
Kalimat terakhir A Yung membuat seluruh penumpang bus mungil merah itu tertawa geli. A Yung melafalkan logat bahasa Jawa dengan fasih, bahkan logat Jawa-nya terdengar khas Surabaya. Memang agak-agak janggal mendengar percakapan bahasa Jawa di Macau apalagi dari penduduk Macau sendiri.
"Nah! Selamat datang di Macau. Las Vegasnya China, Macau merupakan salah satu Daerah Administratif khusus di Republik Rakyat China seperti halnya Hong Kong." A Yung kembali bercerita setelah penumpang bus mulai tenang.
"Sejarahnya dulu, Macau di atur oleh Portugis. Mereka datang pertama kali tahun 1500-an sampai tahun 1999. Kota yang di juluki The Vegas of The East ini memiliki percampuran budaya Timur dan Barat yang unik, antara China dan Portugis. Semua jalan dan istilah-istilah masih menggunakan bahasa Portugis. Begitu juga dengan desain jalan, bangunan, dan taman-taman kotanya masih sangat dipengaruhi Portugis. Semua nuansa Eropa itu bercampur dengan kuil dan kelenteng serta bahasa Kanton yang digunakan disini. Perpaduan budaya yang unik ini membuat UNESCO menobatkan Macau sebagai World Heritage Site"
A Yung lalu melanjutkan kalimatnya "Janji ya, besok harus siap di lobi hotel pagi-pagi! Ada beberapa tempat yang besok harus kita kunjungi. Nah, hari ini silahkan Bapak-Ibu menikmati makanan Macau yang terkenal kelezatannya! Kenapa terkenal lezat? karena Portugis berkuasa di sini selama berabad-abad maka masakan disini juga rasanya percampuran antara Barat yang sedap dan Timur yang kayak rempah."
Lima belas menit kemudian, rombongan tiba disebuah restoran. Pilar-pilar putih dan besar khas Eropa menyambut kedatangan itu, di restoran Vasco Da Gama. Namun suasana Kanton yang kental langsung menyergap begitu ketika mereka melangkahkan kaki kedalam restoran berlantai kayu itu.
Pelayan-pelayan menggunakan cheong sam, meja makan dengan sumpit dan mangkuk-mangkuk kecil, juga hiasan dinding bergambar panda dan bambu memperkuat karakter China restoran ini.
A Yung tidak mengada-ngada soal krlezatan makanan di Macau. Entah karena sudah kelaparan atau memang enak, tapi makanan direstoran ini memang benar-benar lezat!
"Ling, coba ayam ini. Enak!" Chen Zhang meletakkan satu potong ayam dipiring Lina. Cowok itu duduk disamping Lina. Jaket birunya sudah dilepas dan membuat aroma parfumnya yang segar itu tercium, Lina benar-benar menyukai wanginya.
"Apa ini?" Lina bertanya ragu. "Kayanya rasanya aneh deh."
"Coba dululah." Chen Zhang mengangkat alis sambil nyengir jail.
Chen Zhang menyumpit lagi satu potong ayam coklat kekuningan dan meletakkannya dipiring kecil Lina. Chen Zhang tampaknya sudah ahli menggunakan sumpit, tidak seperti Lina yang masih canggung menggunakan piring kecil, mangkuk kecil, dan sumpit.
Sehari-hari dia jarang memakai peralatan makan yang serbakecil seperti itu. Dia lebih akarab dengan garpu, sendok, dan piring lebar. Ujung-ujungnya A Yung pun memberikan sendok dan garpu agar Lina tidak kesulitan makan.
"Itu namanya Galinha a Portuguesa" A Yung yang duduk disisi kiri Lina menjelaskan. "Itu enak. Salah satu contoh masakan perpaduan antara Portugis dan Macau. Bumbu-bumbunya khas Asia, seperti kunyit dan rempah-rempah lainnya, jadi rasanya seperti kari. Tapi cara memasaknya ala Eropa, dipanggang lalu dihidangkan dengan kentang panggang"
"Oh ya?" penjelasan A Yung membuat Lina tertarik. "Eh, Dewi dan Rita, mau coba Galinha a portuguesa?" Lina menawarkan.
Dewi cuma mengangkat tangan kiri tanpa bersuara apalagi menatap ke arah Lina. Lina lebih merasa disuruh ngomong sama tangan daripada ditolak begitu.
***
Mereka cuma ingin segera masuk kamar kemudian pindah ke alam mimpi. Lagi pula hari sudah gelap, apa yang di ucapkan A Yung tidak bisa mereka lihat di balik kaca bus.
"Rombongan Samko Tour!" kalimat khas Fenita terdengar di lobi Hotel Royal, tanda rombongan harus berkumpul.
"Ini saya bagikan kunci kamar hotel. Mohon jangan sampai hilang ya, karena dendanya mahal. Sampai 50 dollar Hong Kong."
Lina baru berpikir. Malam ini dia tidur dengan siapa, ya? "Lina Budiawan!" panggil Fenita mengecek presensi. "Kamu sama Dewita ya. Sedangkan Rita sama Ayi Marcella"
Lina maju untuk menerima sepasang kunci berbentuk seperti kartu ATM. Beberapa meter dibelakangnya, Dewita tampak sama sekali tidak gembira.
"Sial, kenapa aku harus sama anak itu sih Rit!" desis Dewi pelan, namun tajam. Dia memutar bola matanya. Wajahnya memperlihatkan ketidakpuasan terhadap hasil pembagian kamar yang diatur oleh Fenita. Kedua tangannya terlipat di depan da, Defensif.
Rita menepuk bahu Dewi. "Tenang aja, kayaknya dia lupa kok kamu siapa"
"Dewi, lantai sebelas yuk!" ajak Lina ceria. Gadis itu tampaknya tidak mendengar percakapan antara Dewi dan Rita barusan.
Dewi diam dan menyeret koper yang besar malas-malasan.
***
Meskipun Hotel tempat mereka menginap hari ini diapit gedung-gedung tinggi dan terletak di perkotaan, tapi taman kecil itu tampak asri dan hijau. Beberapa pasang lansia terlihat melakukan senam *** Chi pagi itu.
Sayangnya Lina cuma mendengar itu dari Pak Yudis dan istrinya Bu Heni, saat mereka sarapan dihotel. Lina sendiri bangun telat, tepat saat wake up call hotel berdering. Tanda dirinya harus tiba dilobi dan sarapan dalam waktu 5 menit. Jadi dia tak sempat melakukan apapun selain mandi dan beberes. Saat dia bangun, teman sekamarnya sudah nggak ada.
Entah hanya perasaan Lina atau memang begitu, sepintas Lina bisa melihat ekspresi tidak suka Dewi saat Fenita mengumumkan mereka berdua sekamar. Lina tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Dewi dan Rita, karena mereka semua sibuk dengan koper masing-masing. Tapi ekspresi itu cukup mengganggunya sampai detik ini.
Lina masih berharap, mudah-mudahan dia salah mendunga.
Tapi sesampainya dikamar semalam, Dewi masih memasang wajah dongkol. Terlihat tidak suka, cewek itu memasang adaptor dan mengisi baterai gadget-gadget nya. Tanpa berkompromi terlebih dahulu padanya, padahal colokan dikamar itu cuma satu dan Lina juga ingin mengisi baterai ponsel dan kameranya.