Amour

Amour
Fourty Nine



Pagi hari itu, Gea bangun dengan penampilan tidak elitnya. Matanya hanya membuka setengah sementara alarmnya terus berbunyi untuk membangunkannya.


"Gio..matikan alarmnyaa," keluh Gea menutup wajah dengan bantal.


"Kalau ku matikan nanti kamu telat berangkat kuliah, ayo bangun," kata Gio lembut dari kejauhan.


Dengan kesal, Gea pun membangkitkan diri. Mendelik ke arah Gio yang sibuk melakukan sesuatu.


"Kamu sedang apa?"


"Menyeterika bajumu."


Sontak Gea langsung tersadar dan merebut setrika dari tangan Gio yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.


"Mengapa kamu melakukannya?" tanya Gea sedikit ketus. "Bajumu menumpuk di keranjang, jadi ku bersihkan sekalian ku setrika," jawab Gio polos.


"Astaga Gio, kamu tidak perlu melakukan ini. Biar aku sendiri saja."


"Tapi ini hampir selesai."


"Sudah. Kamu tidak perlu melakukanya lagi. Kamu sudah masakin aku, bantuin aku belajar, ngerjain pr, bersih-bersih rumah dan sekarang kamu mau menyeterika bajuku. Kalau kamu melakukan semuanya lalu apa gunanya aku sebagai istrimu?"


Mendengar keluhan Gea, Gio mengumbar senyum. Hampir tertawa karena Gea marah hanya karena hal sepele itu.


"Tugasmu cukup mencintaiku dan tidak melirik pria lain selain aku. Kamu hanya perlu menjaga hatimu. Untuk urusan lain serahkan padaku."


"Tapi tugas istri adalah melayani suami. Ini malah seperti suami melayani istri."


"Gea, mengapa kamu meributkan hal seperti ini? Aku tidak apa-apa kok." Gio memegang kedua tangan Gea dan menciumnya. "Aku hanya ingin kamu menjaga hati untukku. Karena kamu cepat akrab dengan pria, membuatku khawatir. Aku tidak ingin ada pria lain yang merusak hubungan kita."


"Tentu aku akan menjaga hati untukmu. Dan kupastikan tidak akan ada yang mampu merusak hubungan kita. Siapapun itu."


Kedua mata tersebut saling beradu. Mengikat antara satu dengan yang lain. Mendekat hingga akhirnya kedua bibir bersentuhan.


Mungkin sebelum sarapan, akan lebih baik mengawali dengan hal manis terlebih dulu.


✒️✒️✒️


"Bukankah itu dia?"


"Kasihan sekali ya.."


Gea yang baru tiba di kampus, mendengar bisikan mahasiswa di sepanjang koridor. Gadis itu menoleh, mendapati Ryo yang ternyata berjalan di belakangnya.


"Minggir," katanya. Gea membuka jalan agar Ryo lewat. Ia menatap pemuda itu dengan iba. 'Wajahnya babak belur, jadi apa yang terjadi kemarin rupanya benar?' pikir Gea.


Gadis itu kembali melanjutkan langkah. Berusaha tidak peduli dengan urusan orang yang tidak dikenalnya. Namun, saat mau menaiki tangga Gea tidak sengaja mendengar ucapan seseorang.


"Ryo itu memang bodoh! Udah tau kakaknya gabakal bisa selamat eh masih keras kepala saja," cetus salah seorang pria dari geng seperti preman yang Gea temui kemarin.


"Kalau saja dia tidak ada hutang padaku, kita tidak akan punya anjing yang biaa disuruh seperti dia," sahutnya lagi.


"Tapi itu sebuah keberuntungan. Kudengar, Ryo itu mantan atlet tinju, karena hutangnya padamu, dia tidak bisa macam-macam dengan kita."


Setelah percakapan itu, mereka tertawa. Gea melangkah mundur peelahan. Ia tidak mau menambah masalah dan menyusahkan Gio nantinya. Sayang, sebelum Gea melangkah pergi, mereka mencegahnya.


"Hei! Mau kemana setelah menguping pembicaraan kami?"


Geng berisi lima orang itu mulai memdekati Gea. Memandang penuh cengiran nakal seolah ingin menelan Gea hidup-hidup.


Bel sekolah berbunyi. Gea terselamatkan. Para pemuda itu berdecih dan bergegas pergi.


✒️✒️✒️


"Gea, mau ke kantin?" Gwen bertanya sembari melepas jas lab mereka. Praktikum kimia baru saja selesai. Dan Gwen berencana mengajak Gea rehat sambil makan di kantin.


"Tentu." Gea menjawab antusias. "Aku boleh ikut?" Tak lama setelahnya, Vera menyahut.


Gwen mengiyakan meski sesungguhnya Gea enggan. Mereka bertiga pun menuju kantin. Dan tanpa di duga, untuk kedua kali Gea kembali melihat Ryo diseret oleh kelima pemuda senior entah kemana.


"Tidak perlu di pikirkan." Gwen tiba-tiba bersuara. "Itu bukan urusan kita," lanjutnya.


Mereka pun tiba di kantin. Gwen dan Vera segera memesan sementara Gea masih betah dalam pikirannya.


"Gea kamu pesan apa?" Pertanyaan Gwen membuyarkan lamunan Gea. "Em.. s-sama seperti yang kamu pesan saja," jawab Gea.


