
Di tengah kondisi carut-marut seperti itu, Lina tidak bisa menemukan papa dan mamanya. Yang dapat gadis itu lakukan saat ini adalah membantu orang-orang yang tinggal di sekitar Unggul Maju Farm untuk menyediakan air. Lina tak menghitung berapa ember berisi air yang berhasil dirinya angkat untuk di siramkan ke api. Gadis itu tidak memedulikan kedua telapak tangannya yang lecet karena terlalu sering mengangkat ember berat bergagang kawat.
***
Lina tak mampu bicara apa-apa lagi.
Lokasi yang terbakar itu satu dari dua lokasi yang di miliki Unggul Maju Farm. Sayangnya lokasi itulah yang terbesar dan berisi lebih dari setengah populasi ayam petelur Unggul Maju Farm.
"Ini bukan akhir dari segalanya, Ling." sebuah tangan menyentuh bahu Lina. "Masih ada satu kandang lagi."
"Papa." Lina menoleh ke sisi kanannya. Papanya tampak lelah karena semalaman tida tidur, tapi pria itu terlihat tegar. Senyum masih tersungging di wajahnya. Lina langsung memeluk papanya yang kelihatan lusuh. "Tapi gimana nasib lima puluh karyawan kita, Pa?"
"Mungkin sampai di sini Tuhan mengizinkan Papa menjadi perpanjangan rangan rejeki untuk keluarga mereka. Akan ada rejeki yang lebih baik di tempat lain, Ling."
Air mata Lina menetes. Di peluknya sang ayah erat-erat. Rasa kehilangan dan kekecewaan menjadi satu di benaknya. Tak pernah Lina sangka dia akan kehilangan kandang yang selama ini tak pernah di sangka, rasanya kehilangan kandang mereka. Tak pernah disangka, rasanya kehilangan kandang yang selama ini tak pernah dia pedulikan akan terasa begitu pedih dan menyakitkan. Sebagian dari dirinya seperti ikut menghilang. Bayangan wajah keluarganya di Mang Wui Man menambah deras air matanya.
Padahal Lina baru saja bertekad untuk menjadikan peternakan ini bagian hidupnya. Demi keluarganya.
"Istirahatlah, Ling. Temani mama. Mamamu kelihatan sangat lelah. Papa sudah bilang suruh tunggu aja di rumah, temani Mbah Putri, tapi mamamu nggak mau. Ayo kita pulang, Mbah Putri sendirian cuma sama Pak Bejo."
***
Menurut Hartono Budiawan, menetapi nasib hanyalah membuang-buang waktu. Mengapa kita harus memilih untuk diam, meratapi nasib, tanpa berbuat apa pun, padahal kita masih bisa bergerak, melakukan sesuatu dan kembali berlari?
Keluarga Lina sempat syok tapi dengan cepat kembali bangkit seperti semula. Itu semua berkat suntikan energi positif Pak Hartono yang tak mau lama-lama berduka.
"Ling, bantu papa cari beberapa senter! Kayaknya ada di gudang. Kita mau lembur bersihkan lokasi kebakaran malam ini." Ayahnya masuk ke rumah dengan wearpack yang masih melekat di tubuh.
Lina menoleh dari layar laptopnya dan menatap ayahnya bingung. "Lagi? Tapi ini kan hari minggu, pa."
"Ya, nggak baik buang-buang waktu." kata ayahnya lagi. Lina mengikuti ayahnya ke belakang rumah. Di pojok rumah mereka yang bergaya Jogja, ada satu ruangan yang jarang di buka. Tempat segala perkakas jarang terpakai di simpan, termasuk mainan masa kecilnya, dan beberapa barang tua milik ibunya.
"Papa taruh di mana senternya?" Lina membuka-buka tumpukan kardus di gudang itu. Debu dan bau pengap langsung menyeruak. "Uhuk, uhuk!"
"Jangan di hirup kalau debunya terbang!" ayahnya mengingatkan. "Nggak tahu, papa lupa taro di mana. Tapi seinget papa di sekitar sini kok. Papa sengaja stok senter banyak."