A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigadelapan



Lina termenung menyimak kisah yang di tururkan keluarganya. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan perasaannya sekarang, rasanya dia baru saja mendengar dongeng nyata dengan keluarganya sebagai tokohnya.


***


"Sekarang Ling-Ling tahu mengapa Mbah Putri mencintai ayam-ayamnya," kata Lina kemudian, matanya menerawang, pikirannya terbang ke saat Mbah Putri bercerita kepadanya di kandang beberapa minggu yang lalu. "Mbah Putri pernah bilang, ayam-ayam ini yang membuatnya yakin bahwa dulu Mbah Putri pernah punya keluarga yang dekat, yang keberadaannya bisa di rasakan, yang bisa di sentuh, yang bisa menggenggam tangannya, dan yang bisa Mbah Putri peluk. Selama ayam-ayam ini ada Mbah Putri akan selalu merasa dekat dengan keluarganya. Dia bisa menenangnya dengan lebih nyata. Saat itu, Ling-Ling nggak tahu apa maksud Mbah Putri."


"Dia mengatakan itu?" Mata Aca tampak berkaca-kaca, ada rasa haru yang teramat sangat ketika menyadari pemberiannya yang ternyata bisa bermanfaat bagi anaknya yang tak bisa di tunggui persalinannya.


Lina mengangguk. "Ling-Ling jadi tahu mengapa Mbah Putri dan Mbah Kakung berusaha jungkir balik mengembangkan peternakan yang mereka punya, hanya itu satu-satunya yang membuat Mbah Putri percaya bahwa dia pernah memiliki keluarga kandung di Indonesia. Maafkan Ling-Ling yang pernah menganggap Mbah Putri konyol karena berlebihan."


"Astaga Ling-Ling, mengapa kamu berpikir nenekmu berlebihan?" tanya Ipo Hang, prihatin. Ada nada sedih dan terluka dalam suaranya.


"Ling-Ling berpikir Mbah Putri berlebihan, bekerja keras mengembangkan usaha ternak ini hanya karena merasa bersalah. Ling-Ling tahu cerita ini dari papa. Untuk membangun kandang ayam pertama, Mbah Putri menggadaikan selendang sutra warna merah. Tapi karena peternakan saat itu masih sulit berkembang, selendang sutra itu tak berhasil tertebus. Papa bilang selendang itu milik adik Mbah Putri. Ling-Ling pikir, itu hanyalah selendang. Mbah Putri tak perlu merasa sebegitu bersalahnya sampai-sampai selalu di kandang."


Tangis Ipo Hang pecah. "Bilang sama kakak perempuan Cheong, tak apa-apa! Tak apa-apa selendang itu tak kembali, Ling! Jangan begitu merasa bersalah karena menghilangkan selendang itu, sungguh! Pakai selendang itu untuknya bekerja. Sungguh aku tidak apa-apa, sungguh. katakan itu pada nenekmu, Ling."


"Itu selendang Ipo?" tanya Lina.


Ipo Hang mengangguk di sela tangisnya. "Ya, Ling. Ipo memberikan selendang itu untuk nenekmu sebelum kami naik kapal ke China."


Lina tertegun. Hari ini dia benar-benar merasa tak tahu apa-apa soal keluarganya sendiri.


Sore itu mereka menghabiskan waktu dengan berbagi cerita mengenai hidup masing-masing. Lina tak pernah menyangka ada kisah pilu di balik kejayaan Unggul Maju Farm. Ada derita, ada kesedihan, ada air mata, ada darah, ada harapan, dan ada cinta di dalamnya. Peternakan itu di bangun dari sesuatu yang tak pernah Lina bisa bayangkan sebelumnya.


"So, is he your boyfriend, Ling?" Fang-Fang menanyai Lina, masih penasaran dengan Chen Zhang yang sejak tadi hanya menyimak mereka bercerita. Cowok itu hanya sesekali tersenyum.


Lina tersentak dengan pertanyaan Fang-Fang, sekaligus tersadar Chen Zhang masih duduk di sampingnya. "No, he's a friend."


Fang-Fang mengangguk paham. "He looks nice."


"Definetly nice," ucap Lina sambil tersenyum.


Chen Zhang tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang manis.


Lina menelan ludah, terdiam sejenak, lalu nyengir. "Peternakan."


Sesuai dugaannya, keluarganya menyambut kabar itu dengan gembira. Mereka mengatakan hal serupa seperti yang pernah Samko Tour katakan, bahwa jurusan yang diambilnya sangat cepat, sesuai dengan bidang pekerjaan orangtuanya. Dia bisa mengembangkan peternakan keluarganya agar lebih maju.


Tapi tidak sesuai biasanya, kali ini Lina lega karena dia mahasiswi peternakan. Pertama kali dalam hidupnya, dia merasa senang menjadi mahasiswi peternakan.


Rasa tertekan yang dia rasakan sebelumnya, tiba-tiba menghilang.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Lina dan Chen Zhang akhirnya sampai di jalan Mang Kok lagi. Ladies Street masih tampak terang tetapi beberapa tenda pasar murah sudah mulai di bongkar.


Sepanjang perjalanan Lina termenung. Ipo Hang menceritakan kisah yang sebelumnya tak pernah dia dengar dari neneknya. Lina tak menyangka keluarganya juga termasuk bagian dari kisah itu.


Kini Lina tahu penyebab kakeknya berjalan pincang dan kaki kiri beliau tertekuk tidak normal, juga alasan neneknya tak bisa pergi jauh meninggalkan ayam-ayam mereka dan selalu menyebut kandang itu keluarganya. Selama ini Lina tak pernah ingin tahu tentang itu.


Dia tak pernah cukup peduli dengan keluarganya. Di benaknya kini tumbuh rasa memiliki yang teramat kuat pada peternakan itu. Membuat Lina ingin mengganti air mata, darah, dan keringat yang sudah di torehkan keluarganya.


Peternakan itu di bangun atas dasar cinta dan pengirbanan. Sesuatu yang nilainya lebih besar dari pada apapun. Demi menjamin anak dan cucunya hidup layak, kakek dan neneknya sudah melewati banyak hal yang tak pernah Lina bayangkan sebelumnya. Tak semua orang bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. Pertemuan hari ini telah mengubah jalan pikiran Lina.


"Kamu lapar?" suara Chen Zhang memecah kesunyian. Lina tersadar dari lamunannya. Perutnya keroncongan.


"Ya sih, sedikit."


"Diam di situ, Ling." Chen Zhang tiba-tiba menyuruhnya berhenti.


"Kenapa, Chen?"


Chen Zhang menunduk tiba-tiba. "Tali sepatumu lepas."


Sebelum Lina sempat memeriksa, Chen Zhang sudah berjongkok dan mengikatkan tali sepatunya itu. Lina tidak tahu harus bereaksi bagaimana.