
"Habis ini tinggal nunggu pengumuman SNMPTN jalur undangan. Nggak lama lagi kan pengumumannya? Semoga lolos! Lulus dan lolos"
***
Fio langsung teringat, beberapa minggu kedepan akan ada pengumuman lagi tentang lolos. Tidaknya mereka keperguruan tinggi negeri tanpa tes. Wajah Fio berubah masam. "Mending nggak usah bahas itu dulu. Tambah mules jadinya. Belum keruan juga dapet kampus, yang penting sekarang ini lulus dulu!"
"Kira-kira aku keterima nggak ya? " tanya Saras menerawang. Mendadak ada hal baru yang dicemaskan.
" Keterima Sar, Kamukan pinter" Fio membesarkan hati Saras. "Eh kamu kirim aplikasi SNMPTN ke Bogor ya, lin?"
Lina yang sedari tadi duduk di samping Saras sambil memperhatikan antusiasme di sekelilingnya dengan muram. Mengangkat alis seraya mengedikkan bahu sekilas. Tak tertarik. "Ya gitu deh"
"Semoga keterima. Pasti seneng banget orangtuamu!" ujar Fio. "Anak tunggal, cantik, pintar, masuk jurusan sesuai bidang keluarga pula."
" You're so lucky bastard" Saras mencibir, pura-pura kesal.
Fio terkekeh "Yes, she is."
Lina tersenyum tipis, Bagi Lina percakapan itu tidak membuatnya seantusias teman-temannya. Keadaan juga tidak seperti yang mereka gambarkan. Apanya yang menyenangkan kalau masuk fakultas yang bukan dia pilih sendiri sesuai dengan minatnya? Justru kalau tidak diterima, itu akan semakin baik untuk hidupnya. Dia tidak perlu terpaksa menjalani empat tahun sebagai mahasiswi jurusan bukan pilihannya. Tak perlu berpura-pura kuat dan meyakinkan diri bahwa dia akan sukses selalu dalam bidang yang sama sekali tidak diinginkannya tersebut.
Itu akan membuatnya dengan mudah tersesat di masa depannya nanti. I feel like dying. Lina bergidik ngeri.
"Eh Lin, Bogor kan jauh dari Surabaya. Bagus tuh, biar enggak ketemu sama yang mau ke UNAIR. Banyak yang daftar di sana, termasuk si itu tuh.. Bri.."
"Sshh!" potong Lina, selalu cemberut. "Aduh Fiiooo aku nggak mau denger namanya lagi!"
***
Terminal Keberangkatan Internasional Juanda, 2 Juni 2013.
Lina mengamati paspornya. Benda yang baru jadi kemaren lusa itu membuatnya bebas mengunjungi tempat-tempat baru di berbagai negara. Harusnya mendapat paspor adalah menjadi hal yang menyenangkan, apalagi Lina memang bercita-cita keliling dunia. Menyinggahi tempat baru, belajar hal baru, bertemu orang baru, dia melihat sesuatu dari sudut pandang baru juga.
Kini Lina mendapat kesempatan berlibur ke luar negeri dari orangtuanya untuk merayakan kelulusannya. Liburan ini harusnya menjadi kado terindah sebelum memasuki dunia kampus.
Tapi, Lina memang tak tertarik. Dia hanya duduk termenung di bangku hitam keras dan dingin di Juanda. Pikirannya mengembara.
Euforia kelulusan sudah lama berakhir bagi Lina. Ketika kepala sekolahnya Pak Aji Sudarmono, untuk mengumumkan bagi semua siswa lulus seratus persen. Gegap gempita langsung terdengar dari seluruh penjuru sekolah. Raut lega tergambar disetiap wajah siswa SMA Dharmawangsa. Mereka memekik kegirangan, mengucap syukur, dan bertepuk tangan riuh. Rasanya beban berat selama berbulan-bulan seketika menguap, hilang tak berbekas. Tapi saat itu Lina hanya bisa memandangi sahabat-sahabatnya dengan senyum tipis. Senyum kosong dan hampa.
Tak ada eurofa lain, seperti yang dialami Saras. Beberapa hari lalu, teman sebangkunya selama tiga tahun itu memberi kabar dia diterima di Fakultas Kedokteran Gigi UGM melalui SNMPTN jalur undangan.
Harusnya Lina juga merasakan kebanggaan karena ia juga di terima sebagai mahasiswi di IPB. Gadis itu lolos dengan mudah, seperti yang sudah diduga banyak orang duga.
Lina diterima melalui SNMPTN jalur undangan, dengan kata lain gadis itu termasuk murid pintar di sekolahnya, harusnya ia bangga dengan prestasinya.
Lina dan juga Saras tak perlu capek-capek menyiapkan ujian SNMPTN jalur undangan. Padahal ribuan murid seperti tiap hari berdoa supaya lolos SNMPTN jalur undangan seperti dirinya. Tapi kenyataannya hal itu tidak membuatnya gembira.
Satu minggu lalu orangtuanya dengan antusias membuka laptop.
"Ling-Ling, apa website-nya? Papa mau lihat pengumuman kamu nih! Hari ini kan?" Papa berseru dari depan laptop. Mamanya duduk dengan raut ingin tahu di samping sang papa.