"Baiklah."


"Gwen, sepertinya aku harus ke toilet sebentar."


"Perlu kutemani?"


"Tidak, tidak usah," Gea menolak halus.


Gea mengangguk dan segera pergi. 'Kalau saja dia tidak ada hutang padaku, kita tidak akan punya anjing yang biaa disuruh seperti dia' Gea masih mengingat jelas kata demi kata yang senior itu ucapkan.


Hanya karena hutang, pantaskah dia dibully seperti ini?


Gadis tersebut tidak pergi ke toilet dan menuju tempat yang tadi dilewati oleh Ryo.


'Maaf Gwen, tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi.'


✒️✒️✒️


"Kubilang belikan aku rokok, mengapa kamu beli es krim hah?!" Ego berteriak marah.


"Rokok tidak baik untukmu. Lagipula kamu juga suka hal manis seperti es krim bukan?" Sahut Ryo datar dan dibalas pukulan bogem oleh ego.


"Sudah hutang padaku, sekarang kamu malah berceramah. Kamu mau kucabut semua biaya rumah sakit kakakmu?"


Ryo geram. Dia menatap Ego tajam dan disahut tawa oleh pemuda itu. "Lihatlah, dia mulai berani!" Serunya.


"Sepertinya anjing ini harus diberi pelajaran lebih dulu biar jinak lagi."


"Siapa yang kamu bilang anjing, dasar anjing!"


Suara lain menginterupsi. Mereka menoleh melihat Gea berdiri di belakang sambil bersendekap dada. "Aku sudah muak menjadi feminim. Aku tidak bisa membiarkan mataku ternodai oleh aksi bejat kalian," katanya ketus.


"Apa-apaan gadis ini!" Ego berdecak.


"Bukankah dia gadis yang menguping pembicaraan kita tadi pagi?" Salah satu teman Ego bersuara.


"Oh, aku ingat." Ego membentuk seringai. "Dengar, aku sudah berbaik hati melepasmu dan sekarang kamu berdiri di depan kami dan mengancam? Kamu tidak tau siapa kami ini?"


"Tau. Kalian kan orang bejat yang tidak manusiawi."


"Gadis ini benar-benar!" Ego mendekat dan melayangkan tinju tapi Gea berhasil menghindar lalu menendang perut Ego dan menyikut kepalanya amat keras.


"Jangan meremehkan wanita yang sedang pms, orang bejat!"


Teman Ego yang lain ikut membantu tapi Gea begitu mudah mengalahkan mereka seolah pemuda bertampang preman itu tidak ada apa-apanya.


Ryo menyaksikan hingga akhir. Mulutnya menganga tak percaya melihat apa yang Gea lakukan.


"Hei gadis sok pahlawan! Kamu pikir aku membiarkan hal ini?" Ego berusaha bangkit. Mengelap darah pada bibirnya yang robek sedikit. "Jangan senang karena kamu menyelamatkannya! Karena hidup Ryo ada di tanganku. Aku bisa mencabut pengobatan kakaknya yang sekarat itu sekarang juga biar dia sebatang kara-"


"Hentikan!"


Lagi-lagi suara lain terdengar. Gwen dan Vera menatap mereka. "Berapa hutang Ryo padamu?" tanya Gwen.


"54 juta."


Gwen melempar kertas cek pada Ego dan memberinya pulpen. "Tulis semua hutangnya disana," titahnya.


"Kamu-"


"Hanya karena kamu senior, jangan harap aku sopan pada orang sepertimu. GO grup sedang dalam kerja sama dengan WK grup bukan? Kalau kamu masih banyak bicara aku bisa membatalkan kerja samanya."


Sontak Ego terdiam. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata ataupun bertatap muka dengan Gwen.


Vera hanya melongo karena terkejut, sementara Gwen mendekati Ryo yang berdiri melihatnya. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Ya," jawab Ryo singkat.


"Kalau seperti ini akhirnya, mengapa kamu tidak meminjam padaku saja? Merepotkan."


"Aku tidak mau membebanimu."


Gwen tidak menyahut lagi. Dia membalikkan badan. "Mulai sekarang kamu tidak akan terikat oleh hutang. Aku akan membayar semua biaya pengobatan kakakmu hingga sembuh."


"Gwen-"


"Dan obati lukamu itu."


Gwen melangkah pergi. Meninggalkan Gea dan Vera yang kembali terkejut akan fakta bahwa Gwen dan Ryo salong mengenal.


Gwen selalu bersikap tak peduli dan sekarang diaenunjukkan bahwa ia memang mengenal Ryo serta akan menanggung biaya pengobatan kakak Ryo tanpa harus Ryo berhutang padanya.


Yang membuat Gea bertanya-tanya adalah mengapa Gwen tidak pernah cerita jika dia dekat dengan Ryo?


✒️✒️✒️


"Kami WK dan GO grup merasa tersanjung karena anda mau bekerja sama dengan perusahaan kami, tuan Gio." Deon menjabat tangan Gio dengan senyum semringah. Begitu pula CEO dari GO grup, Ogin. Ogin tak henti-hentinya memandang penuh kekaguman.


'Jantungku berdetak kencang hanya karena melihat orang seperti nya. Aura Gio Ferraldo memang berbeda padahal dia jauh lebih muda dariku. Ini sungguh tidak masuk akal!' batin Ogin keheranan.