A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tujuhbelas



"Ling, duduk di sampingku lagi dong" Chen Zhang meraih tangan Lina dan menariknya untuk duduk di meja bundar yang masih kosong.


***


Lina tersentak ada debaran aneh yang dia rasakan saat Chen Zhang menggenggam tangannya. Debaran aneh yang membuat perutnya serasa ada kupu-kupu terbang dan jantungnya berdentum tak beraturan.


Aduh, Chen Zhang!


"Gimana? Cocok kan duduk di sini Ling?" Chen Zhang duduk di samping Lina. Mereka berdua duduk di dekat akuarium. "Kamu suka?"


"I..ya. Oke kok" Lina mengangguk gugup. Lagi-lagi di depan Chen Zhang, Lina merasakan wajahnya memanas sampai telinga.


Ayi Jaya menunjuk deretan kursi di meja Lina yang masih kosong. Tubuh renta yang masih lincah itu mendekati meja Lina dan Chen Zhang. "Kursi ini masih kosong?"


"Kosong, duduk sini Ayi!" Lina mengajak dengan semangat.


"Pak Kamto, sini" Chen Zhang melambaikan tangan mengajak Pak Kamto ikut duduk di meja mereka. Pak Kamto yang semula celingukan memilih meja, balas melambai dengan semringah dan mendekat.


"Dari mana saja kamu?" tanya Pak Kamto. Jaket kulitnya tersampir di kursi.


"Duduk di palem depan. Habis, yang lain sibuk sendiri"


"Kamu kali yang sibuk sendiri berdua sama Lina" Pak Kamto menyenggol bahu Chen Zhang sambil tersenyum jail.


Dalam waktu singkat meja bundar yang semula hanya ditempati Lina dan Chen Zhang sekarang nyaris terisi penuh. Hanya ada dua kursi kosong yang tersisa, tepat di depan Lina dan Chen Zhang.


"Kursi ini ada yang nempatin?"


Lina mendongak. Berdiri di depannya Dewi dan Rita yang tersenyum manis pada semua orang di meja itu. Perasaan Lina langsung tidak enak. Dia merasa, senyum itu hanya formalitas, tidak tulus.


Ngapain sih mereka... gerutu Lina.


Lina menoleh ke meja di sampingnya. Di sana ada mbak Gita dan Tante Heni, yang biasanya menjadi geng Dewi dan Rita ketika belanja, masih ada dua kursi yang kosong.


Kenapa harus di meja ini? Bukannya Dewi dan Rita sadar ada dirinya disini?.


"Boleh duduk di sini kan?" tanya Dewi sekali lagi.


"Boleh, boleh!" Dengan penuh keramahan, Pak Kamto mempersilahkan dua gadis itu duduk di kursi tersisa di depan Lina. Hal itu membuat Lina tiba-tiba malas makan.


"Terima kasih"


Sesaat sebelum duduk, tatapan mereka bertemu. Dewi menatap Lina dengan dagu terangkat, dan senyumnya berubah menjadi culas ke arah Lina.


"Tante Jaya, gimana jalan-jalannya? Seru kan?" Dewi membuka topik pembicaraan. Nada bicaranya penuh dengan keramahan palsu, Lina bisa merasakan itu.


"Seru lah. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama temen-temen gini, ya nggak Wi?"


"Betul, Tante" Dewi tertawa dengan keceriaan yang juga di buat-buat. "Tante mau sup? Sini Dewi ambilkan, kata orang China kita harus memulai acara makan dengan sup supaya metabolisme kita bagus. Betul begitu, kan?"


Tak berapa lama pelayan restoran bergantian membawakan hidangan utama makan malam mereka.


"Oh ya, cucu Tante Jaya sekarang kuliah di mana? Seumuran sama Dewi kan ya?" tanya Dewi sambil menyuap sepotong tofu goreng.


"Ya, ini taun kedua Selly cucu saya masuk fakultas kedokteran, waktu SMA dia akselerasi"


"Wah hebat ya, Tante Jaya punya cucu dokter" puji Dewi. entah itu tulus, atau tidak.


"Syukurlah, Selly memang selalu tekun dan pandai di sekolahnya. Kalau kamu kuliah di mana Wi?" Ayi Jaya balik bertanya.


"Oh saya? Tahun ini masuk fakultas kedokteran hewan di UGM" Dewi lalu menatap ke arah Lina. "SNMPTN"


Alis Lina berkerut. Apa maksud Dewi? Memandangnya dengan tatapan menantang saat menyebutkan jurusannya dan menekankan jalur masuknya.


Dewi melanjutkan kalimatnya. "Supaya bisa nanganin kasus di kandang Papa sendiri kalau ada ayam yang sakit atau outbreak. Jadi nggak perlu tergantung sama orang lain. Ya bisa diandelin,"


"Jadi kamu kedokteran hewan, Wi?" tanya Chen Zhang.


"Kayaknya kalian berdua bisa jadi partner yang baik deh, ya nggak Ling?"


Lina langsung tersedak teh hijau yang tengah diteguknya. "Apa?"


"Dewi itu kan anak kedokteran hewan, kamu anak peternakan. Jadi klop aja dunia kalian. Ya nggak?" terang Chen Zhang dengan antusias.


"Oh, Lina kuliah di peternakan?" Pak Kamto membulatkan mata.


"Wah, kemarin Pak Hartono nggak sempet cerita-cerita. Pas banget ya, Pak Hartono punya putri tunggal yang bisa di andalkan untuk regenerasi! Jadi di mana? Bogor apa Jogja?"


"Bogor" jawab Chen Zhang, merasa jadi juru bicara.


"Kalau nggak salah IPB itu fakultas peternakan terbaik di Indonesia ya Ling?"


"So for sih katanya begitu"


"Jadi kamu IPB, Ling?" giliran Ayi Jaya bertanya dengan penuh minat. "Belum tes masuk ya ini? Berarti kamu PMDK dong? Wah, pintar kamu Ling! Penerus usaha Hartono!"


Lina membisu. Dia benar-benar tidak suka situasi ini.


"Saya juga PMDK, Tante. Sekarang namanya SNMPTN" terang Dewi juga tidak mau kalah.


"Dan kedokteran hewan UGM itu juga menjadi salah satu fakultas kedokteran hewan terbaik yang di akui di Indonesia. Ikatan alumninya juga kuat"


"Kalian berdua sama-sama pintar" puji Pak Kamto.


"Kalian harus klop jadi partner kerja. Sama-sama bisa membantu kelanjutan usaha orangtua. Apalagi kandang kalian berdekatan. Kalau bukan kalian, siapa lagi?"


"Kandanh mereka berdekatan?" Chen Zhang tampak lebih tertarik. "Oh iya, aku baru ingat Dewi anaknya Pak Yusmadi. Dari Surabaya juga. Wow, lima sampai sepuluh tahun lagi peternakan di Surabaya bisa ekspansi besar-besaran nih. Kalau kalian bisa jadi partner"


Lina dan Dewi berpandangan. Sama-sama tidak suka dengan keadaan yang membuat mereka seolah-olah harus berteman baik demi kemajuan peternakan Surabaya.


Partner? Lina? Mati aja! gerutu Dewi dalam hati. Bola matanya langsung berputar malas.


Lina menangkap gelagat Dewi yang menatap ke arahnya itu. Partner? Dewi? Oh My God! Bareng nenek lampir.