A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Delapanbelas



Partner? Lina? Mati aja! gerutu dalam hati. Bola matanya langsung berputar malas.


Lina mengangkap gelagat Dewi yang menatap kearahnya itu. Partner? Dewi? Oh My God! bareng nenek lampir, Dih ogah.


"Tapi kalian pasti bisa jadi duet yang cocok. Bukannya orangtua kalian berteman?" tanya Pak Kamto.


***


Dewi dan Lina sama-sama diam.


"Ya kan, Dewi? Pak Yusmadi dan Pak Hartono langganan lama kami" tambah Pak Kamto lagi. "Mereka selalu pakai produk pakan Jaya Raya. Waktu itu saya masih technical service yang berkeliling di setiap kandang untuk mengecek seandainya ada keluhan produk kami."


"Dulu bertemen." jawab Dewi. "Eh, maksud saya... kmi... kami memang saling kenal"


"Nah, tuh cocok! Ya kan, Ling?" Chen Zhang menyenggol bahu Lina yang diam sejenak tadi.


Lina menatap Chen Zhang, ingin rasanya dia memukul belakang kepala cowok itu tapi tidak mungkin. Andai saya orang ini mengerti.


Dewi langsung menyambar. "Yang jelas saya pasti bekerja sama dengan orang yang jujur, loyal, dan yang... yah, memang bisa diandalkan. Saya nggak mungkin kan bekerja sama dengan orang yang berbakat menjerumuskan, bisa-bisa di tengah jalan usaha yang sudah lama dirintis ini bubar."


"Ini sih menurut pengalaman pribadi, saya nggak mau bekerja sama lagi dengan orang yang berbakat menipu. Termasuk keluarganya! Harus hati-hati. Karena sifat dari orang tua bisa nurun ke anaknya. Terutama yang buruk apalagi yang sengaja mau bergelut di bidang yang sama. Isi kepalanya nggak akan jauh beda. Pasti. Ya kan, Ling?" sambung Dewi.


Tak butuh waktu lama Chen Zhang langsung menangkap sesuatu yang tidak beres dari kalimat Dewi. Semua orang langsung menghentikan makanannya, mata mereka terarah ke gadis fashionable yang tampak puas dengan ucapannya itu.


Sadar kalimatnya barusan terlalu jelas sindirannya, Dewi tertawa jengah. Mencari pembenaran. "Ya, memang begitu kan kalau mau usaha? Waspada. Ya kan, Tante? Ya kan, Rit?"


"Oh, ya! Betul banget." Rita menambahi, segera sigap saat kondisi perlu penetralan. "Pengalaman memang guru yang berharga"


"Kemarin ada ayamku yang dijangkiti cacing pita di ususnya, Dokter hewan yang biasa ke kandang, membedah satu ayam. Soalnya nggak biasanya ayam umur 73 minggu produksinya sudah turun level 70%, biasanya masih di level 78% gitu..."


"Udah masuk obat cacing pitanya, Tante Viona?"


"Sudah, terus dikasih vitamin B plus C biar nggak stress.."


"Jangan Tante" kata Dewi. "Vitamin B plus C itu sifatnya asam di pencernaan ayam. Cacing pita kan kenempel kuat di usus ayam, kalau habis kita kasih obat cacing pita pasti dinding-dinding ususnya ada yang luka karena cacing pita itu mencengkeram ususnya."


"Buat ukuran mahasiswi yang belum mulai kuliah, kamu tahu banyak, Wi." puji Pak Kamto.


"Pengalaman lapangan sih. Ayah yang ngajarin." jawab Dewi, matanya kemudian menatap Lina. "Kalau kamu, Lin. Pasti sering ya ke kandang?"


Lina tidak menjawab.


"Lina ini anak kesayangan Pak Hartono. Nggak perlu dikuliahin pasti pintarnya udah setera sama papahnya. Aku kenal Hartono sejak dia umur lima tahun." terang Ayi Jaya.


"Tapi Hartono itu selalu bilang sama aku kalau dia mau yang terbaik buat anaknya, dan Hartono selalu bilang kalau kamu anak yang nurut sama orang tua dan pintar, Ling. Bersyukurlah Ling, punya ayah hebat dan selalu memikirkan masa depanmu."


perkataan Ayi Jaya menyesakkan hati Lina.


Anak sehebat diriku? Dan, its not like that! Berhentilah orang-orang ini berekspresi tinggi tentangku, itu justru membebani. Papa itu peternak yang hebat, tapi aku tidak. Aku cuma anak yang tidak bisa mewujudkan impianku sendiri! Menjadi penulis! Rasanya semua sudah menghakimi supaya menjadi peternak cuma karena ayahku peternak, tapi aku tidak tertarik!


Dewi kembali bicara. "Ya, pasti kamu sering ke lapangan. Kamu kan anak Pak Hartono. Peternak besar di Surabaya, gitu loh. Kamu pasti juga tahu banyak soal ayam. Cuma, sejak tadi kamu diam saja, entahlah... Kayaknya kamu memang nggak suka berbagi ilmu di sini ya" Dewi tertawa kecil, terkesan mengejek.


"Ya, semua orang bisa memaklumi. Mungkin itu memang cara kamu, cara kalian, supaya usaha kalian terus jalan, established, dan nggak ada saingan. Pasti banyak rahasia kandang yang nggak bisa kamu bagi ke semua orang. Itu rahasia keluargamu. No one can beat you, You guess. Let see."


