
"Itu kursi papa?" mata Lina kontan terbelalak. "Tapii.. kenapa? Dari mana kamu tahu, Chen?"
"JAMBREEETTTT!!!"
***
Pekikan sesorang mengagetkan Chen Zhang dan Lina. Suara itu terdengar melengking tinggi tak jauh dari tempat mereka berdiri, dan yang lebih penting lagi pekikan itu berbahasa Indonesia!
Mereka berdua langsung mencari sumber suara. Beberapa meter dari mereka dan sekerumunan orang mengelilingi dua gadis yang tampak syok.
"Dewi?! Rita!?" Chen Zhang makin terkejut ketika mendapati dua orang gadis itu dia kenal. Chen Zhang dan Lina berhasil menyibak orang-orang yang mengerumuni teman satu tour mereka itu.
Dewi menangis dan Rita yang tampak syok berusaha menenangkan Dewi, meski usahanya ternyata gagal total. Temannya itu tetap menangis. Di sekeliling mereka banyak orang yang berusaha ingin tahu apa yang baru saja menimpa dua turis modis itu.
"They're all my friends," ujar Lina.
Ketika orang-orang yang berkerumunan itu akhirnya bubar, Lina membantu Dewi dan Rita untuk berdiri. "Kenapa sampai begini?"
Rita lalu menerangkan, wajahnya masih tampak pucat dan ketakutan. "Ada jambret yang tiba-tiba menyambar tas kami, jambret itu dari dalam mobil dan kami nggak bisa ngejar. Kami berdua bener-bener takut, Lin. Jambret itu nodong pistol."
"Ya ampun, Rit." Lina tampak terkejut. Fenita tidak memperingatkan mereka sebelumnya soal kriminalitas Hong Kong di malam hari. Tangan kanannya menyentuh bahu Rita penuh empati. "Tapi syukurlah kalian nggak luka. Terus dokumen-dokumen kalian gimana? Paspor? KTP? ATM? Kalian masih ada uang cash?"
"Kami sengaja naruh paspor dan uang cadangan di saku jaket, bukan di tas. Kartu ATM juga kami sisipin di paspor holder. Kami dengar ada kemungkinan pencurian atas perampokan dalam tour."
"Syukurlah." Lina langsung lega. Bakal repot urusannya kalau mereka berdua kehilangan paspor di malam terakhir tour begini. "Tapi kamu serius nggak apa-apa, Rit? Wi?"
Lina ganti menyentuh bahu Dewi yang masih tampak syok. Air mata gadis yang biasa judes itu mengalir pelan. Dewi terkesiap, kaget dengan sentuhan mendadak di bahunya."
"Kami baik-baik aja!" Dewi mengentakkan tangan Lina sampai terlepas, gadis itu buru-buru menyeka air mata yang membuat eyeliner hitamnya luntur ke pipi. Membuatnya semakin tampak memprihatinkan. "Terima kasih udah bantu. Aku mau pulang!"
Dewi segera pergi dari tempat itu dengan cepat. Langkahnya lebar-lebar.
Lina memandangi kepergian gadis itu. Dewi masih saja culas dan tidak ramah. Mungkin saja memang permasalahan Dewi dengan dirinya sudah masuk level akut.
"Maafkan sikap Dewi ya, Lin."
Tak seperti biasa, Rita yang menjadi ajudan ke mana pun Dewi pergi kini seakan berbalik arah. Rita masih berdiri di ujung perempatan, bersama Lina dan Chen Zhang, di tempat kejadian perkara. Beberapa orang yang lewat masih berbisik-bisik membicarakan kejadian penjambretan yang baru terjadi.
Lina mengerutkan dahi. Ini bukan berita baru buatnya. "Kesalah pahaman apa? Kalau masalah dia belum berani ngomong langsung sama aku, aku udah tahu dari kemarin."
Rita menggigit bibir, mempertimbangkan kalimatnya, kemudian mulai bercerita.
