A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Sembilanbelas



"Atur shutter speed mu."


Dewi terlonjak dengan suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. "Candra? Sejak kapan kamu disini?"


***


"Barusan." kata Chen Zhang, cowok itu memandang tripod. Dia telah memperhatikan aktivitas Dewi yang melompat-lompat disekitar boks telepon umum selama beberapa saat. "Kamu mau bikin foto levitasi?"


"Maunya," jawan Dewi. "Sudah ketemu tuh sama Lina?"


"Ya, tadi dia di lobi sendirian."


"Ngelamun?" Dewi tertawa sambil mendengus. Dia memang sudah beberapa kali memperhatikan hobi aneh Lina itu. Sangat menyedihkan di sela-sela tour yang menyenangkan begini cewek itu malah sempat-sempatnya melamun dengan mencatat sesuatu.


"Kamu ada masalah apa dengan Lina?" pertanyaan Chen Zhang langsung membuat Dewi mematung.


"Maksud kamu?"


"Aku tahu kamu nggak mau sekamar sama Lina dari kemarin. Ada yang salah?"


"Dari mana kamu tahu kami ada masalah?"


"Dari caramu." jawab Chen Zhang lugas. "Ceritain ke aku, kalian ada masalah apa."


"Bukan urusanmu." Dewi ketus sambil mengambil tripodnya, hendak pergi dari situ. Tapi tangan Chen Zhang langsung menahannya.


"Tapi tour inu urusanku, tanggung jawabku. Kamu tahu itu, kan?" kata-kata Chen Zhang terdengar dalam penuh peringatan.


"Jangan bersikap egois pada peserta tour lainnya. Simpan masalah kalian dan selesaikan secara pribadi. Jangan rusak momen yang cuma setahun sekali ini dan jangan libatkan peserta tour lain. Jangan mempengaruhi suasana tour. Benar katamu, ini memang bukan urusanku maupun peserta tour lainnya. Maka dari itu, jangan libatkan kami."


Kata-kata Chen Zhang membuat Dewi mematung. Semua yang dikatakan cowok itu memang benar. Tapi ada satu yang Chen Zhang tidak tahu.


Dewi menatap Chen Zhang lekat-lekat. "Cewek yang lagi dekat dengan kamu itu yang bikin usaha keluargaku nyaris bangkrut dan ayahku nyaris dipenjara."


"Penjara?" alis Chen Zhang menyatu kaget.


"Dengar baik-baik." Dewi menghadapkan tubuh ke Chen Zhang. "Ayah Lina yang mengakali ayahku sampai nyaris bangkrut! Kami berteman, tapi itu dulu. Sampai ayah Lina mencelakai ayahku. Kalau bukan karena ayam petelur dari kandang ayah Lina yang nggak beres, usaha ayam ayahku nggak akan bangkrut, ayam kami nggak akan mati massal karena outbreak penyakit. Dan ayahku nggak perlu utang sana-sini, Can!"


"pullet nggak beres?" Chen Zhang mengerutkan dahi. Mengulangi kalimat Dewi yang masih membuatnya bingung.


"Kami beli pullet di kandang ayah Lina. Tiga hari setelah pulletnya datang ke kandang kami, ayam-ayam kami yang lain mati beruntun. Menurut hasil patologi, ayam-ayam kami kena virus jadi kematiannya massal. Sebelum pullet-pullet Pak Hartono datang, ayam kami baik-baik saja." Dewi menatap Chen Zhang dalam. "Lalu Pak Hartono itu membujuk ayahku untuk ikut bisnis kemitraan ayam petelur dengannya, janjinya hasilnya lebih bagus daripada cuma jualan telur, kami cuma perlu sedia tempat dan suplly. Tabungan kami dipertaruhkan dibisnis ini Can. Suatu ketika bisnis ayah berhasil berkembang pekat. Produksi kami hampir menyamai Pak Hartono. Tapi mendadak setelah itu ada kejadian ini berkorelasi!"


"Kamu menuduh." tanya Chen Zhang.


"Terserah kalau kamu nggak percaya, tapi ini faktanya!" Dewi memekik. "Kamu pikir virus ND dari mana? lulusan kedokteran ayah Lina tahu penyebab kasus dikandangku kan? Harusnya dia tahu ayam-ayam yang diberikan ke ayahku itu kena virus! Kenapa sengaja ngasih kami ayam yang penyakitan!?"


Dewi mengatur napas kemudian kembali mepanjutkan ceritanya. "Setelah Pak Hartono menawarkan utang kepada ayahku, dengan alasan untuk membantu menyelamatkan bisnis teman lamanya. Populasi ayam kami berkurang drastis karena harus akfir dini. Dan ternyata utang itu tak kunjung habis karena bunganya tinggi! Bunga dari Pak Hartono sendiri! Karena nggak bisa membayar, Pak Hartono tega mengancam ayahku masuk penjara. Ayahku bukan maling! Ayahku cuma orang yang sedang nggak beruntung dengan usahanya dan harusnya Pak Hartono yang mengaku sahabat ayahku itu menolongnya! Ini jelas curang!"


