
"Emang. Eh, kayaknya Mbak Fenita udah manggil-manggil deh. Yuk, cabut!" Lina segera merapikan mejanya dan memasukkan barang-barangnya. Padahal dia yakin, Fenita belum memberi aba-aba apa pun.
***
Lina terkejut. Di sampingnya lensa kamera Chen Zhang terarah padanya.
"Bilang-bilang dong kalau mau ambil foto" protes Lina, Chen Zhang tertawa renyah.
"Yang natural lebih bagus. Cewek cantik sih mau gaya apa aja juga tetep cantik haha"
"Emang!"
"Eh kamu nyicipin apa? Enak?"
"Never taste anything better than this, Chen" puji Lina dengan bahasa Inggris, supaya Victor mendengarnya dan tambah senang.
"Eh, foto aku lagi dong. Aku lagi gaya pilih-pilih barang gitu, kan kece! Yang candid"
"Nggak ah."
"Katanya kamu mau foto aku!"
"Ya tapi nggak pakai gaya sok, kalau gitu aku nggak mau foto kamu"
Lina memukul bahu Chen Zhang gemas. Chen Zhang meringis kesakitan tapi langsung kabur, tak lupa dibidiknya ekspresi kesal Lina.
"Heh, malah di foto lagi!"
***
"Kayaknya mereka berdua akrab ya Pak Kamto!?" tanya Ayi Marcella, yang sedang mengamati dua remaja itu.
"Ya syukurlah Bu, tour ini diadakan supaya pergaulan kita meluas" jawab Pak Kamto sambil memperhatikan Lina yang sekarang memilih-milih kacang telor itu.
"Dengan berkumpul bersama orang-orang baru dan belajar mengenal satu sama lain, kita bisa menambah jaringan kerja sekaligus teman. Betul gitu Bu?"
"Tapi Lina serasi loh dengan Chen Zhang" seloroh Tante Heni.
***
"Ling, senyum ke sini."
Lina yang sedang memperhatikan miniaur Menara Eiffel memasanh senyumnya yang paling manis, mengizinkan Chen Zhang untuk mengambil fotonya.
"Chen sini giliran aku yang foto. Dari tadi kamu terus" Lina beranjak ke dekat Chen Zhang yang sedang mengecek hasil foto.
Chen Zhang menoleh sekilas kemudian menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak suka difoto, lagian aku lebih suka mengambil foto dari pada difoto"
Chen Zhang menunjuk lensa kameranya. "Dari lensa ini, kamu bisa melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat orang lain. Hal-hal sederhana yang mungkin terlewat"
"Maksudnya gimana sih?"
"Banyak hal baru yang akan kita lewatkan kalau kita cuma stay di satu poin, cuma stay dengan pandangan seperti orang-orang kebanyakan. Kadang orang-orang terlalu mudah menyerah untuk mencari makna yang tersembunyi di balik suatu hal. Kamera mengajarkanku itu semua. Singkat kata, aku mencoba tidak terpaku pada sesuatu yang terlalu mainstream."
"Kalau gitu, sini aku tangkap kamu dari sudut yang lain supaya jadinya lebih bagus"
"Nggak Ling, bukan seperti itu. Aku lebih suka menjadi subjek dari pada objek. Aku ingin jadi seseorang di balik sesuatu yang akhirnya dianggap indah, ada kepuasan tersendiri. Aku lebih suka menemukan dari pada ditemukan. Paham nggak? Semacam, mending di balik layar gitulah. Satu lagi, aku nggak suka di ekspos." Chen Zhang tersenyum jail dan mendapati wajah Lina yang terlihat berusaha mencerna perkataannya.
Chen Zhang mengarahkan lensa kameranya kearah Lina. "Wajah kamu kalau lagi serius mikir lucu juga Ling"
"Nggak suka diekspos? Kayak udah berasa artis aja." cibir Lina.
Chen Zhang terkekeh. "Kamu nggak sadar wajahku ganteng kayak Daniel Mananta?"
"Aku juga mikir kayak gitu sih waktu pertama ketemu" jawab Lina jujur.
Tawa Chen Zhang meledak. "Kamu orang kesejuta satu yang bilang gitu."
"Eh Chen.. berarti kami dari tadi foto aku karna aku biasa aja dan kamu ingin menampilkan aku jadi lebih indah? Jadi intinya aku biasa aja dan nggak ada spesial-spesialnya? Aku kayak kerikil gitu?" protes Lina.
Baru menyadari sesuatu yang mengganjal benaknya saat mendengar penjelasan Chen Zhang. "Kamu mau ngomong kayak gitu kan, tapi dengan bahasa yang lebih halus?"
"Nggak gitu, nggak semua foto aku ambil karena ingin menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik hal yang biasa aja, atau ingin memperindah tampilan."
"Kamu udah lama suka fotografi?"
"Sejak lima tahun lalu"
"Lumayan lama ya. Kenapa suka fotografi?"
Chen Zhang berpikir. "Kenapa ya? Waktu itu nggak sengaja liat pameran foto di Grand City dan tiba-tiba aja rasanya aku merasa perlu tahu bidang ini. Awalnya cuma karena pingin punya hobi baru yang bermanfaat. Nggak semua foto yang aku ambil karena ingin memperindah sesuatu yang biasa aja kok Ling, aku juga ingin mengabadikan sesuatu yang istimewa." kata Chen Zhang sambil tersenyum lembut.
"Seperti kamu. Kamu cantik, di lihat dari sudut mana pun. Aku cuma nggak mau orang lain menemukan itu lebih dulu sebelum aku."
Lina merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Wajahnya memerah, hanya saja dirinya berusaha untuk mencibir senormal mungkin.
Chen Zhang tersenyum. "Nanti aku copy foto-foto kamu di sini. Semuanya bagus-bagus kok"
Lina tersenyum. Pelan tapi pasti hatinya menghangat, berada disamping Chen Zhang membuatnya nyaman. Shenzhen memang indah, tapi mungkin tak akan seindah ini bila tidak ada Chen Zhang.
Rasa-rasanya... dirinya mulai simpati dengan Chen Zhang