"Sebagai temannya, aku cuma ingin masalah ini segera selesai. Aku memang nggak terlibat langsung sama masalah kalian, tapi aku sudah lama mengenal Dewi, sejak SD. Aku tahu benar perasaannya sampai dia menjadi seperti ini ke kamu, Lin. Apa yang dia alami memang nggak gampang, tapi dia selama ini di butakan oleh sesuatu yang salah." Rita berhenti sebentar, melihat reaksi Lina, kemudian melanjutkan, kemudian melanjutkan. "Tante Viona dan teman-temannya ternyata sudah sadar soal masalah ini sejak awal, beberapa kali mereka berusaha mengalihkan pembicaraan kalau Dewi mulai nyindir yang nggak-nggak. Tapi nggak mempan. Sampai akhirnya waktu kamu keluar dari meja makan kemarin, Tante Viona mengatakan sesuatu kepada kami..."
***
Dewi menutup resleting jaketnya rapat-rapat. Langkahnya tergesa-gesa. Sepatu Doc Marten yang baru di belinya tadi pagi terlihat serasi dengan jaketnya yang berwarna biru muda.
Lina. Nama itu terus berkecamuk dalam kepalanya. Kemunculan gadis itu lebih mengejutkan daripada insiden penjambretan itu sendiri. Dia tak menyangka akan ditolong gadis itu malam ini!
Dewi memejamkan mata dan menggigit bibir. Dia tak bisa melihat wajah itu saat seperti ini. Tidak, tidak sekarang. Lebih baik gadis itu tidak muncul tadi.
Entah bagaimana dia harus menebus prasangka kepada Lina. Sejak dulu Dewi terlalu di butakan dendam tampa benar-benar memahami cerita yang sebenarnya. Dia terlalu sibuk berpikir sendiri. Hatinya ditutup oleh dugaannya yang keliru sehingga tidak bisa berpikir jernih. Sungguh sangat memalukan.
Dari penjelasan Tante Viona, kini Dewi tahu alasan ayahnya tak ingin mendengar nama Hartono Budiawan. Bukan karena dendam seperti yang selama ini gadis itu kira, justru karena ayahnya merasa teramat bersalah pada keluarga Hartono. Apa yang telah mereka lakukan untuk keluarganya teramat besar.
Selama ini pikiran Dewi keliru.
Ayahnya Lina memaksa ayah Dewi untuk segera melunasi utangnya, karena kini keluarganya terancam tidak memiliki tempat tinggal lagi. Rasanya sangat tidak adil satu-satunya atap tempat bernaung keluarganya harus disita bank karena sesuatu yang bukan dari kesalahannya sendiri.
"Akhirnya ayahmu sadar dan dengan usaha keras semuanya selesai. Aku dengar ayahmu sempat sakit liver juga karena terlalu capek. Tapi aku tahu ayahmu nggak lagi berkunjung ke tempat Hartono, meskipun dia sudah melupakan masalah itu," cerita Tante Marcella pada malam itu. "Kamu perlu tahu cerita ini, Wi. Ibu Lina lah yang menyuruh kami untuk membeli baju-baju dagangan ibumu, padahal waktu itu kami juga sudah punya banyak daster."
"Kamu bisa tanya ayahmu sendiri kalau nggak percaya sama cerita kami. Suruh ayahmu menemui kami kalau ada bagian dari cerita ini yang nggak dia setujui. Kami tahu betul." Ayi Jaya ikut menimpali.
Semua tidak akan seperti ini bila dia tahu apa gunanya klarifikasi.
Clek!
Pintu kamarnya terbuka. Rita dengan jaket hijaunya datang.
"Aku sudah ngomong sama Lina." kata Rita sambil membuka jaketnya. "Besok lebih baik kamu ngomong langsung sama dia. Lina ingin ketemu kamu, jam enam. Di lobi sebelum kita akan kembali ke Indonesia."