A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empat



Sebelum Lina sempat menjawab pertanyaan Mamanya, terdengar suara melengking dari kejauhan.


***


"Anita!"


"Saudara perempuan Papa, Jaya!" Mama Lina langsung bangkit dan menyalami wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan ceria. Wajah wanita paro baya itu sangat riang dan tampak masih energik walaupun sudah terlihat di wajah dan tangannya. Rambutnya yang keriting kecil-kecil mengembang, begitu pula senyumnya. "Ling, ini A Kou saudara perempuan Papa, Jaya. Sudah lama kamu nggak ketemu"


"Ini Ling-Ling ya, Ta? Wah, sudah besar!"


"Apa kabar, A Ma?" Lina mengulurkan tangan. "Jangan panggil A Ma, kayak tua sekali. Panggil Ayi saja, anggap saja tante sendiri," katanya sambil terkekeh dan menjabat tangan Lina.


"Aku memanggil A Kou tapi anakku manggil Ayi?" Mama terkekeh.


"Nggak apa-apa lah, apapun panggilannya yang jelas semua saudaraku. Aku kan juga udah lama kenal Hartono, sejak dia masih kecil malah!" Ayi Jaya mengibaskan tangan. "Ling-Ling katanya masuk ke Fakultas Peternakan ya? Pas banget! Apa dia juga rajin ke kandang sepertimu, Ta?"


Pertanyaan itu menusuk hati Lina. Fakultas Peternakan Kandang... Apa yang pas? Malahan peternakan dan cita-citanya menjadi novelis itu jauh!


Lina tersenyum kecut. Rupanya berita ini menyebar dengan cepat.


"Oh gitu" Ayi Jaya mengangguk-angguk. "Eh, bagaimana usahamu? Katanya mau tambah ternak bebek?" tanya Ayi Jaya sambil membetulkan syal hitam-putihnya. Udara sepagi ini terlalu dingin baginya yang sudah menua.


"Masih rencana kok. A Kou nih yang sudah sukses sama ternak bebeknya"


"Sebentar ya, Lina mau telepon Saras dulu" Potong Lina.


"Jangan jauh-jauh ya, sebentar lagi berangkat!" Lina segera berbaik, melangkah menjauhi Mamanya dan Ayi Jaya. Menyelamatkan diri dari percakapan yang tidak menarik minatnya. Kandang, ayam, bebek... Lina mendengus.


Peserta tour wisata ke Hong Kong selama satu minggu itu merupakan para peternak unggas mitra bisnis pabrik pakan Jaya Raya, seperti Papa Lina. Pabrik pakan tersebut memang terkenal royal terhadap pelanggannya karena hampir tiap tahun mengadakan tour wisata ke luar negeri gratis. Total setiap rombongan hampir lima belas orang setiap tahun untuk setiap negara. Rata-rata mereka juga temen bisnis Papa Lina. Tak heran kalau gadis itu sudah mengenali beberapa peserta tour.


Wajah mereka tak asing lagi. Seperti Ayi Jaya, Ayi Viona, dan Ayi Marcella. Lina jadi memanggil mereka dengan (Ayi-nenek) karena Ayi Jaya yang menolak di panggil A Ma. Padahal mereka bertiga seumuran. Ketiga Ayi itu teman bisnis Papanya yang sudah Lina kenal sejak kecil. Tapi dia tak pernah bertemu mereka lagi beberapa tahun terakhir, wajah mereka sudah di hiasi kerutan yang makin tegas.


Di depan para peserta tour nama baik itu sangat penting untuk di jaga. Apalagi ini pertama kalinya Lina ikut, menggantikan Papa yang tidak bisa ikut karna alasan kesehatan. Papanya memang sering pusing karena tekanan darah tinggi. Karena menjaga nama baik sangat penting, sejak tadi Mamanya berusaha sebaik mungkin menampilkan image baik keluarganya di depan Ayi Jaya. Meskipun Lina hampir tidak pernah di kandang, Mamanya memberi kesan seakan Lina butuh istirahat.


Jangan bilang selama ikut tour nanti bahasannya cuma seputar ternak dan pekan ayam? Duh! Jadi males. Papa nih politik. Pasti ada udang di balik batu, Apanya yang nggak enak badan, buktinya Papa segar bugar nganterin aku sampai Juanda. Pasti ini akal-akalan Papa supaya aku lebih kenal dunia ternak, dan berbaur sama para peternak itu selama seminggu. Pokoknya aku berangkat buat liburan seneng-seneng! Nggak ada waktu untuk bicara bisnis atau memperdalam ilmu ternak, meskipun langsung sama yang berpengalaman. Aku cuma mau hepi-hepi. Titik! Lina membatin, defensif.


Saat jaraknya sudah cukup jauh dari Mamahnya, Lina mengeluarkan ponsel kemudian jarinya sibuk mempersiapkan mencari nama, Saras.