
"Asal kamu jangan ngulangin lagi." Lina mengacungkan jari kelingkingnya. "Deal?"
Chen Zhang mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Lina. "Deal."
***
Chen Zhang benar, liburan yang tinggal sebentar lagi masa harus ditutup dengan jengkel pada orang lain? Penutupan yang sangat nggak mengesankan, padahal sejauh ini tour ini sudah berjalan dengan sempurna. Ya, kecuali bagian Dewi sih. Lupakan aja lah, semoga Chen Zhang bener-bener lupa apa yang uda di baca.
Ponsel Lina tiba-tiba berdering. Lina mengecek layar ponselnya dan setelah tahu siapa yang menelepon Brian, wajah Lina langsung berubah malas. Dia menekan tombol reject. Tapi Brian tidak menyerah, cowok itu terua menelepon. Lina akhirnya mengangkat telepon malas-malasan. Cowok itu selalu berhasil merusak momen-momen baik dalam hidupnya!
"Kenapa sih?" tanya Lina malas.
"Ling?"
"Lina!" kata Lina ketus. Brian ini sudah tidak pantas memanggilnya demikian. "Ngapain?"
"Kamu.. kapan pulang ke Indonesia?"
"Nggak tahu, ada apa? Bukan urusanmu juga!"
"Bu-bukan. Aku cuma mau jemput kamu nanti di Juanda. Aku ingin bicara sesuatu." suara Brian terdengar pasrah. Picisan. Menyedihkan. Dan nggak jantan.
"Nggak perlu. Aku udah di jemput supir." jawab Lina tegas.
"Ling! Aku menyesal udah ngeduain kamu sama Dita. Aku benar-benar nyesel. Setelah dijalani, ternyata selama ini kamu yang paling baik buat aku Ling. Dita nggak lebih dari cewek matre yang mau kenguasai aku. Aku benar-benar menyesal. Apa kamu mau maafin aku?"
Lina mengertakkan giginya. "Apa aku harus sakit hati dulu buat bikin kamu sadar? Aku bukan bahan percobaan, Bri. Maaf. Aku udah nggak bisa. Nggak ada gunanya lagi kamu telepon, itu nggak mengubah keputusan apa pun." Lina menutup teleponnya dan segera memencet tanda off. Dia tidak ingin diganggu Brian. Cukup sudah baginya.
Lina menoleh kemudian tersadar masih ada Chen Zhang di belakangnya. Sudah pasti cowok itu mendengar semua pembicaraannya. Lina langsung merasa bodoh sekaligus menyesal Chen Zhang harus mengetahui soal ini sekarang.
"Aku lihat beberapa kali kamu keliatan kesel kalau menerima telepon." Chen Zhang melanjutkan kalimatnya. "Kalau kamu mau cerita sih, aku nggak keberatan buat dengerin."
"Mantan pacar aku." Lina menyimpan ponselnya. Sejujurnya benar-benar malas untuk membahas topik ini.
"Dulu dia ngeduain aku sama temen satu kelasku. Sekarang dia menyesal, dia minta balikan lagi kembali seperti semula."
"Terus..kamu nerima nggak?" Chen Zhang merasa perutnya mendadak kaku. Perasaannya langsunh tidak nyaman. Posisinya terancam.
"Nggak lah"
Satu bongkahan es batu mencair ke perutnya. Chen Zhang sedikit mengundurkan otot-otot wajahnya, napasnya tak lagi berat. "Eemm, kalau boleh tau kenapa Ling?"
"Kenapa kamu mau tahu?" tanya Lina heran. Betulan heran. Chen Zhang menanyakan pertanyaan simpel itu dengan raut wajah tegang. tidak perlu seserius itu pun sejak awal Lina sudah niat bercerita. Walaupun malas mengungkit hal ini, entah kenapa Lina merasa perlu menjelaskannya pada Chen Zhang."
"Emm," Chen Zhang memikirkan jawaban yang tepat. "Supaya tahu apa yang perlu dilakukan dan yang nggak boleh di lakukan. Belajar dari pengalaman orang..yang nggak beruntung."
"Karena dia pembong." jawab Lina sambil menatap Chen Zhang lekat-lekat.
"Dia sudah membohongi aku. Aku nggak suka di khianati. Nah, kamu harus tahu Chen, kalau cewek itu nggak suka dibohongi. Beberapa mungkin cukup sabar untuk memaafkan, tapi kalau aku? Aku tipe orang yang benci pembohong. Bener-bener nggak suka. Walaupun orang itu cuma berbohong sedikit saja, aku tetep nggak suka oleh pembohong."
Mulut Chen Zhang sedikit ternganga. Ada percikan api dalam hatinya saat Lina mengatakan itu, sepertinya gadis ini tidak main-main. Chen Zhang menelan ludah, dadanya tidak nyaman. Dia pun bukan orang yang terbuka pada Lina, tapi dia punya alasan. Mendadak dia terpaksa harus mengakui, perkataan Dewi tadi pagi benar, bahwa cewek nggak suka dibohongi."