
Chen Zhang memasukkan tangannya ke saku celananya. "Dia bilang dia benci pembohong, Pak. Sekalinya di bohongi dia akan susah melupakan dan butuh waktu lama mengembalikan kepercayaannya.
***
"Tapi kamu kan sudah minta maaf, Chen."
"Bukan itu masalahnya, Pak. Masalahnya aku udah bikin dia terluka dan nggak percaya sama aku. Suatu saat aku bakal kembali, Pak. Aku bakal nemuin dia dan ungkapin perasaanku yang sejujurnya ke dia. Aku nggak takut sama hubungan jarak jauh, tapi status hubungan sepertinya menjadi terlalu egois untuk di paksakan sekarang. Dia masih terluka, dia masih kecewa sama aku. Aku nggak mau memaksa dia. Biarkan dia fokus kuliah dan mengejar mimpinya. Aku tahu dia akan berusaha keras untuk keluarganya." Chen Zhang menghela napas. Memandangi langit sore yang berwarna jingga. "Setelah itu, aku mau membuat Lina percaya kalau kebohonganku yang terakhir ke dia, aku akan mengobati luka dan kekecewaan hatinya. Aku merasa nggak pantas meminta sesuatu ke Lina setelah apa yang aku perbuat ke dia. Apalagi yang aku minta itu perasaannya. Dia bukan gadis centil dan matre seperti kebanyakannya, harusnya aku nggak perlu bohong sama dia. Bodoh banget ya, Pak."
"Kamu bener-bener jatuh cinta sama dia ya, Chen."
"Aku nggak akan meninggalkan dia, sampai dia sendiri yang bilang aku harus pergi." jawab Chen Zhang yakin.
"Kamu nggak takut nanti ada orang lain yang nyamber Lina? Lina kan manis, cantik pula." tanya Pak Kamto lagi.
"Aku besok mau ke Munich nih! Bikin aku tenang dong, Pak?" Chen Zhang menatap Pak Kamto jengkel. Pak Kamto cengengesan. Chen Zhang lalu melempar kerikil sekali lagi ke danau. "Apapun yang terjadi nantinya, aku bakal kembali untuk menemui Lina."
***
Mimpi itu tentang perjuangan, cerita, dan cinta. Manusia memiliki mimpi yang beragam. Hanya orang yang tegar yang akan mendapatkan mimpi, idealisme, dan keteguhannya. Ada yang bilang idealisme sering terbentur dengan realitas. Idealisme tidak mungkin terwujud kalau realitas tidak mendukung. Karena itulah dunia memerlukan orang-orang yang bisa menyatukan idealisme dan realita. Ketika dua hal yang tampaknya berbeda itu menyatu, kita bisa menyebutnya mimpi yang akan menjadi kenyataan.
Seperti kata Ayi Jaya.
Lina sudah menjadi mahasiswi di fakultas peternakan terbaik di Indonesia, di salah satu perguruan tunggi favorit di Indonesia. Meninggalkan Surabaya, kandang Unggul Maju, dan orang-orang yang di cintainya, orang-orang yang menjadi alasannya ada disini. Demi mereka.
Dewi menjadi mahasiswi Kedokteran Hewan UGM dan sampai hari ini masih sering bertukar cerita dengan Lina lewat telepon. Tentang kehidupan kampus, teman-teman, mata kuliah sampai rencana liburan bersama ke Bali bareng Rita dan Saras.
Rita melankutkan studinya ke kedokteran gigi di UGM. Rasanya duo itu akan sulit terpisahkan sampai nenek-nenek. Mereka berdua juga berkenalan dengan Saras yang kini menjadi mahasiswi kedokteran gigi di UGM, sekelas dengan Rita. Mereka bertiga malah satu kos-an.
Dunia memang selebar daun kelor.
Dan Chen Zhang menjadi salah satu mahasiswa S2 di salah satu universitas di Munich. Dia beradaptasi dengan bahasa Jerman dengan cepat. Di sudut mejanya, terpasang fotonya dengan Lina di depan katedral St. Paul Ruins Macau, persis di samping foto keluarganya. Itu foto pertamanya bersama sang fajarnya, Lina. Foto-foto di sudut meja itu yang akan selalu mengingatkan Chen Zhang alasannya berjuang di Jerman. Foto-foto orang yang di cintainya, papanya, mamanya, adik-adiknya, dan tentu saja.. Lina Budiawan.
