A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigaempat



Lina bertanya pada perempuan yang di temuinya di jalan. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, wanita berusia sekitar 35 tahunan itu menerangkan jalan yang harus di tempuh Lina, belok kanan, belok kiri, belok kanan lagi. Saking bingungnya, Lina menggambarkan di telapak tangan, meskipun dia sendiri tidak yakin sudah mengerti dengan apa yang di gambarkan.


Masalahnya kini bertambah satu lagi.


***


Chen Zhang menatap sereal di mangkuknya dengan malas-malasan. Dia sudah berada di ruang makan sejak satu jam lalu dan belum berniat untuk keluar dari situ. Ini hari terakhirnya di Hong Kong sebelum pulang ke Indonesia setengah hari untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar hotel, tapi dia malah ingin segera sampai Juanda. Secepatnya. Di sini tak ada lagi yang menarik untuk lelaki itu.


Chen Zhang membidikkan kamera DSLR nya dari atas ruang makan, tidak terlalu yakin apa yang dia bidik dari tempat seperti ini, dengan cahaya matahari yang menyilatkan begini. Toh sebenarnya Chen Zhang sudah punya terlalu banyak foto di China sebelumnya. Kunjungan ini yang ketiga kalinya sejak tiga tahun terakhir. Sudah cukup membosankan liburan ke negara sama selama tiga tahun berturut-turut. Seharusnya dia mengiakan saja untuk ikut tour ke Turki.


Bunyi pip pelan menandakan memory card di kameranya telah habis. Chen Zhang mengeluarkan benda kecil berwarna biru tersebut dari kameranya, ini sudah kartu memorinya yang kedua semenjak dia tiba di China. Chen Zhang memasang kartu memori terakhirnya di slot sambil bertanya-tanya, apakah kartu memorinya yang ketiga ini akan berisi sosok yang nama seperti kedua kartu memori sebelumnya.


Hampir satu minggu belakangan ini, fokus hidupnya hanya satu. Fokus lensa kameranya hanya di satu sosok. Sebelum ini dia belum pernah merasakan hidupnya bisa berputar hanya pada satu pusaran dan ini sungguh aneh. Lina Budiawan.


Gadis manis itu sudah menarik perhatiannya sejak awal bertemu. Menarik mata dan membuat lensanya terarah ada rasa peduli yang tak bisa di bendung apa pun tentangnya. China yang ketiga kali ini pun tampak baru karena Lina.


Kamu terlalu ikut campur masalah orang lain! Mulai sekarang nggak usah ngurusin urusan pribadiku. Jangan pernah ikut campur urusanku lagi!


Chen Zhang membuang napas. Kalimat Lina sore itu masih terngiang di benaknya, meninggalkan kecewa di hatinya. Dan yang pasti menghancurkan harga dirinya berkeping-keping.


Apa benar dirinya terlalu ikut campur sejauh itu? Chen Zhang sendiri tak mempercayainya. Selama ini dia paling tidak suka ikut campur masalah orang lain, apalagi masalah gadis-gadis seperti itu. Dia bukan tipikal laki-laki yang suka mengurusi perintilan hidup orang lain karena dia punya banyak hal yang harus di selesaikan. Tapi karena Lina, Chen Zhang peduli. Ya, karena ini Lina. Chen Zhang tidak menganggap Lina sebagai orang lain.


Setengah frustrasi Chen Zhang membidikkan kamera ke lantai bawah, tempat orang-orang berlalu lalang di trotoar. Tapi tiba-tiba lensanya menangkap sosok yang telah memenuhi dua kartu memorinya. Gadis itu tampak kebingungan dengan peta di tangan dan sedang berbicara dengan wanita asing. Haruskah Chen Zhang peduli kepada gadis yang bahkan tidak menginginkan perhatiannya?


Akhirnya Chen Zhang melesat turun ke bawah.


***


Lina sudah hampir menyerah mencari alamat yang di berikan neneknya ketika akhirnya dia mencapai tempatnya yang sama untuk yang kesekian kalinya, Metropark Kowloon Hotel. Setelah menghela napas benar-benar panjang, tanda menyerah. Gadis itu memutuskan lebih baik tidur saja dan besok akan melaporkan kegagalan pencariannya pada sang nenek. Semoga ini bukan alamat yang penting, sehingga neneknya tidak perlu terlalu kecewa.


Lina membalikkan badan dengan tak bersemangat, kepalanya menunduk memandang trotoar.


Tiba-tiba hidungnya mencium aroma parfum Bulgari Extrime tak jauh dari tempatnya berdiri, matanya kemudian menangkap sepasang sepatu berlumpur dan celana jeans belel yang sudah sangat di kenalnya. Sosok itu berdiri dua langkah di depannya.


"Chen Zhang?" Lina menatap tubuh jangkung itu setengah tak percaya. "Lagi ngapain kamu disini?"


"Nyari suara segar saja. Kamu lagi nyari sesuatu?" Nada suara Chen Zhang tak serenyah biasanya, kali ini kaku dan terasa dingin. Lina yang sangat sempat lega kembali menjadi canggung.


"Errr... Sebenernya aku nyari alamat ini, Ayi Jaya bilang memang agak jauh dari sini. Tapi aku nggak nemuin stasiun MTR Mang Kok untuk ke sana." Lina berusaha berbicara seramah mungkin, namun sepertinya Chen Zhang tidak tertarik untuk mengubah bahasa tubuhnya yang menyiratkan ketidakpedulian. Tidak seperti biasanya, berada di dekat Chen Zhang kali ini membuatnya tidak nyaman.