A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Duadua



"Hai, kamu masih jengkel?" sebuah suara terdengar dari samping Lina.


"Kamu suka muncul tiba-tiba ya!" kata Lina sinis.


Chen Zhang berdiridengan raut wajah ragu, bingung harus bereaksi bagaimana. "Ng..masa?"


"Samko Tour!" Fenita melambaikan bendera merah khas. Tanda peserta tour harus segera berkumpul di titik tempatnya berdiri.


***


"Minggir, aku mau ke sana." Lina menggeser badan Chen Zhang yang menghalangi jalannya.


Perasaannya masih campur aduk. Dia ingin novelnya itu terbit dan di pajang di toko buku, tanpa ada orang yang tahu dia menulis sebelumnya. Tapi Chen Zhang menggagalkan semuanya.


"Saya membagikan paspor untuk melewati imigrasi. Ini paspor Bu Heni, Pak Tanu, Ibu Tanu, Mas Yofan, Mbak Gita." Fenita membagi-bagikan paspor di tangannya.


Satu persatu orang yang disebutkan Fenita maju hingga tersisa dua paspor yang di pegang Fenita. Satu berwarna hijau dan satunya sudah bersampul paspor holder.


"Pak Kamto dan Can.."


"Saya!" Chen Zhang langsung memotong Fenita dan mengambil paspornya yang bersampul paspor holder Intermilan.


"Baiklah, semua sudah hadir ya!" ujar Fenita setelah selesai menghitung rombongannya.


"Semuanya masuk sesuai urutan imigrasi. Ini akan memakan waktu yang cukup lama karena akhir minggu jumlah orang yang mau masuk Hong Kong banyak. Nanti di pintu keluar Pak Liem akan menunggu dan kita langsung melanjutkan perjalanan."


Lina berada di barisan depan. Rombongan mereka hanyalah segelintir orang di antara lautan ribuan manusia yang ada di kantor imigrasi Shenzhen.


Kantor itu dipenuhi orang-orang yang berdesakan ingin masuk Hong Kong. Kata Pak Tong, orang Chung Kuo yang kaya-kaya biasanya belanja ke Hong Kong waktu hari libur dan akhir pekan. Tidak tanggung-tanggung, mereka biasanya memborong apartement atau rumah.


Seperti yang Lina duga, antrean lautan manusia itu di panjang dan berjubel.


Lina menoleh. Chen Zhang kini sudah berdiri di belakangnya. "Kenapa kamu di sini? Kamu kan harusnya di belakang Pak Kamto."


"Pengecekan awal sudah selesai, setelah ini nggak urut juga nggak apa-apa. Kita tinggal minta stempel di depan. Tapi bakal banyak aksi serobot di antrian ini."


"Termasuk kamu juga menyerobot?" tanya Lina ketus. "Kamu harusnya ada di barisan lebih belakang."


"Ling,aku minta maaf udah ngintip buku catatan kamu. Anggep aja itu nggak pernah terjadi. Aku udah lupa isinya kok." nada suara Chen Zhang terdengar bersalah.


"Kamu mau merusak liburanmu sendiri? Kalau mau aku kasih saran Ling, bukan ide bagus menghabiskan sisa waktu liburan di Hong Kong dengan memendam rasa kejengkelan sama orang lain. Maafin aku deh. Di sini banyak tempat bagus, kita bisa foto-foto."


Chen Zhang menggoyangkan kamera DSLR yang tergantung di lehernya.


"Aku udah isi baterai kamera digital ku sendiri." Lina memutar bola mata tidak tertarik.


Chen Zhang berdecak. Itu berarti dia tidak bisa bebas mengambil foto Lina lagi dan hal itu benar-benar membuatnya kecewa. "Terserah deh apa mau kamu."


Mereka berdua terdiam beberapa saat, berdiri berdesakan dengan ributan orang lain, dan mereka bisa mendengar orang-orang disekitarnya berbicara dalam bahasa asing. Barisan hanya bisa maju beberapa langkah setiap lima menit.


"Jangan diulangi lagi ya, Chen. Aku nggak suka ada orang yang lancang membaca catatanku." Lina tak kuasa menahan atmosfer dingin yang tidak nyaman ini, dia akhirnya memecah kebisuan antara mereka.


"Aku beneran nggak suka buku catatanku diintip orang lain. Nggak usah tanya kenapa, pokoknya aku nggak suka."


Di belakang Lina Chen Zhang tersenyum lega. Entah mengapa, mengetahui fakta bahwa dia bisa berbicara lagi seperti biasa dengan Lina membuatnya senang bukan main. Liburan ini bakal menjadi liburannya yang paling garing. "Aku nggak bakal ngulangin. Jadi kamu nggak marah, kan?"


Lina tersenyum. Ada baiknya dia mempercayai Chen Zhang. Lagi pula, cowok itu pun sudah lupa apa isi buku catatannya. Selama ini dia cuma punya Chen Zhang sebagai teman sebayanya. Mau sama siapa lagi kalau bukan sama Chen Zhang? Dia tak mau merusak liburannya sendiri.


"Asal kamu jangan ngulangin lagi." Lina mengacungkan jari kelingkingnya. "Deal?"


Chen Zhang mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Lina. "Deal."