
"Kamu lupa ya sama dia? Dia itu anaknya Pak Yusmadi. Peternak yang dekat rumahmu juga" Lina berusaha mengingat-ingat. Dia cuma ingat Pak Yusmadi ialah pelanggan telur ayahnya.
***
"Nggak Ayi. Udah lama nggak ketemu Pak Yusmadi"
Sepertinya percakapan antara Lina, Dewi dan fenita di lobi diperhatikan beberapa orang.
"Dulu nggak sejudes itu kok"
"Sudahlah Ayi, jangan dipikirin. Rugi" Lina menyeka air mata kemudian keingat pesan Saras. Selama seminggu ini dia harus bersenang-senang, lupakan pikiran-pikiran yang berat!
"Halo Lina, Halo Jaya!" Lina dan Ayi Jaya menoleh, Ayi Viona muncul dari pintu kamar yang tertutup.
"Jam delapan kita mau ke Luo Hu. Belanja-belanji, ikut nggak?" ajak Ayi Viona semangat.
Kali ini Lina malas. Belanja tanpa ada teman sabayanya? Nggak asik banget.
"Nggak Ayi. Ling-Ling capek, mau dikamar aja" jawab Lina, dia menyelonjorkan kaki yang rasanya hampir copot di kasur.
Sebenernya dia mau belanja juga tapii...
Belanja sama nenek-nenek dengan suasana hati yang tidak baik begini? Apa yang mau di beli bareng nenek-nenek? Konde? Atau koyoanti rematik?
Tapi pada akhirnya Lina juga akan ikut, karena dia mau membeli koper untuk kebutuhannya.
***
"Dapet harga berapa Lin?" tanya Bu Heni ingin tahu.
"Tiga ratus."
Mata Mbak Gita mendelik mendengar jawaban Lina. "Seirus? Aahh, aku kemahalan!"
"Aku juga! Aduh Git, harusnya kita tawar lagi ya" Bu Heni tampak kecewa.
"Wah, tadi nggak mau bareng kita. Viona sudah beberapa kali kesini. Jadi dia udah tahu toko-toko yang bisa ditawar murah, kan sodaranya disini."
"Tante Heni, koper itu lebih tipis dari pada punya kita. Jadi wajar kalau lebih murah, koper kita tebal, plastiknya lebih bagus. Lebih awet" celetuk Dewi
"Sama aja kok, kamu apa mereknya?" mata Lina menyipit melihat label koper hijau limau milik Dewi "Ah, sama aja itu"
"Beda model!" sergah Dewi berkukuh.
"Yah, tapi tetep kejauhan sih harganya. Buat yang cuma beda roda doang" Lina tak mau kalah, puas sekali melihat si sombong itu akhirnya mendapat sial.
"Nggak apa-apa Wi, tiga ratusnya itung-itung buat amal. Semoga bisa jadi penggugur dosa kamu ya"
Dewi cemberut lalu menuruni tangga eskalator lebih dulu, meninggalkan yang lain. Rita mengikutinya dari belakang.
"Eh, Dewi mau kemana?" tanya Mbah Gita kaget, setengah berteriak ke Dewi yang menuruni anak tangga.
"Aku pulang dulu aja Mbak, mendadak mual-mual." Dewi lalu menatap wajah Rita dan berbicara dengan nada mendesis. "Ngajak ribut banget dia Rit, minta dicolok linggis."
Sudah pukul sepuluh malam saat mereka akhirnya selesai berbelanja di Luo Hu. Kaki Lina rasanya benar-benar mau putus. Sialnya, mendadak ditengah perjalanan menuju hotel hujan turun dengan derasnya.
Sesampainya dihotel, mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di lobi. Mas Yofan, Chen Zhang, dan Pak Kamto yang saat itu disana.
Lina dan Ayi Jaya sebagian basah kuyup dan sebagian kerepotan mendorong koper yang bagian bawahnya kotor kena lumpur. Rambut mereka acak-acakan dan air menetes dari ujung pakaian.
"Kalian baru pulang?" Chen Zhang langsung bangkit menghampiri Lina. "Dari mana aja Ling?"
"Aku baru dari Luo Hu, berbelanja koper" jawab Lina nyengir.
Selain jaket, celana Lina juga basah. Badannya menggigil.
"Kamu basah kuyup. Kamu bawa jaket berapa?"
"Satu sih"
"Aku tiga, besok aku bawain satunya buat kamu. Sana mandi air hangat, waktu kita masih panjang di China. Jaga kesehatan Ling, Oh ya, untung aku tadi bawa minyak angin. ini, hangan kalau dipakai. Pakai aja nggak papa"
Lina menerima botol kecil itu "Makasih Chen"
Seperti saran Chen Zhang, setelah mandi badannya langsung terasa ringan, apalagi setelah itu Lina mengoleskan minyak angin dari Chen Zhang ke seluruh tubuh. Badannya seketika langdung menghangat.
***
Gadis itu seakan menyatu dengan cahaya matahari pagi, memancarkan aura dari wajah polosnya yang tampak murung. Rambut lurusnya berkilau, menggoda lensa kamera Chen Zhang untuk tertuju kesana.
Untuk pertama kalinya, waktu yang singkat mencoba bermain dengan perasaannya. Dan kali ini Chen Zhang kalah dengan mudah.
"Ling-Ling!" gadis tersebut tersentak, dia memalingkan wajahnya ke sumber suara.
Sejak saat itu Chen Zhang tak bisa melepaskan sosok Ling-Ling dari penglihatannya.
China dan Ling-Ling adalah pasangan serasi dalam satu frame.
"Dia lagi?" Pak Kamto duduk disamping Chen Zhang.
"Jangan gerak Pak" Chen Zhang membidikkan lensa kamera ke arah Lina yang sedang mrngambil semangkuk sereal. "Ini lagi keren"
Klik.
Chen Zhang tersenyum mengamati hasil bidikannya, entah mengapa ekspresi natural gadis itu menghangatkan hatinya.
"Bos harus tahu apa yang didapatkan seorang Chen Zhang selama di China" Pak Kamto terkekeh. "Calon.. kenantu?"
"Dia masih delapan belas tahun"
"Kamu sudah 22 tahun"
"Baru 22 tahun" ralat Chen Zhang "Lina memang cantik ya kan Pak?"