Amour

Amour
Thirty Three



'Aku menyukaimu.'



'Apa kamu menerima perasaanku?'




Gea melamun. Bian baru saja menghentikan motornya di depan pagar rumah Gea.




"Kamu lebih betah disana daripada pulang ke rumah?" Bian menggoda. Gea terkesiap dan buru-buru turun.




"Maaf, aku melamun," ucapnya linglung. Bian memerhatikan raut gadis itu yang dipenuhi beban. Ia mengusap lembut kepala Gea.




"Istirahatlah, kamu terlihat sangat capek," ucapnya.




Gea tersenyum. Terkadang perhatian Bian sering ia hiraukan. Sekarang Gea sadar, Bian selalu memberikan perhatian padanya. Meski begitu, jantung Gea tidak berdegup kencang.




Tidak seperti saat Gio yang melakukannya.




"Aku pulang dulu," Bian pamit. Gea mengangguk. "Dadah!" Gea melambaikan tangan. Bian gemas dan mencubit pipi Gea sebelum laki-laki itu pergi.




"Sakit Bian!" teriak Gea meringis. Bian hanya tertawa kemudian menghidupkan motornya dan pulang.






✒️✒️✒️






Keesokan harinya,



"Jaga dia dengan baik ya, Gio. Putriku ini terkadang tidak bisa dikendalikan," Lisa berpesan. Terdengar sangat drama hingga menitikkan air mata. Bobby yang disampingnya merasa malu sementara Hendry dan Mary tersenyum.  Kedua keluarga besar itu sedang berada di bandara. Mia dan Alvan juga ikut serta.



"Ma, Gea bukan anak kecil," Gea merengut. Merasa kesal ketika Lisa terus menerus mengecupi dirinya dengan kasih sayang.




"Saya akan menjaganya dengan baik." Gio berkata. "Mama Lisa tidak perlu khawatir," lanjutnya.




Hendry mendekat. "Jaga dirimu juga disana, kalau ada waktu senggang hubungi kami." sudah lama Hendry tidak mengatakan hal seperti itu padanya. Gio merasa terharu. Mary ikut senang mendengar Hendry begitu mencemaskan putranya.






"Jika terjadi sesuatu kamu kabari aku, Sam."




Samuel mengangguk. "Siap, tuan Ferrald," ucapnya. Kemudian saat mata Gio teralihkan, Samuel bergegas menghampiri Gea dan berbisik padanya. "Berhati-hatilah disana Gea, kalau kamu lengah, Gio bisa direnggut."




"Tidak mungkin, Gio itu kan cupu, ngapain juga harus takut kalau dia bakal direnggut."




"Eh, jangan salah! Karyawannya saja banyak yang menaruh hati padanya."




"Karyawan?"




Gea menoleh ke belakang, mencari sosok Gio yang sedang berbicara dengan kumpulan orang disana.




"Jadi, mereka semua itu karyawannya Gio!" Gea tak percaya. "Dan mereka semua akan ke Amerika?"




"Loh kamu tidak tau?"




Gea menggeleng.





"Gio itu direktur perusahaan. Dan ia sedang ada pekerjaan penting di Amerika sekaligus mengajak semua karyawannya liburan. Gio lah yang mebayar tiket pesawat untuk para karyawannya, termasuk dirimu," jelas Samuel yang membuat Gea membeku.




"J-Jadi, dia direktur?" otak Gea mulai memutar kejadian ketika pertama kali dia bertemu dengan Jefri. Memanggil Gio dengan sebutan 'tuan Ferrald'  dan begitu formal kepadanya.




Itu bukan tanpa alasan.




Jefri bersikap demikian karena Gio adalah boss besarnya.





"Aku datang dari Thailand juga karena Gio. Dia ingin aku menggantikan dirinya sementara ketika dia berada di Amerika," tambah Samuel, sayangnya Gea tidak merespon.




Kali ini Gio berjalan memutar ke arah Gea dan Samuel. Menarik koper miliknya dan Gea.





"Gea, pesawatnya sudah siap, kita bisa pergi sekarang," kata Gio. "Sam, kami pergi dulu," Gio pamit diikuti Samuel yang melambaikan tangan. "Jaga diri kalian dengan baik disana."




Gio dan Gio pun berjalan. Gea tidak banyak berucap. Sebaliknya, Gio selalu mencemaskan dirinya. Bahkan untuk membuat Gea nyaman, Gio sengaja memilih tempat pribadi hanya untuk dirinya dan Gea.




"Jadi selama ini kamu seorang direktur?" Gea bergumam. Gio melihkan pandangan kepadanya. Sedikit terkejut namun dia menetralisir ekspresinya. "Sejujurnya aku ingin mengungkapkannya padamu. Lagipula aku mengajakmu ke Amerika, jadi aku sudah menduga kamu akan tau."




