A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Duadelapan



"Tapi, kamu emang nggak tertarik soal peternakan?" Chen Zhang berusaha menebak. Cowok itu memandang Lina seakan ingin membaca isi kepala gadis itu dari raut wajahnya. "Ya, kan?"


"Ya!" sahut Lina tanpa berpikir panjang. Kemudian Lina segera tersadar oleh ucapannya sendiri. "Dari mana kamu tahu?"


***


"Aku tahu sejak pertama kali ketemu kamu kok. Kamu udah keliatan nggak minat sama bidang ini. Kamu juga pernah bilang kamu nyasar."


Lina membisu.


"Kenapa, Ling? Bukannya peternakan itu bagus, ya? Aku lihat ratusan orang mau jadi peternak tapi kamu punya kesempatan emas justru menolak."


Lina masih membisu. Kali ini dia menggigit bibir bawahnya. Dia tak menyangka Chen Zhang sudah mengetahui sebanyak ini tentang dirinya.


"Aku merasa kamu itu terlalu banyak menyimpan rahasia sendiri, Ling. Nggak ada salahnya kamu berbagi sama seseorang, siapa tahu dia bisa bantuin kmau dan ngasih solusi. Kalau kamu banyak nyimpen rahasia sendiri, kamu membuat khawatir orang-orang terdekatmu. Aku perhatikan kamu sering murung gitu."


Lina segera memalingkan wajahnya dari Chen Zhang, memandang laut lepas yang terhampar di depannya. "Bukan kenapa-kenapa. Mimpi orang nggak selalu sama, hanya itu."


"Kenapa Ling?"


"Bukan urusan kamu Chen!"


"Karena kamu mau jadi novelis?"


Lina langsung menghadap Chen Zhang lagi dengan tergeragap. Banyak pikiran di kepalanya yang tak mampu dia suarakan. Bibirnya tertutup rapat-rapat.


"Kenapa?" Chen Zhang maju selangkah. "Benar kan karena kamu mau jadi novelis?"


"Aku sekarang udah tau kan? Ling, novel aku bagus kok. Ceritanya soal Clara yang berpetualang ingin mewujudkan mimpinya. Gadis yang sudah bosan hidup protokoler karena ayahnya bangsawan pada zamannya dan ingin menjadi pemanah yang handal sampai dia memulai petualangannya ke China, berguru pada salah satu pemanah handal. Novel kamu bagus kok, Ling. Nggak semua orang nggak bisa nulis genre fantasi, kan? And you did it."


Lina meremas ujung jaketnya. "Kamu baca seberapa banyak?"


"Aku cuma baca sekilas." Chen Zhang berbohong. Sebetulnya dia nyaris membaca semua halaman yang terbuka ketika Lina tidak sadar bahwa dia berdiri di belakang gadis itu yang tengah menulis outline pada buku catatannya di lobi. Saat itu Chen Zhang berdiri cukup lama sebelum Lina menyadari kehadirannya.


"Kamu bohong, katanya sudah lupa sama apa isi buku catatanku!" Lina memegang kepalanya yang serasa berputar. Rasanya dia ingin terjun ke laut. Apa yang Chen Zhang pikirkan sekarang? Apa dia menganggap cerita itu konyol? Apa sekarang dia sudah tampak sangat menyedihkan karena tidak bisa menyalurkan mimpi dan minatnya?


"Ling, denger dulu."


"Udahlah, berhenti ngurusin urusanku!" Lina berkata dengan nafas memburu. Matanya menatap Chen Zhang tajam. "Kamu terlalu ikut campur masalah orang lain! Mulai sekarang nggak usah ngurusin urusan pribadiku. Jangan pernah ikut campur urusanku lagi!"


Hening.


"Oke, Semoga sukses dengan mimpimu dan masalahmu dengan Dewi. Follow your dream, they will find their way. Jangan selesaikan masalahmu dengan Dewi pakai emosi."


"I will! Thank you!" Lina segera turun menuju bus, meninggalkan Chen Zhang yang masih berdiri di dek kapal. Tidak peduli dengan makan malam Samko Tour yang belum selesai.


Mimpinya yang sudah susah payah di rahasiakan untuk kejutan keluarganya nanti, sudah diketahui Chen Zhang. Rusak semua! Sebentar lagi akan ada berita anak Pak Hartono tidak suka peternakan tapi suka menulis. Lalu mereka akan menertawakannya sebagai orang yang gagal.!


Lina ingin segera pulang ke Surabaya! Liburan ini sudah berakhir untuknya! Tapi sebelum itu, dia harus membuat perhitungan dengan Dewi. Tidak ada anak yang suka ayahnya di beritakan yang bukan-bukan. Termasuk dirinya.


Bagus, mumpung lagi emosi kayak begini, Dewi cocok banget buat di jadikan samsak!