Amour

Amour
Fourty One



Gea memandangi cincin permata yang melingkari jari manisnya. Bibirnya membentuk senyuman. Tersipu untuk kesekian kali jika mengingat apa yang Gio lakukan padanya.




Gea melepas cincin itu. Memasangnya dalam rantai kalung dan dipakainya di leher.




"Seperti inikah rasanya jatuh cinta?" gumamnya tekikik geli.









Pesawat mendarat dengan selamat. Gea dan para karyawan lain keluar dan disambut Samuel girang.




"Bagaimana liburanmu?" tanyanya merangkul Gea seolah sudah akrab begitu lama.




"Menyenangkan," jawab Gea singkat. Samuel beralih pada karyawan Gio yang berkumpul di depannya. Pria tersebut mendekati Yuna.




"Gio mengatakan padaku bahwa kamu telah ditugaskan penuh untuk mendampingiku."




Yuna mengangguk ringan. "Benar, sampai tuan Ferrald kembali, saya akan membantu anda tu-"




"Panggil aku Samuel saja, lagipula aku hanya sementara disini," potong Samuel. "Ngomong-ngomong, untuk hari ini kalian beristirahatlah, besok baru kita mulai agenda baru. Dan kamu, Yuna. Besok pagi langsung pergi ke ruangan. Ada hal yang ingin aku tunjukkan, terutama mengenai grafik penjualan produk."




"Baik, saya mengerti."





Samuel mengembangkan senyuman, menggandeng tangan Gea dan mengambil alih kopernya untuk ia bawa.




"Ceritakan padaku apa saja yang kamu lalui disana?"




"Itu rahasia."




"Kejam.."






✒️✒️✒️






Gea memeluk keluarganya erat. Melepas rindu dan bercerita mengenai hal menarik di New York.




Sebelumnya, ia berpamitan pada Samuel karena sudah dijemput keluarganya di bandara. Samuel mengiyakan.




Gea bersama keluarganya pulang ke rumah. Mia tidak ada henti-hentinya bertanya kemana Gio pergi karena ia tidak ikut kembali bersamanya.




"Ada hal yang harus dia lakukan dan ini bersifat pribadi," jawab Gea.




"Pantas aku tidak melihat Mary maupun Hendry, pasti mereka sudah tau mengenai hal ini," Bobby menyahut.




"Sudah pasti tau, Gio kan anak mereka. Papa gimana sih!" Lisa tidak habis pikir.




"Oh, ya. Tadi aku melihatmu bersama pria beruban, kamu akrab sekali dengannya." Alvan yang duduk di kursi kemudi ikut dalam pembicaraan.




Alis Gea terangkat. "Maksud kakak, si Samuel? Dia sepupu Gio, dan ngomong-ngomong rambutnya tidak beruban, itu adalah cat rambut. Kakak kuno sekali."




"Hei, baru pulang sudah mengatai kakak iparmu begitu?"




"Ya, kak Alvan kan memang kuno. Pria jaman old," Gea meledek.




"Astaga anak ini.."




Bobby, Lisa, maupun Mia tertawa karena pertengkaran mereka.





"Kami sering melihatnya di Apartemen. Dan dia tinggal di sebelah," ujar Mia.




"Apartemen? Tunggu, apa kakak sekarang tinggal di apartemen?"




"Ya, tapi masih beberapa hari lalu. Saat kamu berangkat ke Amerika."




"Kakakmu ingin memberitahu, tapi dia ingin memberikan suprise padamu," kata Lisa.




"Aku mau lihat tempat tinggal kakak!" Gea pun antusias. "Bagus, Kalau begitu kita bisa sekalian mampir ke apartemen kalian," Bobby tak kalah menyahut.




Alvan juga tampak senang. Dia segera mengalihkan mobilnya menuju apartemen tempat tinggalnya dan Mia sekarang.







✒️✒️✒️







Baru sampai di gedung apartemen, Gea sudah terkejut bukan main. Pasalnya apartemen yang ditinggali oleh kakak dan kakak iparnya bukanlah tempat asing.




Bahkan saat Alvan mengantar dirinya ke kamar yang mereka tinggali, Gea semakin terkejut. "Oh, astaga!"




Gea memijat pelipis. Kedua orang tuanya terkagum-kagum ketika masuk ke dalam dan melihat ruangan. Berbeda dengan Gea yang seperti penuh beban pikiran.




"Lihatlah, ini luar biasa bukan?" Mia bertanya. Gea mengulas senyum paksa. "Iya," jawabnya singkat.




"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Mia karena ada ekspresi aneh yang ditunjukkan Gea kepadanya.




"Bukan begitu, hanya saja.." semua orang menatap dirinya. Gea menggigit bibir. "Aku tidak tau kalau kakak mengambil tempat tinggal di apartemen yang sama dengan Gio."




Sontak mereka menganga dengan pernyataan Gea. "Gio? Dia juga tinggal disini? Dimana?"  Lisa paling heboh.




"Di sebelah."




"APA!?"




"Tunggu! Tapi yang tinggal di sebelah kan pria beruban!" Alvan menyahut.




"Justru karena Samuel tinggal sementara disini makanya dia nempatin kamarnya Gio."




Semua orang pun terdiam. "Jadi maksudmu pemilik asli kamar sebelah itu calon suamimu?"







✒️✒️✒️









"Loh, kalian disini?" Samuel tampak terkejut.




"Emm, apa kamu masih mengingatku?" Alvan bertanya sedikit malu.




