
Sebuah suara terdengar dari samping Chen Zhang. Lina menoleh ke asal suara dan langsung memasang wajah malas. Dewi sudah berdiri dengan congkaknya, kacamata hitamnya lagi-lagi di letakkan di kepala, menahan rambut panjangnya dengan penuh gaya. Sok sosialita! batin Lina. Di samping Dewi dan Rita yang lebih cocok di sebut ajudan dari pada teman. Kerjanya cuma jadi buntut, kemana-mana selalu ikut.
***
"Kalian mau duduk di mana? Aku juga belum dapet tempat duduk nih."
Chen Zhang yakin, ada sesuatu yang sudah di rencanakan Dewi. Chen Zhang lalu berkata pelan agar Lina yang berdiri di sampingnya tidak mendengar. "Wi, please. Ini waktunya makan."
Dewi tertawa sinis dan berkata dengan nada pelan juga. "So know their story, not only their name please."
"Ayo Dewi, Rita, Chen, dan Lina. Ada empat kursi kosong di sini." Pak Kamto melambaikan tangan dari meja bundar kedua.
"Ayo, Ling." Chen Zhang menggapit lengan Lina. Lina ogah-ogahan mengikuti Chen Zhang, dia harus duduk di dekat Dewi dan Rita lagi dan tentu saja itu bukan hal yang menyenangkan. Di samping Chen Zhang, Dewi tampak berjalan sambil bersenandung.
"Halo, Tante-tante." sapa Dewi. Masih dengan keceriaan yang dibuat-buat. Meja itu sudah terisi Ayi Jaya, Ayi Viona, dan Ayi Marcella. Juga Pak Kamto dan Bu Heni. "Kita satu meja lagi."
"Halo Dewi, ayo gabung sama kita." kata Ayi Viona sambil membetulkan letak syalnya. Usianya yang sudah memasuki masa senja membuatnya cepat kedinginan.
Dewi sengaja mengambil tempat duduk persis di depan Lina. Lagi-lagi Lina menangkap tatapan mata penuh kelicikan.
Kenapa nenek lampir ini harus satu meja di sini? batin Lina kesal. Nenek lampir labil, Belum kenal udah ngajakin musuhan!
Tak berapa lama makanan mereka pun datang. Lina harus memaksa diri menerima saran Chen Zhang mencoba tumis ubur-ubur untuk makan malamnya kali ini, walaupun selera makan gadis itu sudah menguap entah kemana sejak dirinya harus duduk semeja dengan Dewi si jutek dan Rita si gadis kurus dan penuh aksesoris.
"Bagaimana usaha Tante? Lancar?" Dewi membuka percakapan.
"Lancar juga, Tante. Utang udah beres sih ya, jadi sudah nggak terjerat rentenir lagi." jawab Dewi sambil menatap ke arah Lina.
Chen Zhang memutar bola mata. Seperti dugaan Chen Zhang, Dewi akan memulai aksinya. Lina yang duduk di samping Chen Zhang pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Dewi. Lagi pula, Lina sama sekali tidak mau peduli.
"Kamu bener Chen, ubur-ubur ini enak." kata Lina pada Chen Zhang.
"Kamu masih usaha ayam petelur juga kan, Wi?" tanya Pak Kamto.
"Masih walaupun banyak cobaannya."
"Namanya juga usaha, Wi. Pasti ada pasang surutnya." sahut Bu Heni. Kukunya hari ini diwarnai merah seperti warna lipstiknya. Dia mengambil sepotong sayap burung dara goreng.
"Usaha kami juga begitu. Kemarin sempat kena virus Avian Infulenza. Habislah itu tujuh ribu ayam muda. Baru juga produksi, model gedein ayam itu belum balik, udah harus habis. Cuma percaya aja, rejeki nggak akan tertukar."
"Pasang surut usaha emang udah biasa ya, Tante. Apalagi cobaan, pasti dateng silih berganti." timpal Dewi tenang.
"Ya, begitu hukumnya pasti kalau kayak gitu." kata Ayi Marcella.
"Apalagi kalau cobaannya dari orang yang di anggep dekat!" sahut Dewi, matanya langsung menatap Lina.
Lina menghentikan kunyahannya dan mengangkat alisnya. "Kenapa liat-liat?"