
"Maaf, aku tidak tau jika hari inj adalah ulang tahun Mommy mu." Gea tak henti-hentinya mengucap maaf. Begitu pula dengan kedua orang tua Gea dan Mia, kakaknya.
"Tidak apa, lagipula kedatangan kami memang mendadak dan bertepatan dengan ulang tahun Mommy. Kalian tidak perlu khawatir, Mommy lebih senang jika kalian datang menjenguknya daripada memberi hadiah," kata Chesi menenangkan.
Chesi memang sengaja memberitahu mereka mendadak karena tidak ingin merepotkan keluarga Gea. Chesi sudah sangat akrab dengan keluarga Gea. Bahkan, dia sudah menganggap keluarga Gea seperti keluarganya sendiri.
Mobil yang dikendarai oleh Bobby memasuki kediaman rumah Chesi. Lisa menelan ludah, wanita itu memeriksa penampilannya sekali lagi. "Aku merasa gugup."
Chesi yang duduk di kursi belakang bersama Gea dan Mia tertawa kecil. "Mengapa tante begitu gugup? Ini kan hanya pesta ulang tahun."
"Iya. Papa juga gitu, daritadi sikapnya aneh mulu. Ini kan cuma pesta ulang tahun Mommy nya Chesi. Bukan mau menemui menantu," kata Gea menambahi. Suasana di mobil jadi sunyi. Mia berdehem tanpa bicara sedikitpun. Sementara Bobby dan Lisa hanya bisa saling pandang.
"E-Eum,keluarganya Chesi kan baru pulang dari Singapura. Dan sudah lama Mama gak ketemu. Wajar dong kalau Mama gugup." Lisa menoleh ke arah Bobby dan dengan cepat Pria berkumis tipis itu mengangguki ucapan Lisa.
"Papa juga gugup karena sudah lama gak ketemu Daddy nya Chesi. Hehe.."
Namun Gea tetap menatap kedua orang tuanya tajam hingga Mia menengahi, "Sampai kapan kita di mobil? Kalian tidak mau turun?" Mia membuka pintu lalu keluar, diikuti Bobby dan Lisa sementara Gea dan Chesi menyusul terakhir.
Mereka berlima masuk ke dalam. Chesi menuntun keluarga Gea hingga berada di ruang makan. Disana, Hannah Mommy Chesi dan Kevin, Daddynya sudah duduk ditemani kue ulang tahun di meja. "Kami masih belum ketinggalan kan?" Chesi bertanya, lalu memeluk kedua orang tuanya.
"Kalian datang tepat waktu," Kevin menyunggingkan senyum. "Acaranya baru saja dimulai."
Yang datang ke pesta hanyalah keluarga besar saja. Dan keluarga Gea adalah satu-satunya keluarga dari luar yang mereka undang.
"Lama tidak bertemu, Hannah." Lisa memeluk wanita cantik berambut cokelat tersebut dengan erat.
"Hei, Kevin." Berbeda dengan para istrinya, Bobby bersalaman lebih dulu lalu memeluk sahabatnya. "Sudah lama tidak bertemu denganmu, Bob"
Semua orang sedang melakukan pelepasan rindu, namun Gea hanya mematung di belakang tanpa berbuat apa-apa.
Gadis itu masih syok ketika memasuki ruang makan keluarga Chesi. Gea mengenal seluruh anggota keluarga Chesi dengan baik, namun seorang pria berkacamata mengalihkan atensinya. Sejauh ini, Gea sudah bertemu dengan Paman, Bibi dan saudara Chesi yang lainnya.
Tapi pria berkacamata ini?
Mengapa dia ada di rumah Chesi?
"Oh, aku terkejut kita bertemu disini." Pria yang sedari tadi ditatap Gea mengulas senyum. "Kamu terlihat lebih feminim dari biasanya."
Gea menunjuk pria bernama Gio lalu menoleh ke arah Chesi dengan pandangan menuntut jawaban.
"Mengapa dia disini?"
✒️✒️✒️
Beberapa menit lalu Chesi menjelaskan bahwa Gio adalah kakak sepupunya. Dan alasan mengapa Gea tidak pernah melihatnya adalah karena Gio orang yang sibuk. Pria itu baru mendapat waktu luang hari ini dan bertepatan dengan hari ulang tahun Mommy nya Chesi.
'Sibuk apa? Masa seorang guru bekerja 24 jam? Ah tunggu, aku lupa Pak Gio adalah guru baru,' batin Gea tak habis pikir.
Dan parahnya, Gea juga baru mengetahui fakta jika Gio yang ingin dijodohkan orang tuanya pada Gea adalah putra dari Paman Hendry dan Bibi Mary yang Gea kenal baik.
"Kamu sangat cantik hari ini" Puji Mary yang tak bisa mengalihkan matanya pada Gea.
Gea tersenyum paksa. Dia menoleh pada kedua orang tuanya dengan tatapan seolah berkata, 'Jadi ini alasan Papa dan Mama merasa gugup tadi.'
Tak dirasa, pesta sudah usai. Keluarga Chesi mengucap terima kasih. Hannah memeluk saudara dan Lisa, temannya sebelum mereka berpamitan. Dan saat giliran Gea, Hannah tersenyum penuh arti.
Dia memeluk erat Gea lalu memandang Gio. "Kamu tidak ingin mengatakan apapun pada calon istrimu?"
Sontak Chesi langsung tersedak. "A-Apa?" Matanya membulat tak percaya dengan yang ia dengar barusan.
Kevin mengalihkan atensi pada Chesi. "Sebelum kamu datang, Paman Hendry bilang jika Gio di jodohkan dengan Gea. Bukankah ini menakjubkan? Kita akan menjadi keluarga besar sungguhan nantinya."
Mia tak mampu menahan senyum. Begitu pula dengan Bobby dan Lisa serta Hendry dan Mary. Mereka terlihat begitu bahagia dan tak sabar hal itu akan terjadi.
Sedangkan Chesi masih tak bisa mengontrol wajah terkejutnya terlebih yang mengalami perjodohan adalah Gea, temannya sendiri.
Gio melangkah mendekat lalu menyerahkan kotak kado untuk Hannah. "Selamat ulang tahun."
Hannah tersenyum senang. Dia memeluk Gio dan mengecup keningnya.
Gea melirik mereka. Mata Gio beralih padanya. Dan sekali lagi, lengkung bibir Gio terbentuk.
"Aku juga punya hadiah untukmu. Lebih indah dan menakjubkan saat kita menikah nanti. Tunggulah sebentar lagi."
Sontak perkataan Gio disambut sorak oleh Keluarga Gea dan Chesi. Harapan Gea dan Gio menikah semakin besar. Sementara gadis yang dimaksud oleh Gio merona. Ini adalah pertama kalinya Gea mendapat ucapan seperti itu.
Dan pertama kalinya juga, dia berdebar-debar.
Chesi menggandeng tangannya dan melebarkan senyuman. "Aku tidak tau apa yang Tuhan rencanakan, tapi aku sangat bahagia meski sempat syok. Aku akan mendukungmu Gea."
Wajah Gea semakin merah. Gio menatapnya tanpa henti. Dan sekarang Chesi malah menyetujui. Tapi entah mengapa meski jantungnya berdebar, Gea merasa aneh.
Ada sedikit rasa yang ganjil.
Dan Gea tidak mengerti perasaan apa yang menghantuinya kini.