
Baru beberapa jam lalu Gea selesai membersihkan make up dan hendak beristirahat, ponselnya berdering. Melihat nama yang tertera membuat Gea dalam mood buruk. Ia menjawab malas panggilan tersebut.
"Untuk apa kamu menelponku?" cetus Gea begitu menjawab telepon.
'Maaf, saya adalah sekretaris tuan Ferrald. Hari ini tuan sedang sakit jadi bisakah saya meminta bantuan anda untuk menjaganya sebentar?'
Sekretaris? Ah, Gea ingat pria yang bersama Gio tadi.
Tapi tunggu, Gio sakit?
Padahal saat di acara wisuda, dia keliahatan baik-baik saja. Bagaimana ia bisa sakit secepat itu?
Mungkinkah karena keadaan Gio tidak baik, pria itu bersikap dingin dan sedikit pendiam padanya?
Ataukah semua ini karena kemarin malam?
Gea berpikir sebentar. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan sementara Gea tidak mau mengganggu Mia dan Alvan di kamar.
"Baiklah, aku akan kesana," jawab Gea pada akhirnya. Lagipula dia masih ingat tempat tinggal Gio Ferraldo. Dan untuk menebus sikapnya yang mungkin agak kasar padanya, Gea pun menyanggupi untuk bertemu dengan Gio.
'Terima kasih, nona Gea.'
✒️✒️✒️
Gio membuka matanya setelah mendengar bel pintu. Pria itu bangkit dari tempat tidur dan mengambil kacamatanya di meja nakas.
Bel pintu berbunyi sekali lagi. Gio mencoba berdiri namun semua yang ada di depannya terasa berputar dan kepalanya semakin pening.
"Siapa?" suaranya terdengar lemah. Pandangannya buram dan Gio pun terduduk di lantai.
Seseorang membuka pintu. Gio mendongakkan kepala mengingat ia memiliki sandi untuk mengunci pintunya. Lantas bagaimana orang tersebut dapat masuk ke dalam.
Nafasnya tak beraturan dan ia perlahan melihat jelas orang yang tengah berdiri di depannya.
"G-Gea?"
"Apa yang kamu lakukan di lantai?" Gea membantu Gio berdiri lalu menidurkannya di kasur.
"Bagaimana kamu bisa masuk? Siapa yang menyuruhmu kemari?"
"Sekretaris mu bilang kalau kamu sakit dan maaf jika aku langsung masuk karena kamu tidak kunjung membukanya."
"Kamu tau sandinya?" Gio bertanya, namun justru dibalas pertanyaan juga oleh Gea. "Apa kamu lupa aku pernah kemari?"
Gio menarik senyum. "Kamu mencemaskan aku?"
Gea tidak langsung menjawab. Dia memalingkan wajah dan memberi selimut pada Gio. "Tidurlah, aku akan membuatkan makanan lalu kamu bisa minum obat."
Gadis tersebut berdiri, setelah itu Gio memegang pergelangan tangannya. "Aku senang kamu mencemaskanku," katanya lembut.
Gea berbalik dan memeriksa kening Gio. "Kamu demam tinggi." Selepas Gea mengucapkan kalimat itu, Gio tertidur. Genggaman pada tangan Gea pun melonggar dan lepas.
Gea segera mengambil sesuatu dari kantung kresek. Sebuah fever patch ia tempelkan di dahi Gio sementara dia pergi ke dapur.
Semua bahan yang ia bawa diletakkan di meja. "Baiklah, sekarang bagaimana caranya membuat bubur?"
Gea mencari resep mudah di internet kemudian segera memasak. Gadis itu belajar keras meski payah dalam hal ini. Tetapi Gio sedang sakit dan dia sendirian. Setidaknya bubur tidaklah begitu sulit.
Sambil menunggu buburnya matang, Gea memeriksa keadaan Gio sekali lagi seraya membersihkan tempat tinggalnya.
Dia tidak menyadari bahwa Gio memang sudah tampan sejak lahir. Wajahnya imut dan bulat. Semua foto keluarganya terpampang di dinding, termasuk foto Paman Hendry dan Bibi Mary.
'Jika Gio adalah putra Paman Hendry dan Bibi Mary mengapa baru sekarang aku melihatnya?' batin Gea tidak mengerti.
Padahal pertama kali Gea diperkenalkan dengan Paman Hendry dan Bibi Mary saat itu dia masih SMP.
Gea memandang foto Gio yang memakai toga saat kelulusan di universitas London.
'Mungkinkah, waktu itu dia masih sibuk kuliah?' pikir Gea.
Sedangkah foto Gio yang lain mengalihkan atensinya. Foto yang diambil ketika Gio di SMA mengingatkannya akan seseorang.
"Mengapa aku merasa tidak asing dengannya?"
Gea terhenti karena ia melihat buburnya mulai matang. Gadis itu beralih dan membuka panci.
Gea tersenyum lalu mematikan kompor, selanjutnya dia mengambil mangkuk dan menuangkannya disana.
'Bagaimana jika aku menyukaimu Gea?'
Perkataan Gio terngiang di kepala Gea. Gadis itu menatap Gio yang lemah diatas tempat tidur.
'Kamu bisa melanjutkan pendidikan seperti yang kamu mau, Gea. Aku tidak memaksa.'
