A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Duatujuh



"Kamu tahu apa yang membuat kamu bersikap seperti itu kepada Lina." Ayi Viona, Ayi Jaya, dan Ayi Marcella menatap ke arah gadis yang dipenuhi nafsu balas dendam itu. Dewi langsung tersentak kaget, dan wajahnya memerah. "Kamu harus mendengarkan cerita kami dulu, lalu kamu bisa bertanya kepada ayahmu itu apakah cerita kami benar. Ayahmu bisa kapan saja mendatangi kami kalau tidak terima."


***


Lina membiarkan terpaan angin laut mengacak-acak rambut lurusnya. Dewi hampir saja berhasil membuatnya emosi dan itu sangat memalukan. Walaupun percakapan Dewi buka memang selalu tidak menyenangkan, seharusnya dia tidak sampai terseret. Seharusnya dia bersikap lebih classy dengan tidak menanggapi orang recehan seperti Dewi.


Tapi sepertinya susah. Anak itu selalu ingin tahu soal peternakannya, untungnya nggak tahu apa-apa. Yang paling mengganggunya, Lina sama sekali kenapa Dewi bisa sebegitu niatnya ngajak perang. Bahkan menyeret-nyeret nama Papahnya. Lina juga merasa nggak pernah ketemu Dewi sebelumnya. Benar-benar cewek aneh yang menyebalkan.


"Ling!"


Lina menoleh. Chen Zhang tampak berjalan meghampirinya. "Kenapa kamu ke sini? Mau ngikutin aku sampai toilet?"


"Toiletnya di situ." Chen Zhang menunjuk arah yang berlawanan dari tempat Lina berdiri. "Justru kamu yang aneh, katanya mau ke toilet tapi malah ke dek kapal. Kenapa sih?"


"Apanya yang kenapa? Aku baik-baik aja."


"Nggak, Ling. Kamu nggak baik-baik aja."


"Kayaknya itu lebih cocok kamu tanyain ke Dewi deh, bukan ke aku. Aku sih ngerasa nggak punya masalah ya sama dia." jawab Lina ketus.


"Jadi kamu nggak tahu kenapa Dewi bisa bersikap seperti itu ke kamu?"


Lina mendengus sinis. "Nggak tahu, kayaknya dia punya masalah mental. Menyedihkan."


Chen Zhang menghela napas. kemudian mengangkat bahunya sekilas. "Mungkin ada baiknya kalian nyelesaiin masalah kalian, Ling. Jadi nggak berlarut-larut, masalah dari orangtua ke anak. Tapi itu cuma saran sih."


Chen Zhang menelan ludah, sadar kali ini remnya blong. "Lebih baik kamu tanya sendiri sama Dewi habis ini."


"Bilang ke aku Chen, dia pernah ngomong apa emangnya? Kenapa dia bersikap seperti itu sama aku?" desak Lina.


Chen Zhang terdiam, menimbang baiknya dia cerita atau membiarkan dua gadis baru gede itu menyelesaikan masalah keluarga mereka sendiri. Tapi karena ini Lina, Chen Zhang tidak mungkin diam saja. Karena ini Ling-Ling, maka aku peduli.


"Dewi sempat cerita-cerita ke aku sebelumnya. Sebelum bus kita berangkat ke Hong Kong, waktu kita mau hunting foto tadi pagi. Tapi serius, Ling. Kamu bisa klarifikasi ke Dewi setelah dengar ceritaku. ada baiknya kamu lebih percaya sama yang dia ceritain nanti."


"Aku pasti klarifikasi! Sekarang kasih tahu aku apa yang dia katakan ke kamu, Chen." Lina tidak sabar ingin mendengarkan.


Chen Zhang menarik napas sebelu memulai bercerita. Ketika Chen Zhang bercerita tentang apa yang diketahuinya dari Dewi, tentang persahabatan kedua ayahnya mereka, bisnis ayah Dewi dan ayah Lina, kejadian virus ND, sikap ayah Lina ke ayah Dewi, utang piutang, dan apa yang dirasakan Dewi hingga bersikap seperti itu kepada Lina. Wajah Lina berubah dari yang semulanya tampak mendengarkan dengan serius, kemudian alisnya mengkerut, lalu menutup mulutnya kaget, dan akhirnya nampak marah.


"Kurang ajar si Dewi! Itu nuduh namanya! Fitnah!" perkataan itu muncul dari mulut Lina dengan suara nyaris memekik. Dia tidak pernah menyangka alasan Dewasa bersikap seperti itu terhadapnya karena orangtuanya yang berniat mencelakai keluarga Dewi. Dia tak pernah sekalipun mengira Papanya dan Pak Yusmadi memiliki cerita seperti itu.


"Papaku bukan penipu! Bukan rentenir! Dan juga bukan orang yang menusuk sahabatnya dari belakang. Aku kenal skali Papaku, Chen Zhang. Nggak mungkin dia seperti itu. Justru aku yang nggak mengenal siapa itu Dewi. Dia tiba-tiba muncul begitu saja di hidupku, berusaha merusak liburanku! Dan sekarang dia menyebarkan berita seperti ini soal Papaku!"


Chen Zhang sudah mengira reaksi Lina akan seperti ini. "Cepat klarifikasi kalau kamu memang nggak tahu apa-apa. Aku yakin ini cuma salah paham aja."


"Aku akam klarifikasi sekaligus buat perhitungan sama dia karena udah menilai Papaku yang nggak-nggak selama ini. Juga atas sikapnya ke aku selama di sini. Pantas aja dia terus nyindirin aku kayak gitu. Tiap mau tahu soal peternakan dan aku nggak jawab, dia selalu bilang seakan-akan aku sok jaga rahasia lah, apalah. Aku bukan sok jaga rahasia perusahaan ya Chen Zhang, tapi aku..aku.." Lina berusaha menemukan kalimat yang tepat. "Pokoknya itu nggak seperti yang dia pikirin. Dasar cewek picik!"


"Tapi kamu memang nggak tertarik soal peternakan?" Chen Zhang berusaha menebak. Cowok itu memandang Lina seakan ingin membaca isi kepala gadis itu dan raut wajahnya. "Ya, kan?"


"Ya!" sahut Lina tanpa berpikir panjang. Kemudian Lina segera tersadar oleh ucapannya sendiri. "Dari mana kamu tahu?"