Lina melewati tahap demi tahap perkuliahan dengan baik, nilai-nilainya selalu memuaskan. Meskipun baru semester awal tapi dia sudah menjabat sebagai koordinator artikel di koran kampus. Baru-baru ini dosennya meminta bantuan Lina untuk menyelesaikan penyusunan buku karya ilmiah populer tentang sapi potong. Dosen tersebut memilih Lina karena mengakui kemampuan Lina di bidang tulis-menulis apalagi membuat narasi. Tidak ada skill yang tidak berguna.
"Linaaaa! Ada pakeeettt!" teman satu kosannya, Sissy, berteriak dari lantai satu.
Lina melongok dari atas melihat ke bawah. "Ya, suruh abangnya nunggu bentar!"
Lina segera mengenakan jaket dan sandal jepitnya. Akhir-akhir ini kiriman dari Mbah Putri semakin sering. Hampir seminggu dua kali selalu ada paket untuknya.
"Bukan kok, Teteh..." kurir yang masih muda itu membaca pengirim paket besar berwarna cokelat. "Ini dari Munich."
"Munich?!" mata Lina terbelalak.
"Dari Chen.. Chen..."
"Chen Zhang!" potong Lina. "Sini, Mas."
Setelah menandatangani resi dengan terburu-buru. Lina terperangah. Semua berisi foto darinya! Bahkan banyak foto yang di ambil ketika Lina tidak sadar, ketika dia menikmati pemandangan dari dalam bus, ketika dia tampak kebingungan di ketedral St. Paul Ruins, ketika dia tertawa bersama Ayi Jaya, ketika dia duduk melamun dengan pulpen di kening dan buku catatan di depannya, ketika dia sangat antusias memilih suvenir di Macau, bahkan ketika dia tertidur puas di bus. Semuanya. Dia bahkan tak sadar kapan foto-foto itu di ambil Chen Zhang.
Di halaman terakhir album itu, Lina menemukan ada sepucuk surat. Lina membuka kertas itu. Dalam hatinya, dia bertanya dari mana cowok itu mendapat alamatnya.
Aku akan kembali, Ling. Menemuimu.
Lina membaca kalimat singkat yang di tulis rapi itu dengan senyum bahagia. Dia ingin memeluk Chen sekarang juga. Merasakan aroma Bulgari Extreme nya, merasakan kehangatan tubuh Chen Zhang, dan melihat senyum cowok itu yang mendamaikan hati.
Kembalilah, Chen.. secepatnya.
***
Minggu pagi ini sangat cerah. Toko buku tampak ramai di padati pengunjung. Mulai dari yang tua, muda, tinggi, sampai yang pendek. Mulai dari yang hanya membeli pulpen, sekedar numpang baca komik, atau yang memang niat membeli buku. Semuanya tampak keluar masuk toko buku itu.
"Pak." seorang pramuniaga menghampiri supervisor toko buku itu. "Novel itu habis lagi. Saya sudah cek di stok toko kita yang lain juga sudah tidak ada, Pak. Padahal yang nyari banyak. Apa nggak sebaiknya kita segera hubungi bagian penerbit untuk cetak ulang, Pak?"
"Ya yah, sepertinya memang harus begitu. Kita out of stock terus. Biar saya hubungi pihak penerbit." jawab sang supervisor sambil mengetik judul dan nama penulis novel yang hendak di cetak ulang itu.
"Lina Budiawan, Shanghai Star."
Follow your dream, they will find their way.
*****
Trimakasih ya buat kalian semua yang sudah setia membaca cerita saya, saya sangat bersyukur banget ada yang mau membaca cerita saya:)
Saya juga sedang proses menjadi membuat 2 cerita loh, yukk mampir ke cerita saya yang berjudul Menyongsong Pasang dan Misteri Taman Berhantu trimakasih:)