Gadis itu mendekat. Gio tampak tertidur pulas dan ia tidak ingin mengganggunya, tapi pria itu belum makan apapun.
"Gio.." Gea menggoyangkan pelan tubuhnya agar Gio bangun. Pria itu membuka matanya berat dan menatap Gea.
"Kamu makan dulu. Buburnya sudah siap, setelah itu minum obat ya?"
Gio merubah posisinya menjadi duduk. "Suapin," ucapnya.
Pipi Gea bersemburat merah. "Ka-Kamu kan punya dua tangan, tidak ada yang patah. Makan sendiri ya?"
"Suapin." Gio memasang wajah serius. Matanya menajam seolah menuntut Gea agar menuruti keinginannya.
"Jika saja kamu tidak sakit, aku pasti memukulmu," gerutu Gea sembari mengambil sesendok bubur. "Aku tidak pandai memasak, jujur ini pengalamanku yang pertama. Jadi jangan tertawa kalau rasanya aneh," tambahnya lalu memberikan sesuap bubur itu pada Gio.
"Rasanya memang aneh," komentar Gio blak-blakan. "Tapi apapun yang kamu buat, akan selalu menjadi yang spesial dan terlezat untukku," lanjutnya.
Gea hampir meledakkan amarah karena komentar blak-blakan Gio, tapi mendengar kamilat selanjutnya dia membeku. Jantungnya berdegup kencang dan ini sudah yang kesekian kali.
Sejauh ini belum pernah ada yang membuat Gea merasa bimbang akan perasaannya. Dia bukannya membenci Gio, hanya saja perjodohan diantara mereka entah mengapa Gea jadi kepikiran.
Terlebih sikap baik dan manis Gio Ferraldo semakin menyulitkan Gea untuk menghindari.
Suapan terakhir diberikan Gea pada Gio. Pria itu sungguh menghabiskannya tanpa sisa meski sempat bilang jika rasanya aneh.
Gea menempelkan tangannya pada pipi Gio guna memeriksa suhu tubuhnya. "Kamu masih demam, sekarang minum obat dan tidurlah."
Gio menyentuh pergelangan Gea di pipinya. Dia memandang Gea dengan mata sendu. "Aku mencintaimu."
Pernyataan Gio yang tiba-tiba membuat Gea terkejut. Sebelumnya dia tidak pernah mengatakan kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh, tapi sekarang dugaan Gea memang benar. Gio menaruh perasaan padanya.
"Gio-"
"Jadilah milikku, Gea."
Gea menelan ludah, pipinya memerah bak tomat. Gio juga sama halnya.
"Meski kamu akan menolakku, aku akan tetap mengejarmu sampai dapat. Aku tidak akan menyerah dan pasti membuatmu jatuh cinta padaku."
"Gio, kamu sedang demam. Jangan bicara ngawur." Gea berusaha memalingkan wajah, dan menarik tangannya namun Gio mencegahnya.
"Kamu benci dengan sikapku yang terlalu baik kan? Mulai sekarang aku akan jadi Gio yang jahat agar bisa kamu sukai."
Kali ini Gea tertawa. "Aku tidak yakin kamu bisa," katanya.
Gio menautkan kedua alis. Sebelah tangannya membuka tiga kancing atas kemejanya dan membuat Gea menjerit.
"H-Hei, apa yang kamu lakukan bodoh!"
Kemudian Gio melepas kacamatanya lalu menyilakkan poninya ke belakang. Memasang tatapan tajam yang dipandang bingung oleh Gea.
"Be my wife. B*tch!"
Seketika itu juga Gea menampar Gio Ferraldo. "Mengapa kamu menamparku?" Gio bertanya protes. "Aku kan lagi sakit."
"Darimana kamu belajar kalimat itu guru cupu?" tanya Gea mengintimidasi sambil menarik senyum mengerikan.
"N-Novel." Gio menjawab gagap karena takut. "A-Aku kan sedang mencoba menjadi Bad Boy agar kamu menyukaiku," lanjutnya.
Gea mengjela nafas. Dia mengambil segelas air putih. "Minum obat sekarang, lalu tidurlah."
Gio masih merasa takut. "Cepat!" seru Gea dan Gio pun segera menurut padanya.
Gea memerhatikan pria itu sampai ia benar-benar menelan obatnya. Setelahnya, Gea berdiri namun detik berikutnya Gio memegang pergelangan tangannya.
"Maaf, sudah membuatmu marah. Kamu tidak akan pergi kan?"
"Ini sudah malam, Gio."
Gio menundukkan kepala kemudian melepas genggaman.
"Aku menyukai sifat apa adanya dirimu. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi orang lain, jadi tidurlah," perkataan Gea mengukir senyum Gio Ferraldo. Pria itu merasa lega dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.
"Kalau nanti kamu pulang, hati-hatilah dijalan dan maaf aku tidak bisa mengantarmu."
"Tidak masalah, dan terima kasih"
"Akulah yang harusnya berterima kasih. Kamu datang jauh-jauh dan merawatku. Aku merasa bahagia." Gio melebarkan senyumnya sebelum menutup mata.
Gea menunggu sampai Gio benar-benar terlelap. Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, Gea mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.
"Halo Ma." Gea menatap Gio sekali lagi.
"Sepertinya Gea tidak bisa pulang malam ini."