tanpa dijawab oleh Yuna pun, Jefri sudah bisa menebak.
Bahwa Yuna memang menyukai Gio Ferraldo.
✒️✒️✒️
Pukul 00.15
Gea terbangun untuk pergi ke kamar mandi. Gadis itu bangkit dengan posisi mata terpejam. Membuka sedikit dan melirik sampingnya yang rupanya kosong tidak ada orang. "Gio-"
Gea mencari ke sekitar. Gio ternyata tertidur di sofa dengan laptop masih menyala.
Gea turun dari kasur. Mendekat ke arah Gio. "Sepertinya, ini data penting," kata Gea ketika melihat laporan yang dibuat Gio. "Andai bahasa inggrisku lancar," keluhnya karena tulisan yang diketik Gio full bahasa inggris semua.
"Aku simpan saja dulu sebelum dimatikan." Gea mengutak-atik laptop Gio. Menyimpan data milik pria itu lebih dulu baru kemudian mematikannya.
Setelah selesai dengan urusan laptop, Gea bergegas mengambil selimut lalu dipakaikan pada tubuh Gio agar merasa hangat.
Gea tersenyum, kemudian kembali ke tujuan utamanya yaitu ke kamar mandi. Setelah selesai, ia kembali namun yang dilihat ternyata Gio terbangun dengan raut gelisah serta cemas memandangi layar laptopnya.
"Gio-"
"Apa kamu yang melakukannya?" Gio memotong ucapan. Mengetahui apa yang dimaksud, Gea mengangguk mengiyakan. "Tadi kamu tertidur, jadi aku mematikan laptopmu."
"Gea, aku sedang menulis laporan disana. Sekarang bagaimana jika laporan yang kubuat tidak tersimpan?"
"Aku sudah menyimpannya. Tenang saja, ada di file-"
Sekali lagi ucapan Gea terpotong karena Gio mendadak memeluknya. "Maaf, tadi aku marah padamu," katanya.
Alis Gea berkerut bingung. "Marah? Jadi tadi kamu marah padaku?"
Gio melepas pelukan. "Iya, apa kamu tidak sadar kalau aku sedang marah tadi?"
Melihat Gio begitu serius dengan pernyataannya, Gea jadi tertawa. "Jadi kamu marah? Aneh, aku bahkan tidak merasakan aura kemarahanmu sama sekali."
"Memangnya kalau kamu ingin merasakan lebih jelasnya, aku harus apa? Membanting barang-barang di depanmu?" Gio dengan polosnya tidak paham sama sekali.
"Bukan begitu, ah sudahlah tidak perlu dibahas," Gea masih cekikikan. Sungguh, Gea belum pernah menemukan pria seperti Gio selama ini. Hal yang dikira hanya perkataan biasa ternyata itu adalah ekspresi marah darinya. Demi apapun, Gio tidak menakutkan sama sekali.
"Kamu tidak tidur?" Gea bertanya ketika tawanya terhenti.
Gea merengut. "Kurasa aku harus menghububgi Paman Hendry setelah ini. Putranya tidak mematuhi perintah ayahnya untuk menjaga kesehatan dengan tidak tidur semalaman."
Gio terinterupsi. Pria itu pun meletakkan laptopnya kembali di meja dan menghampiri tempat tidur."Baiklah, besok saja ku selesaikan," ucapnya.
Gea kembali tertawa melihatnya.
Kamar yang mereka tempati bukan single bed. Tapi double bed dimana kasur milik Gea dan Gio terpisah satu sama lain. Mereka berdua belum menikah jadi Gio tidak ingin hawa nafsunya membutakan dirinya dan berbuat macam-macam pada Gea. Setidaknya meski sekamar, mereka tidur secara sendiri-sendiri.
✒️✒️✒️
Pagi menjelang. Kicauan burung mulai menyapa. Gea masih enggan bangkit dari tidurnya, namun mengetahui perutnya sedang ingin terisi, Gea pun terpaksa bangkit meski masih dipenuhi rasa kantuk.
"Jam berapa sekarang?" Gea menengok jam weker yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Oh My!" gadis itu berteriak kaget. Ia segera mencari keberadaan Gio yang entah kemana. Segera Gea pergi ke kamar mandi, berganti baju dan keluar dari kamar.
