A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigasembilan



Sebelum Lina sempat memeriksa, Chen Zhang sudah berjongkok dan mengikatkan tali sepatunya itu. Lina tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


***


"Kamu itu pakai rok, mendingan nggak usah nunduk-nunduk." kata Chen Zhang sambil berdiri.


"Ma-makasih, ya." kata Lina sambil tersenyum tipis, kemudian tersadar ini waktu yang tepat untuk meminta maaf atas ucapannya waktu lalu. "Eemm, Chen..."


"Ayo cepat jalan! Di sini ada tempat jual cumi panggang yang enak. Tempatnya juga udah deket." Chen Zhang memotong ucapan Lina dan kembali berjalan.


Lina tetap meneruskan ucapannya. "Chen, aku minta maaf atas sikapku ke kamu kemarin. Aku nggak bermaksud bikin kamu tersinggung. Selama ini memang nggak ada yang pernah berani membaca buku catatanku, aku juga nggak mau catatan itu terbaca karena aku nggak suka. Tapi nggak seharusnya aku bersikap seperti itu ke kamu, aku tahu kamu nggak pernah bermaksud ikut campur. Reaksiku terlalu berlebihan untuk orang sebaik kamu."


Chen Zhang menghentikan langkah, mendengarkan Lina menyelesaikan kalimatnya. Cowok itu kemudian menghela napas dan menoleh ke arah Lina. "Nggak apa-apa, Ling. Tapi jangan ngulangin lagi ya, aku nggak pernah suka ikut campur masalah orang lain kok."


Lina mengangguk, tersenyum lega. "Pasti nggak akan terulang, maafin ya."


Lina menghela napas. Dia butuh waktu beberapa saat untuk mempertimbangkan apakah Chen Zhang perlu diberi tahu. Akhirnya Lina memutuskan untuk mempercayai Chen Zhang.


"Aku takut orang-orang nggak menerimaku, Chen. Apa yang bakal orang-orang pikirin tentangku? Putri tunggal, harapan orangtua, mahasiswi peternakan dan orangtuanya peternak. Sempurna, kan? Tapi jadi novelis? Mereka bakal ketawa, Chen. Peternakan sama novelis itu nggak ada sambungannya. Coba bayangin, ada mahasiswi peternakan tapi maunya jadi novelis. Apa yang mau mereka katakan soal aku?"


"Multitalenta," jawab Chen Zhang. Lina langsung ternganga mendengarnya. "Kamu pesimis, Ling. Aku pernah bilang kan, cuma orang biasa-biasa aja yang berpikir mainstream. Aku dengan lensa kameraku, selalu menemukan sesuatu yang baru dari sudut pandang yang berbeda itu. Sesuatu yang belum di temukan orang-orang sebelum aku. Di situ aku juga menemukan peluang. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah, mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu dan menangkap peluang."


Lina harus mengakui apa yang di katakan Chen Zhang benar. Dia hanya terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri selama ini. Lina menengadah, melihat bintang yang bertaburan di angkasa.


"Aku merasa selama ini aku terlalu egois dalam bermimpi, Chen. Aku nggak peduli sama orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Aku mengurung diri, menutup diri, demi membuktikan pada dunia kalau aku suatu hari nanti bisa jadi penulis yang sukses. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana bahagia di jalanku sendiri tanpa peduli mereka yang sudah membahagiakan aku. Aku terlalu yakin pendapatku benar. Aku malu pada diriku sendiri. Apa benar ini yang di sebut mimpi?" Lina terdiam beberapa saat, kemudian melanjutkan ucapannya. "Kalau aku sampai nggaj memedulikan orang-orang yang sudah sayang dan memedulikan aku, hanya demi mewujudkan mimpiku sendiri, aku akan merayakan keberhasilanku di puncak dengan siapa nanti? Kayaknya bukan ini yang di sebut mimpi. Ya kan?"


"Ya, aku dulu juga pernah berpikir begitu." Chen Zhang ikut menengadah, memandangi langit Hong Kong yang bertabur bintang. "Apa gunanya kalau bisa menjadi apa yang aku mau tapi nggak berguna bagi orang-orang terdekatku, keluargaku sendiri? Keberhasilanku sampai puncak rasanya akan ada yang kurang. Tiap orang memang berhak memilih hidupnya."


Lina memandang Chen Zhang, memperhatikan wajah tampan yang memandangi langit itu. Menikmati pandar bintang yang memayungi mereka. "Terima kasih, Chen. Berkat kamu, aku mengalami hari yang paling bersejarah dalam hidupku."