"Kamu bilang usahamu cuma usaha kecil!"




"Oh, baiklah. Maafkan aku." Gio merasa bersalah. Gea mulai marah kepadanya.




"Mengapa kamu berbohong padaku?"




"Aku.."




"Tuan Ferrald." Seorang wnaita menghampiri kursi mereka berdua. "Maaf mengganggu, tapi Tuan Ferrald, bisakah anda ikut saya sebentar?"




"Baiklah," Gio berdiri. "Tunggu disini, nanti aku kembali," kata Gio pada Gea sebelum pria itu mengikuti Yuna.





'Kalau kamu lengah, Gio bisa direnggut.'





Persetan dengan kalimat Samuel yang terngiang di kepala. Gea menggeleng. "Ngapain juga aku harus mikirin itu!"






✒️✒️✒️






Seseorang menoel pipi Gea. Gadis itu langsung bangun dan hampir memarahi sang pelaku yang rupanya adalah Gio Ferraldo.




"Apa?" tanya Gea ketus. Jujur saja Gio terlalu lama hingga Gea ngantuk dan tertidur. Sekarang, pria itu malah seenak jidatnya membangunkan dirinya.




"Kita makan siang dulu," katanya dan menunjukkan makanan mewah diatas meja.




Amarah Gea pun padam dan langsung antusias mengambil sendok juga garpu. Gadis itu makan dengan lahap namun ia melupakan Gio yang ada disampingnya.




"Kamu tidak makan?" Gea bertanya.




"Aku sudah makan lebih dulu," jawabnya.




"Curang! Harusnya tadi kamu bangunin aku lebih cepat, biar kita bisa makan sama-sama," Gea merengut lagi.




"Baiklah, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulanginya."







"Eh, Gio. Sup ini enak banget. Kamu coba deh." Gea menoleh mendapati Gio yang ternyata sudah terlelap.




Rautnya begitu lelah, bahkan urat di kepalanya tampak menonjol. Gea tidak pernah mengawasi Gio sedekat ini. Jauh dari dalam lubuknya, Gea merasa khawatir.




Gadis itu melanjutkan makan. Secara hati-hati tanpa ada yang tersisa. Hingga sang pramugara lewat dan membereskan piring-piringnya.




Beberapa jam berlalu sampai pesawat akhirnya mendarat. Gio masih terlelap dan Gea enggan membangunkan.




"Tuan-"




"Ssssttt!" Gea menatap Jefri tajam ketika pria itu mau mendekati Gio. "Dia sedang tidur," kata Gea dengan nada berbisik.




Jefri jadi tidak enak hati namun saat dia ingin pergi, Gio sudah membuka mata dan melihat Jefri dihadapannya.




"Sudah sampai ya?" Ia bertanya seraya melemaskan otot-ototnya yang kaku.




"Kita turun sekarang." Pria itu berdiri. Memakai kacamata dan mendahului Jefri serta Gea.






Angin berhembus kencang. Langit sudah berwarna gelap namun tidak terlalu larut. Mereka semua menuju penginapan yang sudah disiapkan oleh Mr. Chris.





"Hello, Mr. Ferrald. How do you do? I feel bad, i couldn't meet you a few days ago." (Hello, tuan Ferrald. Bagaimana kabar anda? Saya merasa buruk tidak bisa bertemu dengan anda beberapa hari yang lalu)




"Hy Mr. Chris. I'm fine. Instead, i'm the one who's guilty didn't meet you last day." (Hai, tuan Chris. Saya baik. Malah saya lah yang bersalah tidak menemui anda hari itu)



Mereka berjabat tangan. Gea memerhatikan sosok pria tinggi dan berhidung mancung bak segitiga siku-siku disana. "Tampannya.." pujinya tanpa sadar.




Gea tidak bisa leluasa melihat tampang Chris yang memabukkan. Pria bule itu mengantar mereka semua menuju gedung Hotel yang sudah ia siapkan untuk Gio, Gea maupun karyawan lainnya.





Gea tidak mengerti mimpi apa dia bertemu dengan orang sehebat Gio yang memiliki koneksi luar biasa seperti ini. Dia jadi tidak bisa membayangkan jika Gea benar-benar menjadi istrinya nanti. Gea merasa kecil. Otaknya mulai terbebani akan hal yang menyangkut apakah dia sungguh cocok menjadi pendamping Gio atau tidak. Rasanya seperti batangan emas yang disandingkan dengan perhiasan plastik. Gea merasa tidak berguna sama sekali.




"Gea, nanti kamu sekamar dengan Yuna, ya." Gio mengenalkan Gea pada Yuna karyawannya. Wanita yang ia temui di pesawat. Membawa Gio pergi begitu lama entah karena urusan apa.




