Amour

Amour
Thirty Five



Karena tidak ingin terpisah jauh dengan Gio, Gea mau tidak mau rela menunggu pria itu di kantor perusahaan milik Mr. Chris.




Gio kembali melanjutkan rapat dan meninggalkan Gea di ruangan sementara gadis itu sedang mencharger ponselnya.




Ketukan pintu terdengar, Yuna datang sambil membawa makanan untuknya. "Tuan Ferrald bilang padaku bahwa anda melewatkan sarapan pagi ini," ucapnya dan meletakkan nampan berisi nasi dan steak barbeque juga air lemon dan beberapa makanan penutup seperti potongan buah-buahan segar.




"Terima kasih, emm.. Kak Yuna."




Wanita bernama lengkap Gracelia Yunara itu pun mengangguk mengiyakan. "Jika ada sesuatu, anda bisa memanggilku." Wanita cantik itu hendak pergi namun Gea mencegahnya.




"Tidak bisakah kakak menemaniku disini sebentar? Setidaknya sampai Gio selesai rapat."






✒️✒️✒️






Gea dan Yuna mengobrol banyak. Mulai dari lulusan mana, tinggal dimana hingga umur mereka. Yuna tidak menyangka Gea cukup humble dan menyenangkan jika diajak bicara. Awalnya mungkin biasa saja tapi sekarang Yuna menganggap Gea seperti adiknya sendiri.




Hingga kemudian, wanita itu memberanikan diri bertanya. "Saya cukup terkejut, anda adalah tunangannya tuan Ferrald," ucapnya.




Gea sudah mengetahui bahwa wanita dihadapannya ini mungkin akan menanyakan hubungannnya dengan Gio. Mengingat Yuna seringkali bersama dengan Gio Ferraldo membuat Gea yakin bahwa dia bisa jadi menaruh perasaan kepadanya.




"Kami hanya teikat perjodohan, baik aku dan Gio masih belum memikirkan lebih dalam hingga memutuskan untuk bertunangan." Gea mengambil sepotong buah apel dan mengunyahnya.




"Begitu ya? Saya ikut senang tuan Ferrald mulai membuka hati untuk anda."




"Ya, syukurlah."




"Bagaimana dengan anda nona Gea? Anda pasti senang sekali bisa mendapat pria seperti tuan Ferrald"





Gea tidak merespon. Entah mengapa ia memiliki firasat buruk jika pembicaraan mereka temtang Gio terus berlanjut.




Pintu kembali terbuka. Sosok Gio dan Chris mengalihkan pandangan keduanya. "Kamu disini, Yuna?" Gio bertanya.




Yuna berdiri dan tersenyum. "Nona Gea ingin ditemani. Jadi saya ada disini sambil menunggu anda selesai rapat, tuan Ferrald."




"Terima kasih sudah menjaganya." Gio mengulas senyum kepada Yuna. Gea memerhatikan dengan raut cemas.





'Mengapa kamu tersenyum padanya?' batin Gea gelisah.





"Kalau begitu saya permisi tuan Ferrald,.. And Mr. Chris." Yuna membungkuk sopan lalu pamit pergi dari ruangan.






✒️✒️✒️






Sore harinya, Gio mengajak Gea jalan-jalan di kota New York. Mereka refreshing sebentar bersama karyawan lainnya.




Jefri dan Yuna juga ikut serta. Awalnya Gio ingin mengajak Gea saja untuk ke Times Square, namun Yuna juga memohon untuk ikut dengan beralasan dia kebingungan harus kemana. Sedangkan Jefri juga memiliki alasan sama, tapi Gio tahu jika penyebab utamanya adalah Yuna. Sekretarisnya itu selalu mengikuti kemana Yuna pergi. Tidak ingin terlalu lama, mereka berempat pun segera menuju Times Square.






Banyak hal yang mereka lalui di Times Square. Mulai dari mencicipi makanan disana. Menghampiri beberapa toko unik hingga sampai di Broadway tempat pertunjukan teater.




"Bisakah kita kesana tuan Ferrald? Saya suka sekali pertunjukan teater," Yuna antusias.




"Aku tidak su-"




"Baiklah, kita kesana. Kebetulan aku juga penggemar teater. Dan sudah lama sekali aku tidak menontonnya."




Mengabaikan pendapat Gea, Gio pun senang bisa berkesempatan melihat pertunjukan theater di Broadway dan beruntung masih ada tempat bagi mereka masuk kesana.




Gea merasa geram. Yuna terus saja mendekat ke arah Gio. Duduk disampingnya sambil bercerita sebegitu tertariknya dia dengan dunia theater. Gea yang berpikir hal ini membosankan justru semakin membosankan karena Gio hanya peduli dengan Yuna.




Jefri bersikap biasa saja. Meski dia tidak memahami alur cerita yang ditampilkan, nyatanya pria itu cukup menikmati karena wanita yang memainkan teater semuanya cantik-cantik.





Entah berapa jam hingga akhirnya teater selesai. Gea rasa ini adalah kebebasannya, karena bisa mengajak Gio pulang dan meringkuk di kasur. Namun, Gio justru mengajak mereka makan malam bersama.




Gea pun terpaksa harus bersabar dan menahan egonya.





