A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empattiga



"Its my honour to be your fiend, Lin." Dewi dan Lina saling tersenyum. Hati mereka hari ini terasa lebih ringan.


***


"Samko Tour!" suara Fenita dan gerakan melambai-lambaikan bendera merah menjadi tanda khas untuk para peserta Samko Tour selama seminggu ini. Mereka sudah terbiasa dengan cara Fenita memberikan aba-aba selama tujuh hari belakangan.


Hati para peserta tour, pasti terasa berat karena ini menjelang momen-momen terakhir kebersamaan mereka. Setelah ini mereka berpisah, kembali ke kehidupan nyata sebagai peternak, merawat ternak-ternak, meningkatkan produksi, dan apabila ada kesempatan lagi, tahun depan mereka akan bertemu di tour yang sama, ke tempat yang berbeda.


"Kopermu sudah siap semua? Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Dewi pada Lina. Seluruh peserta Samko Tour sudha berkumpul di dekatbus yang akan membawa mereka ke Hong Kong International Airport setengah jam lagi, satu per satu koper dinaikan para porter ke bagasi.


"Udah, bawaanku cuma ini." Lina meringis. "Kamu sendiri udah?"


"Udah, bawaanku sebanyak ini." Dewi tertawa.


Mereka berdua sepakat mengakhiri perselisihan dan beradaptasi sebagai teman sesegera mungkin.


"Heii, kalian dapet liburan yang menyenangkan, kan?" Mas Yofan menyapa dari samping bus. Dia baru saja selesai membantu porter menaikkan empat koper istrinya yang doyan belanja.


Dewi dan Lina berpandangan, lalu tertawa. "Never been better!" ucap bereka bersamaan.


Tidak ada yang lebih berkesan lagi bagi Lina selain bertemu keluarga jauh yang baru dia ketahui eksistensinya dan... dua teman baru.


"Ling-Ling ada di sini? Aku mau ketemu cicitku! Ling-Ling!" sebuah suara membuat semua peserta tour menoleh, Lina terperangah.


Aco, Aca, Ipo Hang, dan Fang-Fang batang beramai-ramai beberapa meter di hadapannya. Di tangan kanan dan kiri mereka terdapat bungkusan tas plastik yang di tentang. Fang-Fang sendiri membawa kardus yang isinya tampak berat. Tetesan keringat membasahi dahinya.


"Aco!" Lina langsung menghampiri. Betul-betul kaget keluarganya akan menyusulnya ke sini. "Aco kenapa rapot-repot kesini?"


"Aco mau lihat kamu, Ling. Harusnya semalam kamu tidur di rumah kami, semalam Aco memikirkanmu. Aco ingin terus liat kamu. Kamu mirip sekali sama nenekmu waktu muda." Aco memeluk Lina dengan tangannya yang sidah ringkin. "Kamu balik ke sini ya."


"Ini, kami bawakan sedikit oleh-oleh untuk kalian. Untuk Hartono, Kai Ming Cheong, dan juga ibumu." Ipo Hanh menyodorkan bungkusan plastik besar yang mereka bawa. Isinya bermacam-macam, ada jahe, piring, baju, teko, poci, dan lain-lain. Sepertinya isi toko kelontong Shanghai Star berkurang separuh setelah ini.


"Kenapa repot-repot, Ipo Hang?" Lina jadi tak enak sendiri. Kakek dan nenek buyutnya juga ikut membawa bungkusan plastik besar berisi kunyit dan barang kunyit, jahe? pecah belah.


"Ini untuk Kai Ming Cheong dan keluarga di Indonesia! Kai Ming Cheong suka poci warna biru. Bawa dan berikan ke nenekmu ya," ucap Aca Sheung dengan semangat. Hari ini neneknya mengenakan baju terusan berwarna biru pudar.


"Mamah!" tegur Ipo Hang gemas.


Lina menatap keluarganya itu dengan penuh haru. Semua peserta Samko Tour dengan penuh keramahan menyalami mereka.


"Ini orangtua Kai Ming Cheong?" tanya Ayi Jaya dengan takjub.


"Ini keluargamu, Lin?" Dewi mengerjap kaget.


"Ini sepupumu?" tanya Fenita, juga dengan nada surprise.


Baginya perjalanannya kali ini bukan hanya sekedar liburan. Perjalanan ini perjalanan hati.


***


Hong Kong - Surabaya juga di tempuh dalam waktu empat jam. Lina memandang awan-awan yang menyerupai gula-gula kapas berwarna putih indah.


Lina seperti bisa merasakan kelembutan gumpalan awan itu dari tempat duduknya, mendadak hatinya terasa menghangat. Ribuan meter di bawahnya ada negara yang menyimpan begitu banyak cerita dan kenangan. Ribuan meter di bawahnya, tertinggal hatinya, di toko Shanghai Star, Mang Wui Man.


Satu minggu perjalanannya ini telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dan takdir. Banyak hal yang mengajarkannya, tentang pengorbanan, cinta, kerja keras, dan tentang impian. Yang terpenting dari semua perjalanan bukanlah tujuannya, tapi makna perjalanan tersebut. Its not about the destination, but its about the jurney. Begitulah kata orang bijak.


Lina mengadarkan pandangan. Dia satu di antara lima belas orang yang beruntung ikut tour ini. Tangan-tangan Tuhan telah bekerja dengan ajaib sepanjang perjalanannya. Tour ini sudah membawanya jauh lebih mengerti arti kehidupan, mimpi, dan keluarga. Sikap Dewi selama tour mengajarkannya sesuatu, ternyata banyak orang di luar sana yang rela melakukan apa pun demi keluarga yang di cintainya.


Cara Dewi memang terkadang salah. Tapi tetap saja, butuh keberanian dan tekad yang kuat untuk membela dan berjuang demi keluarga. Dewi punya keduanya.


Keluarganya di Mang Wui Man, membuatnya mengerti peternakan Unggul Maju tidak di bangun dengan mudah. Ada banyak darah dan air mata yang di korbankan.


Lina tertuju pada kursi kosong di sampingnya, Lina mengusapnya.


Terima kasih, Papa. Sudah memberikanku pelajaran yang sangat berharga, Papa pahlawanku.


I am a princess not because I have a prince, but because my father is a king. Its you, Papa.