
Sesampainya dikamar semalam, Dewi masih memasang wajah dongkol. Terlihat tidak suka, cewek itu memasang adptor dan mengisi baterai gadget-gadget nya tanpa berkompromi terlebih dahulu padanya. Padahal colokan dikamar itu cuma satu dan Lina juga ingin mengisi baterai ponsel dan kameranya.
***
"Adaptor ini boleh disambung sama adaptorku nggak?" Lina meminta izin, sebelum mereka beberes mandi.
"Ya" jawab Dewi singkat tanpa menatap wajah Lina.
"Kamu saudaraan sama Rita ya?" Lina berusaha membuka percakapan.
"Nggak tetangga."
"Gimana hari ini? Lumayan capek ya?"
"Lumayan" jawab Dewi, dia langsung beranjak masuk kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi.
Lina masih berharap sikap Dewi itu karena jetlag atau kelelahan, tapi dugaannya salah. Pagi ini saat mereka sarapan, Dewi dan Rita terlihat ramah dan terlibat obrolan seru dengan Mas Yofan dan istrinya. Dewi juga tampak mengajak berbicara Caca yang po gi itu makan roti isi selai cokelat sampai belepotan ke pipi.
Tetapi wajah ceria dan ramah mereka berubah ketika melihat Lina masuk ruang makan, Dewi langsung membuang muka. Sementara Rita menatap tanpa berkata apa-apa, tawa ceria langsung menghilangdari wajah mereka, seperti tersapu angin.
Lina memaksakan dirinya untuk tidak peduli, karena dia memang sama sekali tidak paham. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
Jam tujuh tepat, bus merah kembali membawa rombongan itu berkeliling.
Nama dan arsitektur jalanan Macau yang mengingatkan Lina akan suasana Eropa yang pernah dia lihat di majalah. Patung-patung yang menghiasi beberapa sudut kota, beberapa pertokoan di Macau juga bergaya Eropa meskipun tulisan ditokonya adalah Aksara China.
"Ada salah satu konglomerat di Macau yang memiliki empat istri dan enam belas anak yang kaya raya. Keluarganya pemilik beberapa kasino sekaligus pemilik gedung Lisboa dan Grand Lisboa, salah satu ikon yang terkenal di Macau. Selain Macau Tower"
A Yung yang hari ini tampak segar dengan baju bercerita sambil menunjuk kearah gedung Grand Lisboa yang berwarna emas dan menjulang tinggi, berbentuk seperti daun pisang kipas.
"Kalian akan banyak ketemu sama gambar atau miniatur Grand Lisboa ditoko suvenir. Ini memang salah satu ikon Macau."
"Nggak bisa bayangin, sekaya apa orang itu sampai-sampai punya gedung sendiri! Kalau yang punya Grand Lisboa meninggal, bisa-bisa kuburannya ada disalah satu pulau pribadi yang dibeli khusus untuk makamnya" celetuk Chen Zhang yang tak bisa menyembunyikan kagumnya.
"Ya mungkin kalau duitnya jatuh dijalan sepuluh juta, dia nggak akan bingung ngambilnya" Pak Kamto menambahkan.
"Soalnya waktu yang dia pakai untuk ambil duit sepuluh juta yang jatuh itu bisa menghasilkan lebih sepuluh juta"
"Itu sih kayak Bill Gates dong, Pak?" timpal Mas Yofan yang duduk di belakang mereka.
Macau memang dipersiapkan sebagai kota wisata karena setengah dari pendapatannya berasal dari Turis dan Kasino. Berkat banyaknya tempat judi dan wasatawan yang berkunjung, Macau menjadi kota yang makmur dengan pendapatan penduduk yang tinggi.
Padahal mobil-mobil juga bisa dihitung dengan jari di Surabaya. Mobil-mobil mewah itu terparkir diarea yang memiliki meteran parkir dan harus diisi dua jam sekali.
"Yuk kita sudah sampai ditujuan pertama kita, St. Paul Ruins. Kita jalan kaki ya kesana, bus tidak boleh masuk sampai depan gereja" kata A Yung.
Mungkin diantara rombongan, Lina yang paling tampak antusias. Katedral yang pernah terbakar tiga kali ini memang sangat ingin dikunjungi Lina.
Mmmm, minta tolong foto siapa ya? batin Lina sambil melihat sekeliling. Susah juga kalau nggak punya teman begini, semua sibuk dengan sendirinya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Lina melihat Dewi dan Rita yang seperti biasa, tidak terpisahkan. Dua cewek itu hari ini memakai mantel yang tampak mahal. Padahal cuaca di Macau nggak dingin sama sekali, agak janggal. Mungkin mereka mengharapkan turun salju.
Lina mendekati mereka, Tapi beberapa langkah sebelum Lina sampai ditempat Dewi dan Rita, kedua cewek itu langsung pergi menjauh dengan sengaja.
Kenapa sih mereka itu sombong banget! Anak pejabat juga bukan, artis apalagi!
Lina menggerutu dalam hati. Lama-lama dongkol juga dengan kelakuan Dewi dan Rita. Kenal juga nggak, tapi juteknya kayak udah musuhan sejak dalam kandungan.
"Ling! Sini aku foto!" Chrn Zhang lagi-lagi muncul mengejutkan Lina. Cowok itu melambai dari bawah anak tangga, ditangannya ada kamera DSLR yang sudah siap untuk memotret.
"Kok kamu tahu aku pengen difoto?" tanya Lina heran. Kemunculan Chen Zhang itu memang tepat waktu banget.
"Muka kamu yang celingukan sambil senyum itu eyecathing."
Wajah Lina memerah. "Aduh, jangan kenceng-kenceng dong!"
"Nggak ada yang tahu bahasanya!" sahut Chen Zhang cuek. Kamera ditangannya sudah membidik.
"Bagus! Percaya deh, aku udah berdiri di anak tangga yang pas. Jadi semua bakalan jelas difoto, ayo pose!"
Lina menuruti aba-aba, Chen Zhang mengambil foto beberapa kali.
"Oke, bagus nih!"
"Makasih Chen. Kamu mau difoto juga nggak? Sini aku fotoin!" Lina menawarkan diri dengan semringah.
Berkat Chen Zhang, akhirnya ada juga yang mengabadikan momen fotonya disini. Meskipun cuma seiris tipis, St. Paul Ruins tidak kehilangan kemegahannya. Saras pasti mupeng berat!