
Lina membanting pintu hotel itu tanpa peduli akibatnya. Dia sama sekali tidak menyangka, Dewi akan bereaksi itu. Tapi Lina tak mau ambil pusing. Satu masalah sudah selesai dia babat. Perasaannya lebih lega sekarang. Tidak ada yang boleh menyakiti hati keluarganya!
***
Setelah pergi ke kamar Dewi semalam, Lina kembali tidak bisa tidur. Lebih banyak hal berkecamuk dalam pikirannya. Gadis itu terjaga sampai pagi, duduk di kursi kamar yang menghadap ke jendela sambil memeluk lutut.
Permasalahannya dengan Dewi semalam membuat Lina mengerti satu hal. Ternyata selama ini dirinya tak tahu banyak tentang keluarganya sendiri, tak tahu apa yang pernah keluarganya alami.
Mungkin Dewi memang gadis culas, tapi gadis itu mengerti dan peduli dengan apa yang terjadi pada keluarganya. Apa yang Dewi lakukan selama ini memang sangat tidak menyenangkan dan Lina tidak membenarkan caranya membalas dendam. Tapi yang Dewi lakukan itu wujud dari kepedulian terhadap apa yang menimpa ayahnya.
Sementara, Lina tak tahu apa yang sebenarnya di alami orangtuanya saat ini, apa yang orangtuanya hadapi sekarang ini, apa yang mereka pikirkan selama ini. Bahagiakah dengan kawan-kawannya? Puaskah dengan pekerjaannya? Lancarkah usaha mereka?
Selama ini Lina terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal orangtuanya hanya punya satu anak, dirinya. Meskipun sama-sama tunggal, bila ingin di bandingkan, Dewi menang atas dirinya. Dewi membalas orang yang menyakiti keluarganya.
Lina memang selama ini ramah kepada semua orang, tapi itu karena dia tidak tahu apa-apa.
Masih ada dua malam lagi di Hong Kong tapi Lina merasa liburannya sudah benar-benar berakhir. Selain masalah dengan Dewi dan keluarganya, hubungannya dengan Chen Zhang turut memburuk.
Sebetulnya bukan salah Chen Zhang karena tahu soal buku catatannya, semua itu sebenarnya masalahnya sendiri. Chen Zhang tidak tahu soal mimpinya, tentang alasan mengapa sampai sekarang Lina tak mengizinkan satu orang pun membaca buku catatannya. Chen Zhang cuma tidak sengaja membaca dan cowok itu ikut terseret pada masalah Lina dengan dirinya sendiri.
Lina menghela napas panjang. Wajahnya terbenam di antara lengannya yang memeluk lutut. Lina ingin segera pulang. Tour ini tidak sesuai dengan harapannya. Rasanya lebih baik dia tidak pernah berangkat. Semuanya sekarang tampak menyedihkan. Bahkan hidupnya terasa lebih buruk dari sebelum berangkat.
"Kamu masih di situ, Ling?" Ayi Jaya keluar dari kamar mandi.
"Ayi sudah bangun?" Lina tersentak kaget dan mendongak. Seingatnya Ayi Jaya masih tertidur pulas. Tapi Lina akhirnya tersadar, sinar matahari yang lembut sudah menyusup melewati tirai tipis kamar hotel mereka. Lina tidak tahu sudah berapa lama dirinya duduk meringkuk di dekat jendela. Pikirannya terlalu berkecamuk.
"Udah mandi malah." Ayi Jaya kemudian duduk di kursi di depan Lina. "Kenapa kamu Ling? Ada yang kamu pikirkan?"
"Nggak ada kok Ayi." Lina terburu-buru menggeleng.
"Kamu nggak bisa membohongi nenek-nenek kayak aku Ling." Ayi Jaya terkekeh. "Aku itu udah pengalaman ngadepin anak seumuran kamu dua kali, anakku dan cucuku. Aku sudah tahu dari mukamu aja kamu sedang ada masalah. Semalaman kamu nggak tidur, kan?"
"Aku emang nggak bisa tidur nyenyak kalau malam, kayaknya emang penyakit. Beberapa kali aku kebangun dan liat kamu masih di situ-situ aja. Sampai pagi juga masih di situ. Kamu sampai nggak sadar kalau aku udah bangun dan mandi."
"Ya, Yi. Memang semalaman nggak bisa tidur." Lina mengaku. "Pengen cepet-cepet pulang aja."
"Kenapa Ling?"
Lina menghela napas, menimang-nimang antara cerita atau tidak. "Ayi pernah nggak ngerasa kepaksa menjalani hidup?"
Ayi Jaya mengernyit. "Kepaksa gimana maksudmu?"
"Ya, apa yang Ayi pingin sama yang Ayi dapatkan nggak sama."
"Kalau aku pingin sesuatu terus nggak kesampaian itu ya pernah, pasti. Semua orang nggak selalu bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi nggak bikin aku kepaksa menjalani hidup, Ling. Yang aku dapatkan sama yang hilang itu lebih besar sama yang aku dapatkan kok, yang pentibg di syukuri aja. Malah justru semakin nikmat dan nggak pernah merasa kekurangan."
Lina mendengar nasihat klasik seperti ini ratusan kali sebelumnya, tapi dia tidak tahu dari mana harus mempercayai nasihat klise itu. Lina kadang bertanya, apa ya masalah ini cuma berhenti pada "Bersyukur."
"Kadang mau kadi idealis tapi kepentok sama realitas ya, Yi." Lina mengembuskan napas, pasrah.
"Ya, nggak!" Ayi Jaya langsung menyanggah. "Justru idealis sama realis itu jadi satu, Ling. Nggak di pisah-pisah. Itu namanya mimpi. Bercita-citalah setinggi langit, seidealis mungkin. Terus buat jadi realitas. Wujudkan mimpimu! Nggak ada orang besar yang mikir realistis, semua berpegang teguh sama idealisme mereka. Pada prosesnya memang nggak gampang, nggak instan, tapi Tuhan nggak mungkin tinggal diam lihat hambanya berusaha. Hasil yang hebat itu memang butuh waktu Ling."
Lina memandang wajah Ayi Jaya yang tengah berbicara. Masih terselip rasa tak percaya bahwa ucapan Ayi Jaya itu bisa terwujud. Rasanya tidak terdengar semudah itu. "Masa iya, Ayi?"
"Aku ini hidup lebih lama puluhan tahun dari pada kamu."
"Kalau terlalu idealis tapi nggak tercapai idealismenya, nanti kita malah nggak bisa nerima realistis, Yi. Gila deh nanti." Lina mengembuskan napas lagi.
"Gila itu cuma buat orang-orang yang lemah." Ayi Jaya terkekeh. "Masa mau gila gara-gara nggak tercapai mimpinya? Masa kamu selemah itu? Kamu memangnya sudah berencana buat jadi gila ya kalau nggak kesampaian mimpinya?"