
Lina tahu itu merupakan botol minum kesayangan Mamanya. Wanita berusia empat puluh tahun itu mudah haus, jadi beliau selalu membawanya kemana-mana
***
"Gampang, Mama punya satu lagi di rumah. Masukkan ke tas." Belum sempat Lina memasukkan botol itu ke ransel hitamnya, Mamanya yang protektif sudah memasukkan botol itu lebih dulu. "Selalu di isi ya, Jangan sampai kekurangan air minum. Jaga diri baik-baik selama liburan. Seminggu loh. Puas deh kamu di sana. Ling, uangmu cukup kan?"
"Cukup kok Ma. Terima kasih ya, ma"
"Ya, dan jangan lupa untuk terus kabari Mama selama di sana. Jaga kesehatan, Vitamin jangan lupa di minum karena jadwalmu akan sangat padat, juga jangan berpisah dari rombongan. Jangan jalan sendirian!" Mamanya mengulagi pesan yang sama untuk ketiga kalinya. Bu Anita memang cerewet, tipe ibu yang selalu mengatur. Karakter itulah yang membuat Lina sering kesal, tanpa sadar kadang Mamanya masuk dalam hidupnya.
Lina kemudian teringat pertengkaran dengan Mamanya beberapa waktu lalu. Terselip rasa tak enak di hatinya, saat memandang wajah Mamanya sekarang, meskipun beliau tampak seperti biasa dan sudah tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka soal profesi apa yang harus di pilihnya untuk masa depan.
***
Dua hari yang lalu.
"Liiingg!" suara Mamanya terdengar mrlengking. "Ling-ling ayo bangun. Sudah siang, mau sampai kapan kamu di kamar terus?"
Di dalam kamar, Lina berdecak kesal. Konsentrasi gadis berambut sebahu itu mendadak buyar. Ide ide cerita untuk novelnya yang sudah di ujung jari dan siap di ketik mendadak lenyap.
"Ya, Maa! Ling-ling sudah bangun dari tadi." Lina membuka pintu sambil menggerutu, Mamanya berdiri di depannya dengan wajah kesal.
"Kalau gitu kenapa nggak keluar? Sedang apa kamu? Ayo bantu Mama di kandang. Kamukan mahasiswi peternakan. Orangtuamu punya kandang ayam bukannya di bantuin malah jam segini masih tidur! Peternak itu harus bangun pagi, Ling. Tiga pegawai nggak masuk hari ini," omel ibunya. "Bantuin Mama, dong"
"Ma, tapi Lina punya hal penting banget yang harus di selesaikan! Nggak bisa di tunda lagi."
Kalau di tunda, ide-ide itu bisa menguap begitu saja. Kan sayang!
"Ayo, sebelum kamu berangkat ke Bogor dan kuliah peternakan, lebih baik kamu praktek dulu di kandang sendiri. Jangan malas!" Mamanya menarik tangan Lina keluar kamar.
Lina mengentakkan genggaman tangan mamanya sampai terlepas. "Ma, Lina nggak mau ke kandang hari ini. Lina mau nulis! Besok-besok aja."
Apa? Sia-sia? batin Lina geram. Yang sia-sia itu bukan Mama yang membiayai, tapi aku yang menjalani!
"Ling-Ling nggak milih jurusan itu Ma! Itu jurusan yang Mama dan Papa ambil, Itu mimpi Papa dan Mama. Bukan mimpi Ling-ling! Ling-Ling nggak mau daftar ulang, Ling-ling mau ikut SBMPTN. Ling-Ling mau kuliah yang menjadi pilihan hati Ling-Ling!"
BRAKK!
Pintu kamar di tutup dengan kasar.
"Ling, buka pintunya!"
Ling-ling mengacuhkan Mamanya yang terus mengetuk pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki Mamanya yang menjauh.
***
Di bangku hitam tempat calon penumpang pesawat di Bandara Juanda menanti keberangkatan, rasa bersalah menyusupi hati Lina mengingat pertengkaran dengan ibunya hari itu. Mungkin para pegawai dan pembantu di rumah mereka mendengar apa yang Lina katakan kepada Mamanya. Tapi dia tak punya pilihan lain, tindakan itu harus dia lakukan sehingga orangtuanya tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidupnya.
Lina menghela napas berat. Buat apa selamanya hidup dalam kebohongan? Menjalankan hidup tidak dari hati itu pasti teramat menyiksa. You wont feel alive. Empat tahun dia akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswi di jurusan yang bukan minatnya. Bayangkan! Apa itu namanya tidak menyiksa diri sendiri?
Lagi pula ini hidupnya. Untuk apa menjadi orang lain? Bagaimana bisa bahagia kalau hidup tidak menjadi diri sendiri? Dia kuliah hanya demi kebanggaan orangtuanya, bukan untuk hidup dan cita-citanya sendiri. Terlalu memaksakan diri, Terlalu naif.
kayak zombi...
"Ling? kamu sakit, ya?" Mama Lina baru kembali dari toilet menyentuh bahu Lina dengan raut wajah khawatir.
"Eh? Enggak kok, Ma"
"Kayaknya dari tadi lesu aja. Badan kamu panas?" wajah Mamanya tampak semakin khawatir. "Ada yang kamu pikirkan?"
Sebelum Lina sempat menjawab pertanyaan Mamanya, terdengar suara melengking dari kejauhan.