
Saat jaraknya sudah cukup jauh dari Mamanya, Lina mengeluarkan ponsel kemudian jarinua sibuk mencari nama, Saras.
"Hallo Lin! Eh, gimana? Udah mau berangkat, Ya? Atau kamu udah sampai di Hong Kong?" Suara di serang penuh antusiasme dan riuh seperti biasa. "Jangan lupa oleh-olehnya, Ya! Kalau ada sesuatu yang berbau Disneyland Ya. Lin sama kaos juga ya hehe"
"Langsung nyamber aja. Bukannya doain biar selamat pulang, pergi. Sebentar lagi aku take off nih. Bose banget nunggu dari tadi."
"Kirain udah sampai sana. Kalau kamu ngomong nggak langsung ke intinya udah kena roaming banyak kita." Saras terkik geli. "Emang pesertanya nggak ada yang ganteng apa? Anak temen Papamu? Cari dong! Daripada mikirin Brian mulu, nggak penting tauk."
Lina memutar bola mata kesal. "Siapa juga yang mikirin dia? Itu asumsi kamu aja deh, aku disana mau seneng-seneng. Jadi, nggak ada waktu buat mikirin yang nggak penting buat dipikirin."
"Bener! Pokoknya kamu harus seneng-seneng di sana. Nikmatin aja liburanmu seminggu penuh. Lupakan masalah-masalah yang nggak penting, sejak sebelum UN memang aura di sekelilingmu itu suram deh Lin, kayak orang orang kurang liburan. Jangan sampe stres ya disana! Seneng itu wajib oke!?" Saras berkata panjang lebar merasa sudah menyamaikan hal yang tepat dan penting.
"Iya Nenek... cerewet banget deh"
"Peserta Samko Tour, ayo berkumpul sebentar lagi kita akan berangkat!" Fenita tampak mengibar-ngibarkan bendera merah yang tak jauh dari tempat Lina berdiri, Beberapa orang merapat sesuai instruksi.
"Eh Sar, udah dulu ya, nanti aku hubungin lagi. Bye!"
"Oke,"
Klik.
Betul kata Saras, Lupakan pikiran-pikiran yang berat. Kapan lagi bisa liburan ke Hong Kong seminggu? Harus di nikmatin dan jangan sampai nggak bahagia! YEAH. HONG KONG, HERE WE GO!!
Lina merapat ke Fenita dengan langkah lebih ringan dari pada sebelumnya.
"Ling-Ling, jangan lupa alamat pesenan Mbah Putri dicari ya!" kata Papanya sebelum Lina masuk untuk check-in bersama rombongan tour yang lain.
"Ya, Pa. Semoga ketemu ya!" Lina melambaikan tangan sambil berjalan. Dalam hati sebetulnya dia tidak begitu yakin bisa menemukan alamat yang di berikan neneknya itu.
Tangan Lina meraba saku celana, tempat secarik kertas bertuliskan alamat yang tidak di kenalnya tersimpan rapi. Lina membuka kertas yang sudah mulai lusuh itu, tampak tulisan tangan Neneknya yang besar-besar dan tak rata karena tangannya yang renta dan bergetar. Neneknya memberi alamat iyu sehari sebelum Lina berangkat ke Juanda.
C-Hong Kong!.
Di mana ini? Satu pertanyaan muncul di benak Lina.
***
Perjalanan dari Surabaya menuju Hong Kong memakan waktu kurang lebih empat jam tanpa transit menggunakan Cathay Pacific. Jarak tempuh yang panjang ini terasa sangat menyenangkan karena di setiap kursi penumpang ada layar kecil yang menyenangkan beragam acara. Mulai dari kartun, reality show, musik, sampai kuis, dan bisa di ganti sesuka hati.
Lina beberapa kali mengganti channel sampai menemukan yang pas untuk di nikmati sepanjang perjalanan. Full Album* adelle rasanya cocok. Gadis itu lalu memasang handphone* di telinga dan memejamkan mata. Kursi penumpang di sisinya kosong sehingga tak ada teman mengobrol. Sayang sekali penumpang itu membatalkan perjalanan ke Hong Kong. Padahal pesawat ini sangat nyaman. Para pramugari juga tak berhenti berkeliling untuk menambahkan minuman penumpang yang habis.
"Do you want some coffe, tea, or juice?" tanya pramugari yang lewat di kursi lina, untuk yang ketiga kalinya.
"Apple juice, please, Miss Wang" kata Lina sambil menyodorkan gelas plstiknya yang sudah kosong. Dari emblem nama yang tertempel di dada, Lina tahu pramugari ini bernama Joyce Wang.
Kebanyakan penduduk China memang memunyai dua nama, satu nama Barat dan satu nama Mandarin. Contohnya, Jackie Chan. Jackie merupakan nama Baratnya sedangkan Chan marganya. Nama Mandarinnya Chen Lung. Warga China sendiri lebih mengenal Jackie Chan sebagai Chen Lung.
Tionghoa merupakan sebutan untuk etnis keturunan China yang tinggal di Indonesia. Berasal dari Kata zonghua yang dilafalkan dalam dialek Hokkian menjadi Chung Hua dan mengalami akulturasi budaya di Indonesia sehingga dilafalkan menjadi Tionghoa. Hokkian adalah salah satu daerah di Provinsi Fujian bagian China selatan yang penduduknya vanyak menjadi perantau di berbagai Indonesia. Terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ada juga yang menyebut Tionghoa berasal dari nama sekolah yang di dirikan sekelompok warga China pada zaman Hindia Belanda agar keturunannya tetap bisa mempelajari bahasa dan budayanya. Nama sekolah itu Tjung Hwa Hwei Kwan yang bila dilafalkan di Indonesia menjadi Tionghoa Hwe Kwan dan kini disebutnya.
Pukul senengah tiga siang waktu setemoat rombongan Samko Tour tiba di Hong Kong International Airport. Lina tersenyum. Ini pertama kali dia jadi turis! Jalan-jalan ke luar negeri, tapi sebetulnya bukan turis murni juga sih. Lina kan memang keturunan Tionghoa. Karena lahir dan besar di Surabaya dia lebih fasih berbahasa Jawa dan Indonesia. Lina malah sama sekali tidak mengerti bahasa persatuan asal neneknya itu. Tidak seperti Ayi Jaya yang masih mengunjungi saudara-saudaranya di Hong Kong beberapa tahun sekali, jadi masih fasih menggunakan bahasa Mandarin.
"Selamat datang di tempat sebagian gen kamu berasal, Ling" kata Ayi Jaya. Jalannya nyaris tertatih-tatih tapi tetap lincah seperti bola bekel. Di belakangnya ada Ayi Marcella dan Ayi Viona.
"Ya Ayi, ini pertama kali aku ketempat asal Mbah Putri. Jadi nggak tahu apa-apa" Lina meringis. Dia memanggil neneknya dengan sebutan Mbah Putri. Neneknya sendiri memang lebih suka dipanggil Mbah Putri daripada A Ma entah kenapa.
"Kamu harus mulai kenal budaya di China. Siapa tahu jodohmu orang sini" seloroh Ayi Viona.
"Jangan dengerin omongan Viona. Sekolah yang tinggi dulu baru kamu mikirin jodoh" Ayi Marcella menimpali, tampak tidak menyetujui gagasan Ayi Viona.