
"Kenapa kamu nangis? Bukannya udah lama kamu mau berhadap-hadapan sama aku? Sekarang aku udah nyamperin kamu di kamar kamu, sendirian, dengan senang hati, tapi kamu malah nangis?! Ngomong sini! Apa yang kamu pikirkan tentang aku dan keluargaku? Ngomong aja sekarang. Jangan cengeng!
Gertakan Lina tidak berhasil, Dewi justru meninggikan suara isakannya. Bahunya naik turun, Lina menunggu beberapa saat sampai Dewi tenang tapi tangisnya tak kunjung reda. Lina berdecak. Tangisan Dewi sama sekali tidak berpengaruh, dia justru muak mendengarnya.
"Kita bisa ketemu nanti di Indonesia setelah acara ini selesai. Masing-masing keluarga kita harus tahu kalau ada masalah yang belum clear." Lina melanjutkan kalimatnya. "Dan sekedar informasi, aku nggak suka ikut campur urusan papaku kecuali papaku yang minta. Jadi kamu salah udah menyangka aku tahu semua yang kamu maksud dan segala sindiran kamu. Aku nggak tahu maksud kamu masalah yang mana, tapi aku ke sini untuk menekankan bahwa aku nggak suka caramu menghina papaku di belakang kami! Apa pun masalahmu dan keluargamu dengan keluargaku, aku nggak keberatan untuk segera diselesaikan. Tetapi bukan pakai cara pengecut kayak begini! Aku yakin kamu nggak tahu apa-apa soal kami!"
"Ya." akhirnya Dewi membuka suara. Dia menyeka air mata. "Aku memang nggak tahu apa-apa soal keluargamu."
"Then why did you do this to me?!" Lina kembali menjadi sangat kesal. Dia sama sekali nggak nyangka setelah dia sendiri yang datang ke Dewi, gadis culas yang selama ini tampak menakutkan itu justru nangis terisak-isak seperti anak pindahan yang kena bullying di sekolah baru. Lina mengharapkan Dewi malam ini akan meledak dan ganti maki-memakinya. Itu yang sangat dia nantikan karena dengan begitu dia bisa menonjok wajah Dewi sampai puas.
Malam ini dia membutuhkan pelampiasan. "Kenapa, Wi?! Kamu nggak mau jawab? Kamu pikir kamu doang yang mampu mempertahankan harga diri keluarga, hah?"
Dewi makin terisak. "Aku nggak tahu kalau selama ini...kalau selama ini.." Suara Dewi kemudian menghilang di telan isakannya sendiri.
"Jelas kamu nggak tahu!" kata Lina tidak sabar, kini dia memandang Dewi dengan tatapan kesal. "Seenaknya aja kamu buat orang marah begitu di samperin kamu justru nangis-nangis!"
Rita langsung memeluk Dewi yang mendadak menjadi mengamuk tidak jelas. Lina berdiri mengamati pemandangan, dahinya berkerut menautkan alis. Tak berniat membalas lemparan bantal Dewi yang mengenai wajahnya.
Dewi ini kelakuannya seperti orang sakit jiwa. Sebentar-sebentar judes, sebentar-sebentar nangis, tiba-tiba brutal. Sepertinya harapan Lina untuk mendapatkan pelampiasan malam ini gagal. Dewi benar-benar kelihatan terguncang. Dasar cewek judes bermental lemah!
"Rapuh amat." desis Lina kejam.
"Lin, pergi aja. Anggep aja udah selesai. Sekarang udah malam, lebih baik kita sama-sama istirahat dan mendinginkan kepala." Rita menengahi. Dia masih memeluk Dewi yang kini terisak-isak. "Sabar, Wi.. sabar."
"Nggak, ini belum selesai. Setelah tour ini, aku sekeluarga bakal datang ke rumah kamu ya, Wi. Kedatanganku malam ini untuk menegaskam, aku nggak akan main-main sama orang yang mencemarkn nama baik papaku. Kita bakal ketemu lagi di Indonesia." Lina berjalan menuju pintu. Namun sesaat sebelum menuntunya, dia berbalik dan menatap Dewi sekali lagi. "Kamu juga ada masalah sama diri kamu sendiri!"
Lina membanting pintu hotel itu tanpa peduli akibatnya. Dia sama sekali tidak menyangka, Dewi akan bereaksi seperti itu.
Tapi Lina tak mau ambil pusing. Satu masalah sudah selesai dia babat. Perasaannya lebih lega sekarang. Tidak ada yang boleh menyakiti hati keluarganya!