A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empatpuluh



Lina memandang Chen Zhang, memperhatikan wajah tampan yang memandangi langit itu. Menikmati pendar bintang yang memayungi mereka. "Terima kasih, Chen. Berkat kamu, aku mengalami hari yang paling bersejarah dalam hidupku."


***


"Bukan karena aku, semua ini sudah ada yang mengatur Ling, Never mind. Tapi akhirnya aku tahu kenapa kamu selalu menghindari topik soal peternakan." Chen Zhang menatap Lina, kedua tangannya ada dalam saku jaket. Udara Hong Kong mulai terasa dingin. "Kamu cuma takut merasa tertolak, kan?"


Lina terdiam sejenak. "Mmm, bukan begitu juga sih sebenernya... kayaknya itu lebih karena aku merasa bersalah karena selama ini nggak bisa jadi anak yang baik untuk orangtuaku. Mereka selalu berusaha membuatku tertarik dengan peternakan tetapi aku selalu menolak. Aku merasa nggak mungkin aja menyatukan antara peternakan dan novel. Aku merasa terjebak karena nggak bisa memilih apa yang aku mau. Bagaimana caranya menyatukan ilmu eksak dengan khayalan? Aku memang anak tunggal yang manja dan egois. Seharusnya aku bisa bersikap lebih bijaksana."


"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, Ling. Karena itu..."


"Follow your dream, they will find their way," Lina menyambung kalimat Chen Zhang sambil tersenyum. "Bakal aku inget baik-baik kalimat itu, Chen. Di atas dek kapal Jumbo Floating Restaurant."


"Oh, yang akhirnya di semprot itu, ya?"


Lina memutar bola mata, wajahnya memerah. "Nggak udah mulai deh."


Chen Zhang tertawa geli. "Kamu bukan bukan anak tunggal yang egois dan manja seperti yang kamu kira kok. Nggak lagi, maksudku."


"Aku utang banyak sama kami selama di sini, Chen. Kamu udah sangat baik sama aku. Mau berbagi kamera, mau nganterin aku keliling-keliling nyari Shanghai Star. Oh ya, aku masih utang ke kamu duit beli kaca lipat! Maaf ya, aku banyak nyusahin kamu hehe. Minta nomor rekening kamu dong, uang ren min bi aku habis, nanti aku transfer pakai rupiah aja."


"Nggak usah, nggak apa-apa kok." Chen Zhang mengibaskan tangan.


"Yeee, jangan gitu dong! Aku nggak enak. Aku bayar deh yah, adanya dolar, mau ya?"


"Dibilangin, nggak usah Ling," Chen Zhang tetap berkukuh.


"Nggak usah! Nggak apa-apa! Udah itu buat kamu aja sama temen-temen, dari aku."


"Chen, harus bayar pakai apa nih supaya semua ketebus? Aku banyak banget nih, ngerepotin kamunya." Lina tidak enak hati.


Chen Zhang terkekeh. "Bayar pakai sisa hidup kamu aja ke aku."


Lina tertegun sejenak. "Mmm..."


"Mau nggak, nih?"


Mata Lina berkedip-kedip. "Mmm, gimana kalau aku... pikir-pikir dulu?"


Mereka lalu tertawa bersama dan kembali berjalan kaki dengan menikmati pemandangan malam Hong Kong yang masih terang. Ini malam terakhir mereka di Hong Kong. Bagi Lina, ini liburan ke luar negerinya yang pertama dan sangat berkesan. Lina yakin dia akan kembali ke sini suatu saat nanti. Untuk bertemu nenek buyutnya kembali. Malam ini menurutnya malam penutup yang paling sempurna.


"Menghadapi masalah yang cukup membuat bimbang begini, memang butuh waktu untuk berpikir dengan tenang. Mungkin untuk inilah Pak Hartono membatalkan kepergiannya ke Hong Kong bareng sama kamu..." kata Chen Zhang tiba-tiba saat mereka sampai di Argyle Street.


Lina menyerngit. "Papaku memang membatalkan ikut tour ini karena darah tinggi jadi aku yang gantiin, Chen. Yang pergi memang salah satu diantara kami."


Chen Zhang menggeleng. "Memang kamu pikir kursi kosong di pesawat yang ada di samping kamu itu atas nama siapa? Ya itu atas nama Hartono Budiawan, papamu."


"Itu kursi papa?" mata Lina kontan terbelalak. "Tapii... kenapa? Dari mana kamu tahu, Chen?"


"JAMBREEETTTT!!!"