
Terima kasih, Papa. Sudah memberikanku pelajaran yang sangat berharga, Papa pahlawanku.
I am a princess not because I have a prince, but because my father is a king. Its you, Papa.
***
"Huaa! Akhirnya Juanda juga!" Pak Kamto merentangkan tangan. Lega tugasnya sudah selesai. Selama satu minggu penuh dia mengantar pelanggan setia pabriknya berkeliling Hong Kong. Dan itu sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Selain karena dia tidak cukup banyak uang untuk membeli barang-barang bagus, kelakuan pelanggannya yang haterogen juga butuh perhatian.
Keluarga Tanu yang masih ribet tampak masih kerepotan mengurus Caca. Balita itu tetap tidak mau diam, berlari ke sana ke mari, nyanyi-nyanyi, dan sering ngompol. Meski begitu Ibu Tanu tidak melewatkan sesi shopping. Terbukti kopernya beranak satu.
Kini Ibu Tanu, Mbak Gita, dan Bu Heni menyaingi Tiga Diva yang ke mana-mana selalu bertiga, apalagi kalau sedang belanja. Tiga wanita itu yang paling sering membuat jam tour molor. Ketika semua orang sudah masuk bus, mereka pasti masih sibuk menawar barang.
Sementara itu Chen Zhang, cowok tampan dan dewasa itu masih setia dengan kamera DSLR nya. Bawaannya tidak begitu banyak, tidak terlihat juga bertambah. Dia hanya membeli beberapa kaos selama di Macau untuk teman-temannya dan beberapa cendera mata.
Sedangkan Dewi, Rita dan Lina banyak bertukar cerita sepanjang perjalanan pulang. Sejak dari Hong Kong International Airport sampai Juanda, mereka banyak menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang, rasanya seperti ingin membayar seminggu penuh girls quality time yang harusnya mereka miliki selama liburan. Dari Dewi dan Rita, Lina jadi tahu toko-toko online shop berkualitas yang menjual barang up to date. Nggak heran penampilan Dewi dan Rita yang selalu kece.
Semua kembali ke Indonesia dengan hati senang. Lina sendiri yang semula cuma membawa dua koper jadi kerepotan karena banyak tas-tas plastik dan kardus yang harus dia tenteng. Apalagi barang-barang di dalam tas plastik itu tidak bisa masuk ke bagasi. Untung Dewi dan Rita mau membantu. Meskipun sangat repot, Lina sama sekali tidak keberatan kali ini. Barang-barang ini pasti akan membuat neneknya bahagia tak terkira. Lina jadi tidak sabar menunggu reaksi dari neneknya yang mendapat begitu banyak oleh-oleh dari keluarganya di Hong Kong.
Nada sambung terdengar, tapi tak di angkat. Lina mencoba sekali lagi, tetap tak di angkat. Ponsel mamanya, juga tak diangkat. Lina mencoba beberapa kali menelepon tapi tak ada yang mengangkat.
Lina menyerngit, ini sungguh aneh.
"Oh ya, Lin. Jadi yang tadi itu keluargamu? Yang ngasih kamu banyak tas plastik sama kardus ini?" Dewi bertanya ingin tahu. "Semuanya itu?"
Lina menoleh, ponselnya di masukkan ke saku celananya dengan kecewa. Dia berpikir akan ada penyambutan untuknya. "Ya, Wi. Aku juga baru ketemu mereka kemarin."
"Beneran selama ini kamu nggak tahu kalau punya keluarga di Hong Kong yang masih hidup? Sama sekali?" Rita masih tidak percaya dengan cerita Lina yang sudah dia dengarkan empat kali selama penerbangan kembali ke Surabaya.
"Serius, Rit. Mbah Putri pasti heboh banget deh kalau tahu asli. Untung ada Chen Zhang yang hafal banyak tempat Hong Kong, jadi waktu aku kebingungan nyari alamat itu, Chen Zhang dengan gampangnya nganter aku tanpa nyasar."
"Ya pasti dia tahu banyak tempat di Hong Kong, kan dia itu yang ngatur tour ini, Lin." Bu Heni yang ikut menimpali sembari mengambil koper, menimpali. Wanita itu berdiri tak jauh dari Rita sehingga percakapan tiga gadis muda tersebut terdengar jelas. "Udah sering kayaknya dia ke Hong Kong begitu. Ikut papanya mengatur tour begini. Berbakat dia, seperti ayahnya."
"Ini tour Jaya Raya? Kok di atur sama Chen Zhang?"