Lina mendongak. Kalimat ini bukan sekedar kalimat biasa. "Masalah kamu apa sih sebenernya? Aku nggak ngerti."


Sedari tadi Lina sudah menahan diri supaya tidak terlibat dalam topik peternakan yang slalu dihindarinya. Tapi makin lama, dia merasa mulut Dewi ini harus diberi pelajaran. Kalimat gadis itu mengandung maksud tersembunyi. Sejak awal Lina tidak merasa punya masalah dengannya. Dan malam ini, Lina terganggu. Jelas, Dewi sudah beranggapaj yang bukan-bukan tentangnya. Apalagi menyangkut ayahnya. Masalah ini harus segera diperjelas.


"Apa aku punya salah sama kamu?" Lina melanjutkan kalimatnya.


"Oh," Dewi memutar boel matanya. "Jadi kamu nggak tahu?"


"Memangnya kamu siapa sih?"


"Apa?" Dewi tampak terkejut mendengar pertanyaan Lina.


"Aku memang kenal sama Pak Yusmadi. Ya, Pak Yusmadi aja." Lina masih menatap Dewi tajam. Dia lupa Pak Yusmadi punya anak seculas ini.


Wajah Dewi memerah. Tangan kirinya meremas kuat garpu dalam genggamannya. "Kamu..!"


"Hei, ada yang mau bebek peking ini?" Ayi Viona menyela. Tangannya mengangkat piring oval.


"Aku mau!" kata Ayi Marcella.


"Aku mau cari udara segar dulu." Lina bangkit dari kursinya. Meninggalkan meja makan yang rasanya seperti pengadilan itu.


***


"Pagi Dewi." sapa Chen Zhang dari lorong hotel tempat mereka menginap. Dia mendapati Dewi yang juga sedang menunggu lift yang akan membawa mereka turun.


"Pagi, Candra." Dewi membalas sapanya ramah.


"Dari mana kamu tahu nama itu?" Chen Zhang tertawa untuk menyembunyikan kekagetannya.


"Ayah." Dewi balas tertawa. "Kamu pakai nama mandarin karena disini banyak orang tionghoa ya? Aku justru baru tahu nama Chen Zhang disini. Pak Kamto biasanya memanggil kamu Candra kalau cerita dirumahku."


"Oh ya?" Chen Zhang terkekeh. "Kamarmu di lantai ini?"


"Ya, di ujung lorong. Kamu mau turun? Sepagi ini?" tanya Dewi heran.


"Ya, aku mau ambil foto sebentar. Pemandangannya pasti bagus. Kamu mau ambil foto juga?" Chen Zhang menunjuk kamera dari tripod Dewi.


"Ya, tapi Rita masih tidur"


"Halo! Pagi semua!" Pak Tanu dan keluarganya muncul dari ujung lorong. "Mau ke lobi, kan?"


"Ya" jawab Chen Zhang. "Pak Tanu mau ke lobi pagi-pagi begini?"


"Ya, istriku mau membeli sesuatu di supermarket."


Pintu lift terbuka, mereka berempat masuk.


"Kamu tau Lina dimana Wi?" tanya Chen Zhang sambil memencet tombol lift.


Wajah Dewi yang riang langsung berubah. Nada suaranya yang lembut berubah menjadi sedikit judes. "Mana aku tahu! Emang aku emaknya?!"


Chen Zhang mengerutkan alisnya. "Bukannya kalian sekamar?"


"Nggak lagi." kata Dewi ketus. Ketika lift terbuka, Dewi langsung keluar tanpa basa-basi lagi.


"Itu Lina, kan?" Pak Tanu menunjuk ke suatu arah. Tempat sofa-sofa yang nyaman ditata di dekat jendela lobi yang teduh. "Dia disana Chen."


Chen Zhang mendapati raut wajah itu lagi pagi ini. Muram. Lina duduk termenung sendirian di lobi. Dia tampak kelelahan, dan mata sayunya semakin jelas terlihat karena poni yang biasanya menutupi sebagian dahinya kini terjepit ke atas. Rasanya gadis itu tidak tidur pulas semalam.


Dres bunga-bunga dengan lengan tiga perempat membuat penampilan Lina sedikit lebih segar, Lina sudah siap setengah jam lebih awal untuk check out dan berangkat ke Hong Kong, terbukti dari koper gadis itu yang sudah rapi di sampingnya.


"Sepertinya Dewi dan Lina memang ada masalah." Ibu Tanu membuka suara.


"Kemarin saya lihat Dewi tidak mau sekamar lagi dengan Lina, Lina kayaknya dengar dan kelihatannya tersinggung."


"Oh, ya?" alis Chen Zhang terangkat. Dia terkejut dengar kabar yang baru didengarnya pagi ini. "Kenapa, Bu?"


"Kita nggak tahu. Padahal Lina itu baik kok, memang rasanya mereka berdua nggak akur. Sudah beberapa hari tour ini nggak kelihatan ngobrol, padahal kan seumuran, sama-sama cewek pula. Agak terlalu aneh kan?"


Chen Zhang lalu teringat cara Dewi berbicara dan menatap Lina malam itu. Dewi tampak kesal ditanyai soal Lina di lift pagi ini juga. Sepertinya mereka memang ada sesuatu yang tidak beres.


***


"Atur shutter speed mu."


Dewi terlonjak dengan suara tiba-tiba muncul di belakangnya. "Candra? Sejak kapan kamu disini?"