A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Delapan



"Jadi kamu suka Robert Pattnson nih?" Chen Zhang menunjuk sampul buju catatan Lina yang rupanya sedikit menyembul. "Buku catatan kamu gambar wajah cowok itu"


***


"Oh kamu liat?" Lina terkekeh, tidak menyadari ternyata sampul buku catatannya semencolok itu. Lina segera memasukkan buku catatannya lebih dalam. "Ya, suka banget! Dari pertama liat dia di Harry Potter and The Goblet Of Fire, aku udah suka"


"Nanti kami bisa foto sama patungnya. Kita ke Madamme Tussauds. Disitu ada patung baru Robert Pattinson itu" terang Chen Zhang.


"Oh ya?" mata Lina membulat.


"Ya, lumayan baru patungnya. Setelah itu kita naik tramp"


"Tramp itu apa?" alis Lina bertautan.


"Semacam kereta. Modal transportasi tertua di Hong Kong, tapi relnya miring dan kemiringannya sampai lima puluh derajat. Ada sejak tahun 1888 dan masih awet sampai sekarang. Seru banget deh kalau naik itu!"


"Aku belum sempat browsing apa-apa soal Hong Kong nih Chen"


"I will guide you" ujan Chen sambil tersenyum. "Jangan khawatir"


"Dari percakapan mereka, Lina tahu bahwa Chen terdaftar sebagai mahasiswa tingjat akhir Fakultas bisnis Internasional di salah satu Universitas Swasta di Surabaya. Chen Zhang sudah tau banyak tentang China karena sebelumnya dia sudah pernah ke China untuk mengikuti semacam kongres dari kampus.


Ayah dan ibunya membuka poulty shop, toko yang menyediakan keperluan beternak unggas, mulai dari pakan, obat, vaksin, perlengkapan pakan, sampai vitamin.


Termasuk pakan ternak merek Jaya Raya. Tapi berkat kemampuan Lina bercakap-cakap yang cukup lihai, topik tentang peternakan itu berhasil di hindari dan mereka pun berdiskusi soal lain yang menurut Lina lebih menarik.


Diam-diam Lina mengagumi cowok didepannya. Selain tampan dan wangi yang ini benar-benar nilai plus, Chen Zhang juga ramah, smart, dan humble. Chen Zhang tahu banyak hal dan membaginya tanpa membuat Lina merasa bodoh atau dengan sengaja supaya Chen tampak pintar.


Chen Zhang sama sekali tidak memiliki sifat dasar orang sombong, meskipun apa yang dia ketahui merupakan modal yang lebih dari cukup untuk menyombongkan diri. Dengan cepat Lina merasa nyaman berada di dekat cowok ramah itu.


Sikap Chen Zhang yang juga lebih dewasa dan humoris membuatnya sangat enjoy berlama-lama bersama Chen Zhang. Seperti ini bukan pertama kali mereka bercakap-cakap, rasanya seperti sudah lama saling mengenal.


Rupanya, tidak semua peserta tour ini sejutek Dewita dan Rita.


***


Mereka hanya perlu turun kelantai dasar, melewati beberapa lorong, naik Kereta listrik singkat, Lalu mereka pun bisa melihat laut dan kapal-kapal Feri yang bersandar di Dermaga.


Lina terpaksa duduk sendirian dibangku pojok saling belakang karena masing-masing sudah duduk dengan pasangan dan sibuj mengobrol. Chen Zhang sudah terlibat obrolan seru tentang kapal feri yang mereka naiki dengan Pak Kamto yang duduk disampingnya.


Terdengar mereka sedang membicarakan knot, potensi hujan, dan kasino. Lina jadi menyesal Papanya tak jadi ikut. Kalau Papanya ikut, dia tidak perlu duduk sendirian kayak irang hilang begini.


Ketika kapal mereka tiba di Macau 45 menit kemudian, masing-masing sudah loyo, dan hujan mendadak turun. Muka-muka rombongan Samko Tour sangat-sangat mempribatinkan.


Selain kelelahan dan kelaparan, mereka juga masih harus mendorong koper masing-masing sampai ke bus yang sudah menanti kedatangan mereka. Tidak ada porter juga di Macau Maritime ferry Terminal.


Lina memperhatikan sendiri cuma ada tiga celana jins, lima kaos, dua sweater, kaos kaki, pakaian dalam, dan beberap perlengkapan lainnya. Itupun masih menyisakan ruang yang cukup banyak untuk beberapa potong pakaian lagi.


Lina berencana membeli kaos disini, jadi dia tidak perlu membawa banyak baju. Standar, atau mungkin malah minim. Jelas sekali Dewita dan Rita tipe cewek yang berbeda dengannya.


Sebuah bus kecil berwarna merah sudah menunggu rombongan Samko Tour ditengah guyuran hujan deras. Mereka naik dengan sisa-sisa tenaga. Begitu bus sudah melaju, suara pemandu wisata yang berasal dari depan kendaraan mungil itu menyambut mereka.


"Hallo Bapak-bapak, Ibu-ibu!"


Seluruh penumpang yang baru saja duduk langung menoleh. Suara cempreng itu mampu menyita perhatian peserta rombongan tour yang sudah tak bertenaga.


Di hadapan mereka berdiri wanita berusia tiga puluhan yang memegang mikrofon, Rambutnya pendek dan badannya mungil.


"Perkenalkan nama saya A Yung. Saya prmandu tour selama di Macau sampai besok sore ya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Kita jalan-jalan bersama. Apa ada yang sakit karena mabuk laut atau kedinginan? Untuk yang sudah kelaparan, sabar ya. Sebentar lagi kita sampai di restoran tempat kita makan malam!"


Lina heran. A Yung sangat lancar berbahasa Indonesia padahal tadi Lina mendengar dia juga fasih berbahasa Mandarin pada supir bus. Jadi serasa, masih di Surabaya.


"A Yung orang sini?" ternyata bukan Lina saja yang penasaran, Mas Yofan, yang juga baru pertama kali ke Hong Kong, tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang juga menggantung di kepalanya.


"Saya penduduk Macau. Tapi ayah saya berasal dari Indonesia, tepatnya dari Surabaya. Ibu saya Medan. Mereka bertemu disini. Karena kan... Bapak-Ibu mungkin sudah tahu kalau pada tahun 60-an ada eksodus besar-besaran penduduk China yang tinggal di Indonesia kembali ke negaranya" A Yung bercerita.


"Jadi saya masih bisa bahasa Indonesia Karena Ayah dan Ibu masih menggunakannya dirumah. Aku yo iso boso jowo lho."


Kalimat terakhir A Yung membuat seluruh penumpang bus mungil merah itu tertawa geli. A Yung melafalkan logat bahasa Jawa dengan fasih, bahkan logat Jawa nya terdengar khas Surabaya. Memang agak-agak janggal mendengar percakapan bahasa Jawa di Macau apalagi dari penduduk Macau sendiri.