Setelah mengatur napasnya, Dewi melanjutkan lagi. Menceritakan hal sepribadi ini memang menyesakkan, apalagi kepada Candra yang tidak terlalu dekat. "Itu hanya trik yang dipakai Pak Hartono agar usaha ayahku tidak berkembang. Pertama, menghabisi populasi ayam-ayam Ayah. Kedua, menjeratkan dengan utang. Ketiga, menekan. Hasilnya, usaha kami nggak bisa berkembang lagi. Tapi akhirnya, masalah itu beres juga. Cuma aku nggak akan lupa sakitnya melihat Ayah dan Ibuku dimaki-maki."


"Jadi, karena itu kamu membenci Lina?" tanya Chen Zhang pelan.


"Sikapmu nggak menyelesaikan masalah Wi. Kamu harusnya bicara baik-baik sama Lina. Nggak seharusnya kamu ngejudge Lina seperti ini, kalian belum saling klarifikasi. Lina nggak seharusnya mendapat perlakuan dari kamu kayak gini."


"Tahu apa kamu. Jadi kamu ke sini buat membela Lina? How sweet! " Dewi mendengus.


"Oh ya, kayaknya Lina juga belum tahu siapa kamu ya? Apa aku perlu cerita kalau kamu putra tunggal pemilik pabrik pakan Jaya Raya!?"


"Nggak," jawab Chen Zhang langsung defensif. "Hal itu nggak penting untuk diketahui Lina."


Dewi tertawa sambil mendengus lagi. "Manis banget ya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Saatnya kalian saling tahu diri kalian sebenarnya. Lina anak Pak Hartono yang licik dan kamu anak..."


"Cukup! Nggak penting dia tahu apa nggak soal siapa aku, siapa orangtua ku." tutup Chen Zhang tegas.


"Masalahku dan Lina biar jadi urusanju saja. Kamu nggak perlu ikut campur!"


"Pantes, seenaknya saja anak itu minta difotoin kamu. Kalau tahu siapa kamu, anak itu harusnya jaga sikap."


"Memangnya kamu sudah jaga sikap kepada saya?!"


Wajah Dewi memerah kemudian membela diri. "Bukannya di awal bilang itu nggak penting?"


"Ya, emang nggak penting."


"Okay. Nah, kamu sudah tahu kan? Jadii..." Dewi mengusung tripod dan kameranya. "Aku balik duluan ke lobi. Oh ya, boleh aku tanya satu hal sama kamu?"


"Apa?"


"Kenapa kamu nggak ngasih tahu Lina siapa kamu sebenarnya? Cuma dia yang kayaknya nggak tahu tentang kamu."


"Aku cuma ingin Lina tahu aku, ya aku. Bukan dari latar belakangku. Itu sama sekali nggak penting!"


Dewi tertawa hambar. "Oh ya? Asal kamu tahu aja ya, Candra. Nggak ada cewek yang suka dibohongi! Ingat itu"


"Aku nggak bohong." sergah Chen Zhang.


"Atauh menutup-nutupi sesuatu. All we want is the truth. Bye Candra."


Sepanjang langkahnya berburu foto hingga menuju hotel, pikiran Chen Zhang dipenuhi perkataan Dewi. Memang benar itu sama sekali bukan urusannya. Tapi karena ada Lina didalam permsalahan itu, mau tak mau Chen Zhang jadi peduli.


Kalau ini soal persaingan usaha membalas dendam masa lalu sepertinya yang Dewi ceritakan, sepertinya Lina tidak pernah punya niat yang sama. Gadis itu bahkan selalu menghindari topik yang berhubungan dengan peternakan.


Chen Zhang menyadari hal itu sejenak pertama kali dia berbincang dengan Lina. Ketika dirinya menyinggung soal peternakan di Hong Kong saat berkenalan, Lina segera mengubah topik pembicaraan.


Chen Zhang sengaja memilih topik yang sesuai agar bisa lebih mengenal gadis itu, tapi rupanya Lina terkesan tidak ingin memperpanjang bahasan itu. Gadis itu cuma bilang. "Ya, ambil jurusan itu.. kesasar. Aku nyasar"


Apa maksudnya nyasar? Waktu itu Chen Zhang sama sekali tidak berpikir kalimat itu berarti Lina tidak ingin berada di hal-hal yang berhubungan dengan peternakan.


Dewi salah paham, ada bagian yang dia tidak tahu.


Kemudian Chen Zhang tersentak, dia baru saja memperhatikan Lina. Dan dia tidak menyangka dirinya akan sebegini pedulinya pada seorang gadis.