"Mengapa aku tidak sekamar denganmu saja?" tanya Gea. Spontan, semua karyawan Gio yang mendengarnya langsung tersedak ludah mereka sendiri.




"Kita kan pernah sekamar bersama. Lagipula tidak ada yang kukenal disini," Gea beralasan.




Chris hanya diam karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, sedangkan para karyawan Gio menatap tidak menyangka.




Bukannya marah atau malu, Gio malah tersenyum. "Baiklah." Pria itu setuju.




Hal yang mengejutkan. Gio bukan orang yang bisa menerima sembarang gadis untuk berada di lingkup privasinya. Sementara kebanyakan karyawan masih tidak tahu mengenai siapa Gea sebenarnya.




"Kalian jangan kaget begitu, mereka ini tunangan." Jefri membeberkan. Semakin ricuh para karyawan saking syoknya. Salah satu bodyguard Chris menerjemahkan pembicaraan mereka padanya sampai telinga Chris merah lalu tertawa.




Chris pun mempersilahkan semuanya untuk pergi ke ruang masing-masing dan beristirahat. Ia sedikit salah tingkah di depan Gio dan Gea. Pria itu tidak menyangka, partner kerjanya datang membawa calon istrinya.




Gio jadi tersipu. Dia menjelaskan sedikit mengenai hubungannya dengan Gea pada Chris, namun pria itu sepertinya sudah tidak membutuhkan penjelasannya lagi.




"Ayo ke kamar." Gea sudah menggeret kopernya duluan dan mengajak Gio. Chris tertawa ringan lalu menyenggol bahu Gio seolah mengode untuk menuruti kemauan Gea tersebut.




Keduanya masuk ke dalam kamar. Gea langsung merebahkan diri sedangkan Gio sibuk menata bawaaannya.




"Gio, aku lapar.."




Mengetahui Gio tidak merespon, Gea pun bangkit dan melihat pria itu sedang melamun dengan wajah merah padam.




"Hei, apa yang terjadi denganmu?" tanya Gea.




"Ah tidak. Hanya saja aku bingung dengan semua ini."




"Bingung apanya?"




"Kamu.. berbeda" Gio tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Pria itu tersenyum lembut. "Padahal kamu membenciku, dulu."




Gea terdiam. Gadis itu berdiri lalu berjongkok di depan Gio yang sedang duduk di lantai. "Aku tidak pernah membencimu," ucapnya. "Aku hanya belum mengetahui perasaanku sendiri. Kamu terlalu indah untuk orang biasa sepertiku, oleh karenanya aku ragu akan perasaanmu."




"Kalau begitu, apakah aku boleh meminta satu kesempatan lagi? Aku akan meyakinkanmu bahwa perasaanku padamu itu nyata."




Gea menggeleng. "Tidak perlu, kamu sudah melakukan semuanya."




"Tapi kamu belum yakin."




"Aku yakin dengan perasaanmu, tapi belum yakin dengan perasaanku. Bisakah kamu menunggu?"





Gio berpikir. Gea menunggu jawaban darinya. Mata mereka saling beradu dan Gio sungguh tidak tahan akan pesona Gea. "Mundurlah sedikit Gea, aku tidak ingin kena serangan jantung,"  kata Gio.




Gea menatap tak percaya dan hampir meledakkan tawa. Gio sangat polos dari yang ia kira. Bagaimana pria berumur 24 tahun di hadapannya begitu menggemaskan.




"Jadi, apa kamu mau menungguku?" Gea mengulang pertanyaannya.




"Tentu. Itu tidak masalah buatku," jawab Gio pada akhirnya.





"Gio, aku lapar.."




"Oh, maaf. Aku akan pesankan sesuatu sekarang."




Saat Gio hendak berdiri untuk menelpon petugas hotel, Gea menariknya agar duduk kembali. "Kamu memakai kacamata baru lagi?"




"Ya, karena kemarin lensanya retak."




Gea melepas kacamata Gio sevcara tiba-tiba. Membiarkan dua netra hitam kelam milik Gio terlihat. "Apakah dalam jarak seperti ini, kamu bisa melihatku tanpa kacamata?"




Gio menelan ludah. Gea benar-benar menguji kesabarannya. Pria itu mendekat. Berbisik pada telinga Gea dengan nada lembut sampai hembusan nafasnya dapat terasa.






"Kalau kamu sedekat ini, aku bisa kehilangan kendali loh, Gea"













Semoga aku bisa membuat momen romantis diantara 2G ini. Doakan ide saya lancar ya gaes😂 btw kisah cinta Gio ama Gea memang bertahap karena aku agak kurang sreg kalau langsung tanpa ada proses, jadi mohon bersabar😆