
Lina ingin segera pulang ke Surabaya! Liburan ini sudah berakhir untuknya! Tapi sebelum itu, dia harus membuat perhitungan dengan Dewi. Tidak ada anak yang suka ayahnya di beritakan yang bukan-bukan. Termasuk dirinya.
Bagus, mumpung lagi emosi kayak begini, Dewi cocok banget buat di jadiin samsak!
***
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Ayi Jaya sudah pulas. Lina mengerjapkan mata yang sejak tadi pura-pura terpejam. Setelah memastikan Ayi Jaya tak akan terbangun, Lina memakai sandal hotel dan mengendap keluar dari kamar.
Hari ini gadis itu sama sekali tidak menikmati rangkaian tour dari Samko Tour yang mengajak rombongan berkeliling Hong Kong. Tempat berakhir sebelum mereka pulang ke Indonesia. Lina cuma ingin segera menanti malam tiba, karena ada yang akan dia selesaikan dengan Dewi.
Lantai lima, kamar 511...
Lina mencari nomor kamar yang terbuat dari plat kuningan. Saat menemukan nomor itu, Lina menarik napas, kemudian mengetuk pintu dengan keras. Tak ada alasan dia harus basa-basi.
"Buka!!"
Tak berapa lama, Rita yang mengenakan piama membuka pintu. Wajah gadis kurus itu seketika terkejut saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mana Dewi?" tanya Lina ketus. Rita terdiam. Merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari gadis kurus itu, Lina menggeser tubuh Rita dengan satu tangan. "Minggir aja deh kamu."
"Hai, Dewi. Sori datang mendadak." tatapan Lina tajam menghujam pupil Dewi. "Keganggu?!"
"Mau apa kamu?" Dewi beringsut dari tempatnya duduk.
"Aku dengar kamu udah bilang kalau Papaku rentenir, pengkhiatan, nggak mau di saingi, dan tamak. Mumpung cuma ada kita di kamar ini, cepet selesaikan masalah kamu sama aku. Karena aku sama sekali nggak suka ada orang yang bilang gitu soal Papaku sendiri!"
Dewi terdiam, matanya memerah. Dari raut wajahnya, Lina tahu anak itu sama sekali tidak menyangka akan kedatangannya malam ini, dengan cara dan intro seperti ini. Lina cuma merasa nggak ada gunanya berbaik-baik malam ini.
"Oke, Wi. denger baik-baik ya." Lina melipat tangan di depan dada. "Aku pikir kita bisa berteman selama satu minggu ini di Hong Kong, tapi rupanya kamu dan Rita nggak mau. Okay, its fine. Aku sama sekali nggak masalah. Mungkin memang kita nggak cocok. Tapi aku baru tahu alasan sebenarnya hari ini! Dan asal kamu tahu, Wi. Caramu itu macam ibu-ibu kompleks! Beraninya cuma nyindir, nyingir, dan ngomongin di belakang! Kenapa nggak sejak awal aja kamu samperin aku? Aku nggak keberatan kalau memang kamu punya masalah sama aku dan mau menyelesaikannya secara langsung. Bukannya hari pertama kita sekamar? Kenapa nggak diselesaiin aja di kamar saat itu juga?! Tapi kamu justru memperpanjang masalah! Sekarang lebih baik kamu tutup mulut dan jangan ngomong yang bukan-bukan soal Papaku! Kamu nggak kenal Papaku! Dan kita juga nggak pernah saling kenal sebelumnya." kata Lina dengan napas memburu. Kalau ngelabrak, nggak usah setengah-setengah. Sudah tidak ada guna lagi dia berhalus-halus pada ular semacam Dewi. "Jadi niat memperpanjang masalah itu ada di diri kamu sendiri! Padahal kamu punya sekutu setia seperti Rita, bukan kayak aku yang ke mana-mana sendirian! Apa sih sebetulnya yang kamu mau? Hahh?!"
Mendadak Dewi mulai terisak.
Lina mendengus kesal dan melanjutkan kalimatnya. "Kenapa kamu nangis? Bukannya udah lama kamu mau berhadap-hadapan sama aku? Sekarang aku udah nyamperin kamu di kamar kamu, sendirian, dengan senang hati, tapi kamu malah nangis?! Ngomong sini! Apa yang kamu pikirkan tentang aku dan keluargaku? Ngomong aja sekarang. Jangan cengeng, beraninya nangis doang!"
Gertakan keras Lina tidak berhasil, Dewi justru meninggikan suara isakannya. Bahunya naik turun. Lina menunggu beberapa saat sampai Dewi tenang, tapi tangisnya tak kunjung reda. Lina berdecak. Tangisan Dewi sama sekali tidak berpengaruh, dia justru muak mendengarnya.