A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empatdua



Cklek!


Pintu kamarnya terbuka. Rita dengan jaket hijaunya datang.


"Aku udah ngomong sama Lina," kata Rita sambil membuka jaketnya. "Besok lebih baik kamu ngomong langsung sama dia. Lina ingin ketemu kamu, jam enam. Di lobi sebelum kita ke Indonesia."


***


Pagi ini Metropark Kowloon Hotel baru bangun, aktivitas penghuninya belum banyak. Lift dan lorong hotel tampak lengang. Penghuninya masih banyak yang terlelap. Beberapa mempersiapkan keberangkatan perjalanan mereka, beberapa lagi sudah bersiap pulang.


Dewi menyusuri lorong itu sendirian. Gadis itu berpapasan dengan satu sampai dua orang yang tak di kenal. Suasana seperti ini memang tenang, tapi tak cukup ampuh menghilangkan kegelisahannya. Dewi tak mau berspekulasi rentang reaksi yang di terimanya nanti. Dia akan mengakui kesalahannya, selebihnya.. entahlah. Yang penting dia mengakuinya dulu.


"Haii,," sapa Dewi. Saat itu jam enam pagi tepat. Sosok yang hendak di temuinya sudah menunggu di lobi hotel yang masih sepi, duduk di sofa biru.


Lina mendongak. "Hai, Wi. Take a seat."


Dewi duduk di depan Lina. Hatinya masih tak tenang. Ada resah dan khawatir menyusup sejak semalam.


Dewi membuka suara untuk memecah keheningan. Juga karena memang seharusnya dia dulu yang memulai klarifikasi ini. Sikapnya sudah cukup buruk.


Nggak ada bedanya ngomong sekarang sama nanti. Batin Dewi.


"Aku denger Rita semalem udah ngomong sama kamu." Dewi menarik napas, mengawali kalimatnya. Walaupun dia merasa di posisi sulit untuk jujur. Gadis itu mengkhawatirkan reaksi yang akan di hadapinya. "Apa yang dia omongin benar. Semua ini salah paham, semua ini nggak seperti yang aku kira. Memang berat harus mengakui kesalahan seperti ini ke kamu, aku nggak tahu kamu mau maafin aku apa nggak. Rasanya waktu aku tahu semua ini salah, aku nggak sanggup nemuin kamu. Tapi aku nggak mau nyari musuh lagi. Keluargamu udah ngelakuin banyak hal buat keluargaku. Aku juga sudah klarifikasi ke orangtuaku, dan memang aku yang salah, aku yang menarik kesimpulan sepihak tanpa membicarakan apa-apa sama mereka. Waktu kamu masuk kamarku, aku baru aja tahu semuanya dari Tante Viona. Waktu itu aku masih belum bisa nerima, jadi reaksiku malah kayak gitu ke kamu. Maaf Lin, ini semua salahku. Aku nggak berharap banyak dari pertemuan ini, Lin. Aku cuma mau bilang kalau aku bakalan berhenti melakukannya. Aku..."


"Ini semua bukan salahmu aja kok," Lina memotong ucapan Dewi. "Sudahlah, aku juga sudah tahu semua ceritanya dari Rita juga Ayi Jaya semalam. Ini semua murni kesalahpahaman belaka."


Dewi terdiam.


"Aku tahu kamu melakukan itu semua demi keluargamu. Justru aku salut sama kamu karena begitu peduli sama apa yang menimpa keluargamu. Aku belum sepeduli kamu, Wi. Aku tahu kamu banyak mengalami hal yang berat dan nggak mudah. Cuma mungkin caramu aja itu kurang bijaksana." Lina meletakkan majalah yang ada di pangkuannya ke meja.


"Udahlah, aku juga nggak mau cari musuh. Apa pun yang terjadi sama keluarga kita di masa lampau, itu semua udah selesai. Lupakan saja masalah orangtua kita, anggap itu semua nggak pernah terjadi, dan anggap saja kita berdua sama-sama nggak pernah tahu. Soal saingan usaha itu, kalau selama ini kamu menganggap keluarga kita bersaing... toh sekarang kita bisa ke Hong Kong, ikut tour dari Jaya Raya sama-sama. Cuma peternak bonafid yang di berikan fasilitas ini sama Jaya Raya. Itu berarti, kita. Sekarang yang kita butuhkan itu ketulusan. Rasanya bakal lebih menyenangkan kalau kita berteman aja. Lets be friend, Wi. Forget the past."


"Its my honour to be your friend, Lin." Dewi dan Lina saling tersenyum. Hati mereka hari ini terasa lebih ringan.