Mereka memesan di sebuah restoran. Makanan yang mewah dan menggoda begitu tersaji di depan mata, tapi sayangnya Gea sama sekali tidak berselera. Ia tidak tahu berapa dollar yang sudah Gio keluarkan beberapa hari ini.




"Astaga, ini enak sekali!" Jefri memakan dengan lahap. Gio senang mendengarnya, pria itu juga ikut makan. Belum sempat memegang sendok, Yuna tiba-tiba memasangkan kain pada dadanya. Dikaitkannya di kerah Gio agar pria itu bisa makan dengan nyaman. "Nanti baju tuan Ferrald bisa kotor kalau tidak pakai ini," ucapnya.




Gea menghentakkan tangan diatas meja. Dia sudah tidak tahan lagi. "Aku mau pulang," ucapnya tiba-tiba dan pergi meninggalkan mereka. Gio yang kebingungan segera melepas kain yang dipasang oleh Yuna lalu menyusul Gea. "Maaf, kalian lanjutkan saja makannya," kata Gio sebelum melangkahkan kaki keluar.






Yuna yang tidak peduli menjawab polos. "Melakukan apa?"




"Bukankah aku sudah mengatakan hubungan tuan Ferrald dengan nona Gea?"




"Mereka bukan tunangan. Mereka masih dalam tahap perjodohan. Lagipula apa yang aku lakukan tidak ada yang salah. Tuan Ferrald juga baik-baik saja akan hal itu."




"Bagimu mungkin biasa saja, tapi itu bisa menimbulkan salah paham. Apa yang dirasakan oleh nona Gea itu sama seperti yang kurasakan, jadi kuharap kamu tidak mengulanginya lagi."




Merasa dipojokkan, Yuna memasang ekspresi tajam. "Memang apa yang kulakukan padamu? Dan apa yang kamu rasakan? Aku tidak mengerti sama sekali"




"Aku cemburu."




"Ap-?"




"Aku cemburu dengan kedekatanmu pada tuan Ferrald, Yuna."






✒️✒️✒️






"Gea tunggu!" Gio mengejar gea yang berlari darinya. Pria itu menarik pergelangannya. "Ada apa?" tanya Gio setelah berhasil menahan Gea.




"Tidak apa," Gea tidak menjawab banyak. Namun Gio tahu gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Kamu tidak suka dengan semua ini ya?"




Gea memalingkan wajah. "Aku hanya lelah dan ingin beristirahat," alasannya.




"Gea, aku minta maaf kalau aku membuatmu marah."




"Ini bukan salahmu."




"Tidak, ini salahku. Seharian ini kamu marah dan sedih karenaku. Harusnya aku memedulikan dirimu."




"Ini bukan salahmu, bodoh!" Gea akhirnya menatap dirinya. Kedua mata jernih itu mulai memerah dan menitikkan air mata. "Ini salahku karena aku tidak bisa membiarkanmu pergi!"




"Tapi, aku ada disini Gea. Aku tidak pergi kemanapun."




"Bukan itu maksudku!" Gea menepuk dada Gio lalu mencengkeram erat kain kemejanya. "Mengapa sih kamu begitu bodoh? Katanya lulusan Harvard, tapi tidak paham sama sekali!"




Alis Gio mengkerut. "Maaf-" Namun baru mengeluarkan sepatah kata, Gea menyela. "Jangan meminta maaf, cupu! Aku sudah muak mendengar minta maaf mu!" Gea berseru keras. Orang-orang berlalu lalang memerhatikan mereka. "Ini semua salahku.." Gea melanjutkan kalimatnya dengan nada lemah.





"Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita lain."




Diwaktu itu juga Gio membeku. Pria itu yakin tidak ada masalah dengan indera pendengarannya.




"B-Benarkah?"




"Aku tidak mau mengulanginya!"




Wajah Gea semakin merah ditambah gadis itu menggembungkan pipi secara menggemaskan. Gio pun tersenyum kemudian mendekap gadis yang dicintainya itu dalam pelukan.




"Apa aku harus senang dengan perasaanmu padaku, Gea?"




"Terserah!"




"Kamu tidak suka aku di dekati gadis lain, itu berarti kamu menyukaiku?"




"Entahlah."




Gio tertawa, ia semakin mempererat pelukannya. "Aku senang kamu cemburu padaku."




Gea mendorong tubuh Gio. "Aku tidak cemburu padamu!" teriaknya.




"Iya, iya baiklah kamu cemburu." Gio berusaha memeluk Gea lagi namun gadis itu cemberut dan menolak pelukan darinya.




"Sudah kubilang aku tidak cemburu!" Gea mengelak dengan wajah merahnya.




Sekali lagi Gio tertawa. "Baiklah sesuka hatimu saja," pria itu menyerah lalu Gea mendekatkan diri kepadanya. Membiarkan Gio kembali merangkul dirinya dalam dekapan hangat.




Beruntung, jantung Gio masih bisa di netralisir. Pria itu tidak habis pikir kalau pingsan hanya karena perkataan Gea dan menghebohkan semua pengunjung Times Square.







"Aku mencintaimu, Gea."



"Ya, aku juga.... tidak membencimu."