"Tentu. Kamu kan keluarganya Gea," jawab Samuel polos.




Mia menyela. "Bukan, maksudnya.. Apa kamu mengingat kami sebagai tetangga yang tinggal di sebelahmu?"




"Tinggal di sebelah?" Samuel berpikir sesaat. "Oh! Maaf aku lupa!" serunya menyesal.




Mia dan Alvan menggeleng. "Kamilah yang seharusnya meminta maaf, kami tidak menyambutmu dengan baik sebagai tetangga. Dan kami juga tidak tau kalau kamu kerabat Gio Ferraldo."




"Oh, tidak apa. Tidak masalah. Aku hanya menumpang di tempatnya."




"Kalau begitu, sebagai permintaan maaf, maukah kamu makan malam bersama?"






✒️✒️✒️






Samuel berterima kasih atas hidangan yang disediakan. Semuanya lezat. Keluarga Gea tidak sekaku yang dipikirkannya. Mereka sangat friendly sehingga Samuel mudah berbaur dalam waktu singkat.




Banyak hal yang dibicarakan. Canda tawa mengisi ruangan sampai akhirnya Samuel harus pamit untuk kembali ke kamarnya.




Gea berdiri. Menawarkan untuk mengantar Samuel hingga pintu depan. Tidak ada pikiran buruk. Samuel mengiyakan meski ia bingung pasalnya tanpa diantar Gea pun, dia baik-baik saja.




Gea menarik kemeja Samuel sebelum pria tersebut masuk ke dalam ruangannya. Mereka berdua sedang ada diluar dan Samuel tahu bahwa ada yang ingin Gea bicarakan.




"Apa?" tanya Samuel sengit.




"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat kamar Gio," kata Gea jujur.




"Besok saja, aku capek sekarang."




"Mengapa harus besok? Aku kan cuma ingin mengintip sesaat?"




"Hooaammm.. Sudah malam, aku tidur dulu ya?" Samuel buru-buru membuka pintu dan hendak kabur.




Gea menahan pintu sebelum tertutup. "Hei! Kamu pasti berbuat sesuatu di kamar Gio bukan? Kamu mengobrak-abrik barangnya, iya kan?"




"Siapa bilang? Aku tidak melakukan apapun!" teriak Samuel dari dalam.




"Kalau tidak, kamu tidak akan kabur dariku!"




Gea mendorong pintu begitu kuat sampai Samuel kalah dan tersungkur ke belakang.




"Sekarang, biar kulihat apa yang-"





Demi Tuhan, Gea ingat benar bagaimana suasana dan visualisasi ruangan milik Gio Ferraldo. Rapi, bersih, serta enak dipandang. Tapi apa yang ia lihat sekarang adalah kebalikannya.




Gio memang sudah memiliki firasat buruk tentang tempat tinggalnya dan sekarang Gea tahu apa yang diucapkannya memang benar. Kamar pria itu sama sekali sudah tidak terbentuk.




Ia bisa melihat pakaian yang berserakan, sofa yang tidak tertata, dan tempat tidur yang tidak beraturan.




Bahkan piring kotor ataupun bungkus makanan banyak tersebar di lantai dan meja dapur.




"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Gio melihat semua ini?" Gea tidak habis pikir.




Samuel berjongkok dibawahnya. Memohon dengan wajah sangat dramatis. "Jangan bilang ke Gio, kumohon.. Dia pasti marah besar nanti."




"Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihat dia marah. Mungkin kamu bisa jadi bahan penelitian yang bagus," Gea menyeringai. "Aku jadi ingin membuat eksperimen agar Gio bisa marah dan kamu bahan eksperimennya."




"Hei, kamu menyeramkan!" Samuel bergidik.




"Kupikir aku harus melaporkan semua ini pada Gio." Gea mengambil ponselnya dan Samuel langsung panik.




"No! Please dont do that!" Samuel berteriak. Mereka berebut ponsel.




"Minggir, aku harus melapor padanya!" seru Gea.




"Aku tidak akan membiarkanmu!" Samuel tidak mau kalah.





Mereka pun saling tarik menarik ponsel hingga tarikan Gea membuatnya terdorong tubuh Samuel dan jatuh di lantai dengan posisi Samuel berada diatasnya.





Gea membeku. Matanya beradu dengan mata setengah bulan sabit milik Samuel. Mereka berada dalam keadaan dimana Gea hanya bisa melihat Samuel, begitu pula sebaliknya.





"Kamu mau terus menerus menindihku?" cetus Gea tajam yang akhirnya menyadarkan lamunan Samuel.




"Oh, maaf" Samuel segera berdiri dan menyingkir dari tubuh Gea.




Pria itu terduduk dilantai dengan punggung penuh penyesalan. Alis Gea terangkat penuh tanda tanya.






"Baiklah aku tidak akan melaporkannya. Tapi kamu harus bereskan kamar ini seperti semula."




Samuel tidak mendengarkan.




"Hei, kamu dengar aku tidak?"





"Tuhan, lindungilah hati hamba agar tidak berpaling dari Justina Althea. Hanya Justin yang hamba cintai, bukan yang lain," doa Samuel tiba-tiba.




"Kamu menyindirku ya?" Gea merengut kesal.




Samuel menatapnya serius. "Mundur Gea!"




"Apa?"




"Mundur yang jauh! Aku tidak mau goyah dari Justin karenamu!"





Gea terdiam di tempatnya. Merasa tidak percaya dengan apa yang Samuel katakan lewat suara beratnya.




"B-Baiklah."