Beberapa orang memandanginya, Gea merasa aneh dan bingung. Pasalnya, ia tidak mengenal siapapun disini. Sementara Gio tidak ada dimanapun. "Ayo, angkat.. angkat.." Gea frustasi, Gio tidak mengangkat telepon. Dering kelima, akhirnya telepon Gea diangkat. "Kamu dimana?" tanya Gea spontan.
'Hello? Who's this?' (Halo? Siapa ini?) suara perempuan dengan bahasa asing bicara kepadanya.
"Where's Gio?" (Dimana Gio?)
'Gio?'
"Oh, i mean Mr. Ferrald, where is him?" (Oh, maksudku tuan Ferrald, dimana dia?)
'He's on a meeting right now. With Mr. Chris, and i'm sorry if i answered your call. Because Mr. Ferrald left his phone on table and walked out.' (Dia sedang ada rapat sekarang. Dengan tuan Chris, dan aku minta maaf jika aku menjawab teleponmu. Karena tuan Ferrald meninggalkan ponselnya diatas meja dan pergi keluar)
"He left his phone? Oh shit!" (Dia meninggalkan ponselnya? Oh sial!)
Gea pun mengakhiri panggilan. Ia menuju koridor tempat kamar para karyawan perusahaan Gio. Siapa tahu dia mendapat info keberadaan Gio dari mereka.
Gea mengetuk pintu. Satu-satunya ruangan yang Gea ingat hanyalah kamar Yuna, wanita cantik yang sering berada di dekat Gio Ferraldo.
Ia memencet bel. Namun tidak ada sahutan. "Mungkinkah, mereka semua sedang pergi bersama?" pikir Gea.
Gea menghembuskan nafas. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Daripada seperti orang hilang disini, akan lebih baik Gea menunggu Gio sambil merebahkan diri di kasur empuknya.
Kesialan tak berujung. Gea sudah sampai di kamar namun yang membuatnya marah adalah ia lupa akan password kamarnya sendiri. Dan yang parah, ia juga lupa tidak membawa Electronic card sebagai ganti jika tidak bisa membuka pintu dengan kata sandi.
"Bagaimana ini?!" Gea mengacak rambutnya frustasi. Gio pergi tanpa berpamitan kepadanya dan sekarang dia tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri. Sungguh bodoh.
Gea hendak menelpon Gio lagi namun baterainya habis. Ini juga kesalahan fatal Gea karena tidak mencharge ponselnya dari kemarin. Sekarang apa yang harus dilakukannya?
Gea berjongkok diambang pintu dengan sedih. Ia tidak memedulikan tatapan orang berlalu lalang. Tak lama kemudian, Gea mendengar suara hentakkan sepatu fantofel dari jauh. Semakin terdengar, hingga akhirnya Gea mendongakkan kepala.
"Gea aku minta maaf-"
"Gio!!" Gea langsung memeluk Gio begitu tahu pria yang dicarinya berdiri di hadapannya. "Kamu kemana saja? Mengapa kamu langsung pergi?" tanya Gea beruntun dengan mata berkaca-kaca.
Gio menyesal. Mengelus puncak kepala Gea dengan lembut. "Maaf, tadi aku buru-buru. Ini hanya rapat sebentar dengan Mr. Chris. Lalu aku mendengar bahwa sekretaris Mr. Chris tidak sengaja menjawab telepon mu dan mencari keberadaanku. Maaf.. Maaf sudah meninggalkanmu."
Jefri dan Yuna dibelakang, menyusul. Mereka melihat Gio yang sedang berpelulan dengan Gea. Jefri melirik Yuna disampingnya. Namun tidak banyak ekspresi yang Yuna tunjukkan. Wanita itu bersikap biasa saja seolah pemandangan romantis mereka tidaklah penting baginya.
'Aku tau seperti apa perasaanmu sekarang, Yuna.'
Terima kasih untuk kalian semua yang selalu dukung cerita ini, jujur saja kadang aku ada di titik dimana aku bingung nentuin jalan cerita, belum lagi harus nunggu selesai di review kalau mau up, sekali lagi aku berterima kasih buat kalian semua yang tetep setia dan memberi semangat. Aku cinta kalian😊❤️❤️❤️